Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 200 EMHD



Lomba berlari ke nirwana tanpa dewan juri itu masih berlangsung dengan durasi yang cukup lama. Peserta yang hanya dua orang itu terus memacu kecepatan dari mulai pelan, lembut dan agak kasar.


Nafas mereka memburu disertai dessahan dan juga racauan tak jelas dari peserta yang nampak sudah mulai kelelahan itu.


Reisya sudah lama memohon ampun dan berniat mundur karena sudah tak kuat mengimbangi lawan yang tak seimbang dengan dirinya itu.


"Al, plis, a a aku lellah," racaunya dengan suara bergetar menahan rasa nikmat yang menyerangnya bertubi-tubi.


Albert hanya tersenyum sembari memacu dirinya terus didalam tubuh sang istri yang begitu sangat lezat pagi itu.


Meskipun Reisya dibuat terbang berkali-kali tetapi kondisi tubuhnya juga sudah mulai mengibarkan bendera putih tanda menyerah tak kuat dan kemungkinan akan kalah.


"Aaaakh, Al, plis I am give up aaaakh..."


Ia merutuki dirinya yang mau saja ikut perlombaan yang tanpa dewan juri dan aturan main yang jelas ini.


Dengan keras tangannya mendorong tubuh suaminya agar segera keluar dari dirinya. Ia tak mampu lagi meskipun ia selalu saja mendessah dan berteriak nikmat.


"No Reisya, Aku belum sampai finish sayang, sabar ya, dikit Lagi." Reisya tak menjawab, dari tadi suaminya bilang dikit lagi tapi ini kok tidak sampai-sampai juga.


Hingga ia benar-benar merasa kalah dan menang terhormat tetapi berakhir pegal dan lelah.


🍁


Aisyah mengendus berbagai macam makanan yang nampak begitu nikmat dan sudah tersaji cantik di atas meja makan.



"Ini apa bibi?" tanya Aisyah sembari menunjuk mangkuk berisi mie kuah yang begitu menggoda seleranya.


"Ini namanya mie kocok Bandung, biasanya dijajakan dengan gerobak di tempat strategis. Bisa dinikmati saat sarapan atau makan siang." jawab Suriya sembari tersenyum kemudian melanjutkan,


"Bibi tahu kalau tuan Alex tidak makan nasi, jadi ini kamu bisa menawarkan ini padanya nak, biasanya penjual meracik saat mie kocok dipesan."


"Isiannya berupa kikil sapi yang direbus empuk, tauge, mie dan tetelan serta lemak sapi. Disajikan dengan kerupuk kanji dan sambal rawit serta kucuran air jeruk limau. Hangat gurihnya mantap."


"Wah Ini masih panas ya Bi, aku akan panggil Alex untuk mencicipinya," ujar Aisyah kemudian segera menelpon suaminya itu.


Ia memanggil lewat telepon saja karena tak akan mampu berjalan menuju kamarnya sedangkan perutnya sendiri sudah berdendang keroncongan.


'"Kalau ini apa Bibi, ini juga harum sekali dan kurasa bayi di dalam perutku sudah bisa mencium aromanya," Aisyah meraba perutnya yang membuncit itu sembari menelan air liurnya.


"Ini namanya mie Titi, sangat cocok bagi yang tidak suka makan nasi." jelas Suriya dengan senyum diwajahnya.



Sajian khas Makassar ini mirip dengan ifumie yang biasa kita jumpai. Hanya saja mie yang digunakan sangat khas, yaitu berukuran kecil dan lurus seperti lidi.


Mie titi yang gurih disirami kuah kental yang dibuat dari telur dan tepung maizena. Bumbunya sangat sederhana, cukup bawang putih saja.


Bahan pelengkap lainnya tinggal disesuaikan selera, seperti udang, ayam, telur, atau bakso.


"Apakah tidak ada makanan untukku bibi, sepertinya semuanya hanya untuk Alex," ujar Aisyah dengan bibir mengerucut manja.


"Ini semua untukmu anakku, tapi karena kamu suka makan daging, sepertinya Coto Makassar ini cocok untukmu," Suriya mengangkat sebuah mangkuk yang berisi satu lagi makanan tradisional dari kampung halaman Reisya.



Aisyah tersenyum, ia langsung duduk dengan tenang kemudian mulai mencicipi makanan berkuah isi daging itu.


"Kalau ini apa bibi?" tanyanya lagi setelah mengisi kuah itu dengan kecap manis, jeruk nipis, dan juga sambel pedas.


"Itu namanya ketupat, selalu berpasangan dengan makanan itu."


"Bismillahirrahmanirrahim, aku coba ya bibi," ujar Aisyah kemudian mulai menyendok kuah gurih itu kedalam mulutnya.


"Mommy, aku juga mau makan," ujar Nikita yang baru tiba di ruang makan itu bersama dengan Alex dan juga baby Danil.


"Sini sayang, ikut makan disamping mommy," panggil Aisyah dengan wajah penuh peluh karena memberi makanannya tadi dengan sambel pedis.


Nikita duduk disamping Aisyah sedangkan Alex duduk dikursi kebesarannya seperti biasa, sebagai kepala keluarga di Rumah itu.


"Aku mau yang ini mom, ini cantik sekali seperti kastil," ujar Nikita sembari menunjuk sebuah makanan berwarna ungu.



"Ini namanya apa bibi?" tanya Aisyah sembari meletakkan makanan itu di depan Nikita.


"Ini adalah nasi uduk warna ungu. Sesuai dengan namanya, hidangan ini memiliki warna ungu. Tentu saja nasi uduk berwarna ungu berbeda dengan daerah lainnya."


"Pada umumnya, nasi uduk hanya berwarna putih saja. Akan tetapi, nasi uduk dari Sukabumi memiliki warna ungu."


"Ini terbuat dari apa bibi kenapa berwarna ungu?" tanya Nikita penasaran.


Dulu waktu berada di Indonesia yang ia tahu ada nasi putih, dan nasi kuning, serta nasi goreng yang berwarna merah karena saus tomat.


"Warna ungu dari masakan ini berasal dari bahan buah bit dan ubi ungu yang menjadi campurannya." Nikita manggut-manggut meskipun tidak paham. Yang penting tampilannya sangat cantik.


"Apa masakan ini dari daerah bibi juga?" tanya Aisyah penasaran.


"Ini adalah kuliner khas Sukabumi sayang, sebuah kota di Indonesia juga. ini juga dilengkapi dengan berbagai macam lauk."


"Adapun lauk pauk yang terdapat dalam nasi uduk ungu antara lain tahu dan tempe goreng, telur dadar, daging ayam, sambal dan lalapan."


"Ini pasti enak nenek, aku akan mencobanya," ujar Nikita tak sabar dan langsung memasukkan ke dalam mulutnya.


"Ini enak, nenek. Aku suka," puji Nikita tersenyum kemudian terus mengunyah dengan mencampurnya dengan lauk ayam goreng favoritnya.


"Sayang, kamu mau makan yang mana?" tanya Aisyah karena Alex sedari tadi diam saja.


"Aku mau makan yang ini," jawab Alex sembari menunjuk semangkuk mie kocok Bandung yang ada dihadapannya.


Aisyah pun melayani suaminya dengan menyiapkan apa saja yang ia minta untuk membuat mie itu terasa lebih sedap dilidah suaminya.


"Bagaimana enak?"


"Enak dan lezat." jawab Alex sembari mengunyah. Sepertinya memang makanan itu cocok dilidah suaminya. Karena nampak sekali ia menikmati makanan yang terbuat dari mie itu.


"Aku boleh nambah?" tanyanya dengan peluh diwajahnya.


"Hahahaha, kamu suka sekali ya sayang?" Alex hanya mengangguk. Aisyah memberi kode pada pelayan untuk meraciknya lagi seperti menu yang tadi.


"Wah ini ada acara apa? menunya beda," ujar Maksim yang baru tiba di ruang makan itu bersama dengan istrinya.


"Ini adalah acara tujuh bulanan kandungan Reisya sekaligus acara sehari bersama Indonesia," jawab Suriya tersenyum.


Ia mempersilahkan saudara kedua Smith itu untuk duduk dan mulai memperkenalkan menu-menu makanannya.


"Ibu, dimana Reisya dan suaminya?" tanya Abdul Rachman pada istrinya karena sedari tadi pasangan itu belum muncul di ruang makan.


Suriya tidak menjawab. Ia hanya bisa tersenyum samar dan sudah bisa menebak apa yang sedang dilakukan putrinya itu bersama dengan suaminya di kamar.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍