
"Sah!" teriak Nikita dengan suara nyaring mendahului semua saksi yang ada di dalam tempat itu.
Satu detik, dua detik, sampai 10 detik tak ada yang bersuara, para saksi dan tamu undangan menahan nafas dan cukup terpukau dengan suara Albert yang fasih melafalkan ijab kabul itu.
"Sah!" Alex dan Rama secara bersamaan mengucapkan kata singkat dan sakral itu.
"Yes!"
Albert merasa sedang diguyur air dingin nan segar. Ia bahkan tidak sadar meneriakkan kata YES saat penghulu mengucapkan kata SAH menyusul kedua saksi dari pihaknya yakni Alexander Smith dan dari pihak Reisya Rachman adalah Rama Putra Tama.
Pria berkewarganegaraan Rusia itu meninju udara setelah doa dibacakan oleh pak penghulu. Ia bahagia luar biasa karena berhasil mengucapkan ijab kabul itu dengan satu kali tarikan nafas.
"Selamat ya Al, kamu sudah resmi menjadi suami dari Reisya." ujar Omar sembari memeluk tubuh tinggi besar itu.
"Terimakasih banyak dokter, kalian berdua sudah menyempatkan waktu untuk datang ke acara ini."
"Kita kan bersaudara, aku turut bahagia untukmu."
"Ya ya ya, aku juga bahagia sekali. Akhirnya aku menikah juga, hahaha."
"Hey jangan sibuk berbicara saja disini. Temui Reisya istrimu." ujar Aisyah menjeda percakapan mereka berdua.
Dengan langkah ringan dan bahagia Albert memasuki sebuah ruangan dimana Reisya menunggunya Disana.
"Masuklah nak, dan beri salam pada istrimu." ujar seorang perempuan tua yang bertindak sebagai anrong bunting atau seseorang yang dipercayakan mengurus prosesi acara sampai selesai akad nikah.
Sekali lagi Albert merasa sedang diguyur oleh air yang sangat dingin dari atas.
Hatinya begitu damai dan tenang saat memandang seorang perempuan cantik yang sedang tertunduk malu itu.
Perempuan itu adalah istrinya sekarang. Yang sudah sah dan halal untuk ia sentuh dan pikirkan.
"Assalamu'alaikum Reisya," sapa Albert dengan suara bergetar menahan sebuah rasa yang sangat indah dan juga syahdu. Seketika atmosfer dalam ruangan itu berubah.
"Waalaikumussalam Al," jawab Reisya sembari mencium tangan suaminya. Dan atas perintah sang perempuan tua tadi ia pun membalas dengan mengecup kening sang istri lembut.
"Sentuhlah kedua bahu istrimu agar kalian bisa saling bahu-membahu dalam setiap hal dalam keluarga kalian." kali ini bukan lagi Heru sebagai penerjemah di dalam ruangan itu tetapi Sarah Putri Gala Raditya sebagai sahabat dari pengantin perempuan.
Albert melakukan semua yang diucapkan oleh Sarah sebagai penyambung lidah dari sang anrong bunting. Termasuk adalah saling menyuapi kue klepon.
"Nah selesai. Selamat ya Albert dan juga Reisya, semoga kalian bahagia dan mempunyai keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, aamiin." ujar Rara dengan menggunakan bahasa Inggris juga.
"Aamiin," jawab semua orang yang berada di dalam ruangan itu.
Sementara kedua pasangan pengantin baru itu saling tatap menatap mengantarkan rasa cinta yang begitu besar setelah mengikuti ritual budaya setempat, Rara istri dari Rama Putra Tama Raditya menyapa para pengiring pengantin pria itu.
"Hai aku Az-Zahra Aisyah, sahabat dan juga kerabat dari Reisya Rachman." ujar Rara memperkenalkan dirinya pada tiga perempuan cantik dari negeri Beruang merah itu.
"Hai, aku Aisyah Smith, nama kita mirip ya," jawab Aisyah ramah, lalu ia melanjutkan memperkenalkan 2 perempuan cantik lainnya,
"Ini Maryam, dan disebelahnya adalah Anna, senang berjumpa denganmu nyonya Az-Zahra Aisyah."
"Ah ya, senang juga berjumpa dengan kalian, ini adik ipar saya Sarah."
"Hai aku Sarah." sapa Sarah sembari menjabat tangan ketiga perempuan cantik itu.
"Mari kita segera keluar karena sebentar lagi acara resepsi akan segera dimulai dan juga jaraknya sedikit jauh dari Masjid ini," ajak Rara dan meminta sepasang pengantin itu untuk keluar terlebih dahulu barulah mereka menyusul.
🍁
Rombongan pengantin menuju Resort Pantai Galumbaya diantar dengan iringan gendang pengantin khas Bugis Makassar.
"Pasti akan sangat menyenangkan di tempat resepsi itu, Max," ujar Maryam saat kendaraan yang mereka tumpangi melewati sepanjang jalan yang bersisian dengan pinggiran laut.
"Iya, aku harap begitu sayang," jawab Maksim sembari tersenyum. Ia selalu suka kalau istrinya itu nampak berbinar bahagia saat melakukan sesuatu yang baru.
"Apa kamu senang?" tanya Maksim sembari mengelus lembut perut buncit sang istri.
"Tentu saja aku senang, Dagestan daerah pegunungan Max, ini pertama kalinya aku mendatangi daerah laut atau pantai."
"Ya, Baby kita pasti akan senang juga, kalau kamu senang," Maryam mengangguk kemudian melempar pandangannya ke arah pinggiran pantai.
Dan tak lama kemudian mereka semua sampai di sebuah Resort yang sangat cantik. Sudah banyak tamu yang menunggu kedatangan rombongan pengantin itu.
"Kamu cantik sekali Reisya," ujar Albert sembari menyentuh tangan istrinya dan menciumnya lembut. Ini pertama kalinya ia memuji sang istri setelah selesai Ijab kabul.
Terlalu banyak mata yang memandang mereka berdua hingga ia menjadi speechless dan belum sempat memuji kecantikan sang istri yang begitu paripurna saat ini.
"Terimakasih Al, kamu juga sangat tampan hari ini," jawab Reisya yang membuat Albert tersenyum masam.
"Hari ini? apa cuma hari ini aku tampan Reisya?"
"Hem, ya. Hari ini kamu tampan dan besok pasti lebih tampan lagi." Albert merasa di atas angin dan dengan gerakan cepat ia mencium bibir sang istri yang sudah lama ia inginkan itu.
"Hey, kamu bisa merusak lipstikku Al," gerutu Reisya setelah Albert melepaskannya.
"Aku sudah lama menginginkan bibirmu Reisya," ujar Albert sembari menatap lembut wajah sang istri. Wajahnya mendekat lagi dan ingin melakukan yang seperti tadi tetapi kaca mobil itu diketuk dari luar dan mereka berdua langsung tersentak.
"Kak Reisya, kita sudah sampai, silahkan kalian turun ." ujar salah seorang adik sepupunya yang bertindak sebagai pagar ayu.
"Ah iya, kami akan turun. Bantu aku," ujar Reisya kemudian bergerak turun dari mobil dengan pakaian adat Suku Bugis Makassar itu. Albert hanya bisa menarik nafas panjang karena keinginannya sedikit terganggu.
"Kak, lipstikmu sudah hilang," bisik sang sepupu sembari menunjuk kaca spion mobil agar Reisya bisa memeriksanya di sana. Seketika wajah pengantin perempuan itu langsung memerah karena malu.
"Bawa aku ke dalam kamar terlebih dahulu," ujar Reisya dengan maksud ingin memperbaiki make upnya sebelum duduk di pelaminan bersama Albert.
"Al, bibirmu merah, kena pewarna bibirku," bisik Reisya pelan ditelinga sang suami dan memberinya beberapa lembar tissue.
Ia tak mau semua tamu tahu kalau mereka berdua sudah saling bertukar saliva beberapa saat yang lalu. Albert hanya tersenyum dan berbisik, "Bersiaplah sebentar lagi, kamu tak akan aku lepaskan,"
"Al?!" seru Reisya dengan wajah semakin memerah malu. Pasalnya sang sepupu langsung berdehem melihat kemesraan mereka berdua.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, Okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍