Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 53 EMHD



Albert sedang berada di sebuah ruangan kepala Rumah Sakit untuk urusan bisnis alat-alat kesehatan yang ia urusi. Di depannya adalah Omar sang pimpinan rumah sakit ini sedang sibuk menerima panggilan telepon dalam kondisi hati yang buruk. Beberapa kali ia mendengar pria itu mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar karena sedang emosi.


Albert memandang wajah Omar dengan pandangan iba. Setelah melakukan panggilan telepon Pria itu kembali duduk di kursinya sembari meraup wajahnya kasar. Albert yakin kakak kandung Aisyah itu pasti sedang berada dalam masalah yang besar.


"Maafkan saya tuan Albert karena anda sudah menyaksikan saya dalam kondisi yang sangat buruk saat ini." ujar Omar kemudian berusaha menampilkan wajah yang sedang baik-baik saja.


"Ada apa tuan Omar. Kalau ada yang bisa saya bantu katakan saja. Kita sudah lama menjadi rekan bisnis kan?" tanya Albert penasaran. Bisnis alat kesehatan yang dilakoni Albert memungkinkannya sering bertemu dengan Omar. Tetapi sepertinya pria muda di depannya ini sudah lupa siapa ia sebenarnya. Yang mempunyai hubungan dengan saudara iparnya yaitu Alexander Smith.


"Apa kamu yakin bisa membantuku?" Omar balik bertanya. Ia sekarang sudah sangat pusing akan masalah yang terjadi. Dan sepertinya ia tak punya pilihan lain selain meminta bantuan pada orang ini, meskipun terlihat asing tetapi sepertinya orang ini bisa dipercaya.


"Akan saya usahakan tuan semampu saya." jawab Albert mantap. Setidaknya dengan berbuat baik kepada saudara laki-laki Aisyah ini sudah bisa membuatnya mewakili permintaan maaf Alex atas hilangnya Aisyah selama beberapa tahun ini.


"Saya yakin tuan Albert menyimak pembicaraan saya ditelepon tadi." ujar Omar dan Albert mengangguk.


"Mereka menuduh saya melakukan korupsi dengan menjual alat-alat kesehatan di rumah sakit ini. Padahal itu tidak benar, saya bisa bersumpah atas nama Tuhan kalau saya tidak pernah melakukannya." jelas Omar dengan suara bergetar marah. Ia tahu kalau karirnya sekarang sedang berada di ujung tanduk.


"Mereka itu siapa tuan Omar?" tanya Albert hati-hati.


"Para rekan kerja di rumah sakit ini. Saya tidak tahu apa maksud mereka, padahal keuntungan penjualan alat-alat kesehatan yang anda tawarkan selalu saya serahkan kepada pihak yang berwenang di sini."


"Saya tahu mungkin mereka tidak nyaman atas kepemimpinan saya di sini. Tetapi mereka menuduh tanpa ada bukti." Omar menarik nafasnya berat. Beban ini sudah lama ia tanggung sendiri.


"Saya punya semua bukti-bukti pembelian alat-alat itu tuan, dan kita bisa kroscek dengan keadaan di lapangan. Jika benar ada sesuatu yang tidak beres kita jadi bisa tahu kemana perginya alat-alat itu beserta keuntungannya."


"Selama pembukuan anda jelas. Saya yakin tuan Omar bisa membungkam mulut mereka." jelas Albert sembari mengeluarkan gadgetnya yang berisikan data-data penjualan alat-alat kesehatan pada rumah Sakit ini.


"Terima kasih banyak tuan Albert. Semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu."


"Sama-sama tuan Omar. Sesama manusia memang harus saling membantu kan, apalagi kita sekarang saudara seiman." jawab Albert tersenyum.


"Anda muslim?" tanya Omar tak percaya. Dengan mantap Albert mengangguk dan tersenyum.


"Anda mungkin sudah lupa sama saya ya?" ujar Albert berusaha lebih akrab.


"Siapa ya? apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Omar lagi mencoba memutar ingatannya. Berbisnis dengan pria muda ini baru beberapa bulan ia jalani. Dan ia yakin belum pernah bertemu dengannya sebelum ini.


"Saya saudara Alexander Smith yang pernah ikut di khitan di rumah sakit ini sekitar 3 tahun yang lalu, tuan Omar." ujar Albert yang membuai wajah Omar langsung memucat.


Deg


Jantung Omar tiba-tiba berhenti bekerja selama beberapa detik.


"Oh iya, saudara Alexander Smith ya? bagaimana kabar pria itu?" tanyanya kemudian setelah berhasil menormalkan kembali debaran di dadanya.


"Alhamdulillah baik. Ia sekarang ingin maju menjadi calon senator Rusia pada pemilihan nanti di Parlemen." jawab Albert sembari memperhatikan wajah Omar yang kelihatan gelisah.


"Oh, syukurlah. Semoga ia bisa terpilih nantinya." Omar mulai salah tingkah. Tangannya mulai menyentuh sesuatu sembarangan dan Albert berhasil merekam itu semua.


"Terimakasih banyak tuan Albert. Senang bekerja sama denganmu." ujar Omar dengan hati bahagia.


"Insyaallah dalam waktu 24 jam ini, bukti-bukti dari pihak saya akan saya kumpulkan." ujar Omar. Kemudian membuka layar handphonenya yang sedang berbunyi yang menunjukkan ada pesan yang masuk. Sekilas ia melihat pesan itu dari Aisyah adiknya. Ia langsung menghubungi Aisyah karena tak suka membalas pesan.


"Ya Halo, " ujarnya ketika di seberang sana panggilannya sudah terhubung.


"Aku ada urusan di rumah sakit ini sampai besok. Jadi kamu bisa menginap bersama sahabatmu itu. Aku tidak bisa menjemput." ujar Omar pada adiknya.


"Ya, di KBRI? besok setelah urusanku selesai aku akan menjemputmu kesana. Jangan kemana-mana tetap bersama Reisya."


Panggilan itu ia tutup disertai Pandangan menyelidik dari Albert.


"Apakah itu istri anda?" tanya Albert tiba-tiba, pasalnya ia mendengar lawan bicara Omar adalah seorang perempuan dan sepertinya cara mereka bicara sangatlah akrab.


"Bukan, dia adik saya. Saya belum menikah." jawab Omar tak sadar dengan ucapannya.


"Oh, baiklah tuan Omar semoga urusan anda lancar dan anda bisa keluar dari masalah ini secepatnya." ujar Albert kemudian menjabat tangan Omar dan memeluknya.


"Terima kasih banyak, tuan Albert. Saya akan menghubungimu jika saya ada kesulitan dengan data-data ini."


"Oh, siap." Mereka berdua pun berpisah dengan pikiran yang bercabang. Omar dengan masalahnya di Rumah Sakit. Sedangkan Albert dengan pikirannya yang lain. Ia tahu Aisyah hanya mempunyai satu saudara yaitu Omar. Dan itu berarti ada sesuatu yang tidak beres di sini. Kecurigaannya selama ini Ingin ia buktikan sendiri.


🍁


Sementara itu di Kantor KBRI.


"Reisya, aku bisa bermalam di asrama mu." ujar Aisyah senang setelah menutup panggilan telepon dari kakaknya. Selama ini ia tak pernah bebas ke manapun karena Omar selalu menahan langkahnya. Ia baru keluar rumah ketika pergi ke kampus setelah itu ia akan dijemput oleh kakaknya sendiri atau ada seorang asisten yang ditugaskan menjemputnya.


"Alhamdulillah. Syukurlah akhirnya kita bisa menghabiskan waktu bersama." jawab Reisya dengan senyum tak kalah bahagianya.


"Mumpung kita ada di sini dan punya banyak waktu. Kita lihat jadwal belajarnya." ujar Reisya dan mengajaknya kesebuah ruangan khusus untuk kegiatan seni itu.


Setelah meminta brosur pada panitia. Reisya menyerahkannya pada gadis itu.


"Lihat, mulai besok jadwalnya baru ada. Jadi kita kesini lagi besok, bagaimana?" Reisya menatap Aisyah meminta pendapatnya.


"Baiklah, kita akan datang lagi besok. kita kembali ke asrama mu saja untuk beristirahat. Hari ini aku senang sekali, karena akhirnya aku bisa bersamamu 24 jam."


"Hahahaha." Reisya hanya menjawab dengan tawa. Setelah registrasi mereka pun pulang bersama.


----Bersambung---


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya ini dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang banyak supaya othor tetap semangat update nya,


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍