
"Well, apa yang akan kita lakukan sekarang Albert?" tanya Alex saat mereka semua sedang sarapan di restoran hotel pagi itu.
"Habiskan sarapanmu dulu sayang," timpal Aisyah karena sang suami masih menyisakan banyak makanan di atas piringnya.
Lidahnya sepertinya belum bisa beradaptasi dengan nasi goreng yang disajikan di hotel itu.
"Ini enak Dad, nasi goreng spesial dengan omlet." ujar Nikita sembari menyantap makanan itu hingga habis.
"Ah, ya aku ingin sereal saja," ujar Alex yang benar-benar tidak menikmati menu sarapan pagi itu. Ia memang tidak pernah makan nasi selama ini. Aisyah hanya tersenyum kemudian meminta pelayan hotel untuk membawanya sereal.
"Maryam, bagaimana menunya?" tanya Aisyah sembari memandang Maryam yang nampak menikmati sarapannya, nasi goreng seafood pilihannya.
"Kamu suka?"
"Iya, aku suka. Ini lezat sekali. Dan sepertinya bayiku sangat suka makanan dari negara ini yang terkenal dengan pedisnya." jawab Maryam sembari terus mengunyah.
"Max, kamu masih mau nambah?" tanya Maryam pada sang suami karena melihat piringnya sudah bersih dan tandas.
"Tidak sayang, aku sudah kenyang sekali." jawab Maksim tersenyum.
"Kamu makanlah yang banyak, bayi dalam perutmu sedang butuh nutrisi untuk perkembangan dan pertumbuhannya." lanjut Maksim kemudian mengelus lembut perut sang istri. Ia lantas berdiri dari duduknya kemudian berujar,
"Aku dan Albert akan menemui Heru di lobby. Jadi nikmati makanmu ya," Maryam mengangguk dan tersenyum.
"Uncle bisa aku ikut? aku sudah selesai makan." pinta Nikita dengan wajah memohon.
"Kemarilah sayang," ujar Maksim sembari melambaikan tangannya pada gadis kecil itu.
"Adek Danil, kakak pergi dulu ya, mmmuah," ujar Nikita sembari mencium lembut pipi gembul adek Danil.
"Mommy, onty, dadada," Nikita melompat dari kursinya dan mengikuti langkah Maksim dan Albert menuju lobby.
Heru mengangguk sopan saat melihat 3 orang warga negara Rusia itu menuju ke arahnya.
"Heru? apa yang harus kami lakukan sekarang?" tanya Albert sedikit bingung dengan apa yang harus mereka lakukan untuk segera melaksanakan pernikahan ini.
Peribahasa mengatakan, dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung. Jadi mereka harus mengikuti apapun adat dan budaya dimana mereka berada sekarang.
"Keluarga besar nona Reisya menanti kedatangan tuan untuk melamar secara resmi hari ini," ujar Heru dengan senyum diwajahnya.
Pria itu bersyukur bisa menguasai bahasa Inggris sehingga bisa menjadi perantara dan juga pembantu dalam urusan penting dari sahabatnya ini.
"Baiklah Heru, kami akan datang tetapi kamu yang harus jadi guide kami." ujar Albert sembari menyentuh pelan bahu Heru.
"Baik tuan, aku menunggu saja di sini, supaya kita sama-sama berangkat ke rumah calon istri anda." Albert tiba-tiba merasa gugup dengan kata calon istri. Ia tidak menyangka peristiwa sakral itu sebentar lagi akan terjadi.
"Kami akan segera bersiap Heru,"
"Iya tuan."
Maksim dan Albert kembali ke Restoran menemui Alex dan juga para perempuan pendamping mereka itu.
"Bersiaplah, kita akan berangkat sekarang ke rumah Reisya untuk melamar gadis itu untuk adik bungsu kita," ujar Maksim tersenyum tetapi tidak bagi Albert. Pria itu nampak gugup dan khawatir.
"Kamu bahkan berani melawan para musuh tetapi kenapa hanya karena ingin menikahi gadis yang kamu cintai, kamu malah jadi ketakutan seperti ini, hah?" Albert meremas tengkuknya malu.
"Ini beda Alex, aku takut dan entahlah..."
"Ya ampun, Al kamu lucu sekali," Aisyah ikut tertawa dan diikuti oleh yang lain.
🍁
Rumah Sederhana dan minimalis itu sudah sangat indah dengan banyak hiasan atau dekor dari tim EO di kota itu. Makanan dan minuman sudah tersedia dan tertata rapih di atas meja-meja tamu.
Keluarga jauh maupun dekat sudah berada di rumah itu untuk menjemput kedatangan keluarga calon mempelai pria yang akan datang melamar Reisya Rachman secara resmi.
Para warga sangat antusias karena kejadian langka seperti ini tak pernah terjadi di kampung mereka sebelumnya.
Seorang warga negara asing akan menikahi seorang gadis dari kampung mereka. Ada yang sudah menyiapkan handphone dan kameranya untuk membuat peristiwa ini menjadi viral dan terkenal di dunia Maya maupun di dunia nyata.
Reisya Rachman putri seorang petani biasa yang kedatangan beberapa tamu asing dari negara yang cukup jauh jaraknya dari negara ini.
Rachman dan Suriya sudah mengundang secara resmi aparat pemerintah dan tokoh adat setempat sebagai bentuk penghormatan dan juga pelaporan secara resmi akan tamu mereka yang akan datang itu.
"Ibu, mereka sudah hampir tiba, rombongan keluarga Albert sudah sampai di di kantor kecamatan kata Heru."
"Ayok cepat bersiap. Minta para sepupumu itu menjemput di depan gerbang."
"Iya ibu," jawab Reisya dan segera berlari keluar rumah dan memanggil semua orang untuk berdiri di depan sebagai penjemput tamu.
Kameramen sudah bersiap di pintu masuk sedangkan para tetangga yang sudah mendengar kabar ini ikut menjadi penonton di pinggir-pinggir jalan.
"Astaga, kenapa diluar ramai sekali Ibu?" tanya Reisya pada ibunya. Ia sangat heran akan keadaan di luar sana, padahal ini baru acara lamaran tetapi suasana di depan rumah dan juga sepanjang jalan sekitar rumahnya bagaikan akan kedatangan tamu sekelas selebritis atau tamu resmi dari kota besar.
Mobil mewah milik Rama Putra Raditya (novel, Gadis Pemimpi) sengaja dipakai oleh Heru untuk membantu mempermudah acara ini. Kendaraan itu tiba di depan gerbang rumah dan langsung disambut oleh cahaya blitz kamera dari segala penjuru.
"Heru? siapa mereka? apa mereka tidak salah menjemput orang?" tanya Alex bingung dan tak berniat untuk turun dari mobil itu.
"Tidak tuan, mereka sangat gembira karena kedatangan anda semua. Mereka ingin mengabadikan momen penting ini." jawab Heru tersenyum.
"Wah kita jadi seperti selebritis ya, dan mereka adalah paparazinya, hihihi." ujar Nikita cekikikan. Semua yang ada di atas mobil ikut tertawa.
Ketiga pria tampan itu saling berpandangan karena mereka sering menjadi buruan para pencari berita, beda dengan para istri mereka yang hidup normal dan sederhana selama ini.
"Mereka tidak berbahaya Alex, ayok segera turun." ajak Maksim kemudian membuka pintu mobil itu dan mulai turun sembari membantu istrinya yang sedang hamil besar itu agar tidak jatuh dan aman dalam melangkah.
"Ayo mommy, nanti aku yang akan mendorong stroller adek Danil." ujar Nikita semangat.
Mereka semua pun turun dari mobil. Sedangkan Heru sendiri memanggil anggota keluarga dari pihak Reisya untuk mengambil beberapa paket hadiah yang sudah dihias dengan sangat cantik dari bagasi mobil.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍