
"Apa kata kakakmu, Aisyah?" tanya Mohammad Yusuf sesaat setelah putrinya selesai berbicara lewat telepon dengan saudara pertamanya itu.
"Insyaallah kak Omar akan datang kesini besok ayah," jawab Aisyah dengan senyum diwajahnya. Ia berharap dengan begitu sang ayah senang dan damai hatinya.
Sejak dalam perjalanan dalam pesawat jet pribadi tadi ayahnya selalu menanyakan kabar tentang kandungan Anna, saudara iparnya itu.
Sampai ia sendiri jengah dengan segala keingintahuan sang ayah pada sang menantu.
"Anna sudah kuanggap sebagai putriku sendiri nak, meskipun seandainya perempuan itu tidak diperistrikan oleh kakakmu."
"Iya ayah aku paham, tapi aku kan jadi cemburu," ujar Aisyah merajuk.
"Kenapa harus cemburu kan ada aku sayang, aku hanya milikmu," timpal Alex dan langsung meraih istrinya itu kedalam rengkuhannya.
"Daddy, aku juga mau," Nikita ikut masuk ke sela-sela pelukan Daddynya sedangkan Danil ikut menggapaikan tangannya ingin ikut bergabung.
Semua orang tertawa termasuk Maryam dan juga Maksim. Mereka ikut berbahagia dengan kebahagiaan keluarga kecil itu.
Tetapi tidak bagi Mohammad Yusuf, entah kenapa ia begitu khawatir dengan keadaan Anna sekarang ini.
"Apakah ayah ingin langsung beristirahat?" tanya Aisyah pada ayahnya setelah drama saling berpelukan itu selesai.
"Iya nak, bawa aku ke kamar." jawab Mohammad Yusuf sembari menyentuh tangan putrinya lembut.
"Aku saja ayah," timpal Alex menawarkan dirinya. Ia juga ingin turut memperlihatkan kalau ia adalah menantu yang penuh perhatian.
Lagipula ia tak mau istrinya yang mengantar karena kondisi perut Aisyah yang juga sudah mulai besar dan butuh istirahat setelah perjalanan panjangnya dari Dagestan.
Mohammad Yusuf berdiri dari duduknya dan diantar ke kamarnya yang biasa ia tempati ketika berkunjung ke Moskow.
"Selamat malam ayah," ujar Aisyah sembari memeluk tubuh tua itu dan mencium pipinya. Malam itu mereka yang ada di ruangan keluarga itu bubar dan kembali ke kamar masing-masing.
Setelah memastikan sang ayah mertua sudah berada di atas ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya, Alex pun pamit tetapi langkahnya tertahan karena panggilan sang ayah.
"Alex, kemarilah nak," ujarnya pelan. Alex memutar tubuhnya dan kembali menghampiri pria tua itu.
"Apa ada yang ayah butuhkan?" tanya Alex penuh perhatian. Mohammad Yusuf tersenyum lalu menggeleng.
"Aku hanya ingin mengatakan, cintai istrimu dengan sepenuh hati, jaga ia dari perbuatan yang membuatnya mungkin jauh dari penciptanya. Kamu adalah imamnya nak, dan untuk putra-putrimu kelak, berikan contoh terbaik agar kamu dan Aisyah selaku ada dihati mereka."
"Iya ayah, InsyaAllah aku akan banyak belajar juga dari ayah untuk menjadi pemimpin yang baik dikeluargaku."
"Ingat, waktu yang berharga bersama anak-anakmu juga, jangan terlalu sibuk dengan Aisyah saja," lanjut Mohammad Yusuf sembari tersenyum, Alex langsung menunduk malu. Ia merasa tersindir.
"Aku terlalu mencintai putrimu ayah, sangat...dan kamu tahu, Aku bisa kehilangan kewarasanku kalau tidak menyentuhnya sedikit saja," Alex serasa ingin menyampaikan uneg-unegnya pada sang mertua.
Pasalnya pesona Aisyah rasanya bisa membuatnya sakit dan nikmat secara bersamaan.
"Apakah kamu memberinya sihir ayah, hingga aku benar-benar tergila-gila padanya?" bisik Alex dengan wajah tak tahu malu.
"Hahahaha, kamu lucu sekali Alex, kamu mengingatkan aku pada almarhumah ibunya, yang juga sangat kucintai. Ah sudahlah kembalilah ke kamarmu dan berikan jeda untuk istrimu beristirahat." ujar Mohammad Yusuf dengan berdecak.
"Aku tidak janji ayah, tapi akan aku usahakan." Alex pun keluar dari kamar itu dengan tatapan lucu dari sang ayah mertua.
"Hah, gairah anak muda, untungnya mereka sudah terikat oleh ikatan yang suci dan diberkahi. Jadi apapun yang mereka lakukan akan bernilai pahala. Sungguh Allah maha luas kasih sayangnya pada makhlukNya." Mohammad Yusuf berusaha menutup matanya dengan hati bahagia.
Kebahagiaan putra putrinya adalah alasannya untuk tetap sehat dan kuat lagi.
"Alex, apa ayah merasa tak nyaman? kenapa kamu lama sekali disana?" tanya Aisyah saat pria kekar itu sudah naik ke tempat tidur dan memeluknya posesif.
"Tidak sayang, ayah baik-baik saja," jawab Alex sembari membenamkan wajahnya ke ceruk leher istrinya.
"Apa ada yang kalian bicarakan?" tanya Aisyah lagi dengan berusaha menahan rasa geli yang diberikan oleh suaminya itu.
Bibir sang suami sudah bergerak kemana-mana mengecup dan menghisap lembut kuping belakangnya.
"Aaaaakh, Alex, ceritakan padaku kalian bicara apa saja," Aisyah berusaha menahan dirinya untuk diam karena geli.
"Ayah bilang aku harus memberimu jeda, hahaha tapi mana aku sanggup sayang," bisik Alex pelan sembari tangannya bergerak ke depan mencari benda favoritnya yang semakin besar dan kencang karena kehamilan istrinya.
"Bagaimana Danil sayang? apa kamu sudah menghentikan ASI-nya?" tanya Alex karena merasakan tangannya basah karena ada cairan putih yang keluar dari sana.
"Aku kasihan padanya Alex, aku terlalu cepat hamil padahal ia masih butuh aku," jawab Aisyah sembari menutup matanya merasakan sensasi lain dari sentuhan-sentuhan lembut suaminya itu.
Hatinya sendiri sering merasa sedih mengingat waktunya untuk Danil jadi berkurang padahal anak itu masih sangat kecil dan harus punya adik lagi.
"Tidak apa sayang, kita harus bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk punya anak lagi padahal kita tak merencanakannya, itu rezeki besar sayang," ujar Alex menghibur istrinya lalu melanjutkan,
"Apa Danil dan Nikita sudah tidur?"
"Iya Alex, sejak dari Dagestan mereka sangat dekat dengan bibi Sarah dan sekarang anak-anak itu maunya tidur bersama bibiku saja."
"Baguslah sayang, kita jadi lebih bebas, hmmm,"
"Astaga Alex, kamu hanya mikir yang itu-itu saja yah, hmmmpt, Aaaaakh," kalimat-kalimat Aisyah sudah tertelan oleh dessahannya sendiri karena Alex begitu lihai membuatnya menikmati semua yang diberikan padanya.
"Panggil namaku Aisyiiiku,..." Aisyah mengangguk pasrah.
Ia tak punya kemampuan untuk menolak karena ia juga tak pernah bosan dengan kegiatan menyenangkan ini.
Semakin diulang semakin menjadi candu yang tak bisa dihindari.
"Alexx, faster my love,"
"As you wish my sweetie,"
Sementara itu di sebuah lorong gelap di sudut kota Moskow.
Anna berlari pelan untuk mencari tempat persembunyian.
Tangannya terus menahan bagian bawah perutnya yang terasa ingin melesak kebawah membawa beban yang sangat berat.
Yah ada 2 bayi kembar sedang ia perjuangkan untuk selamat. Nafasnya tersengal-sengal berusaha untuk lari terus.
Sedangkan darah terus mengucur dari kakinya yang sudah terkena timah panas.
Ya Allah, kalau ajalku sudah sampai di sini, tolong selamatkan anak-anakku keturunan Omar.
----Bersambung---
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍