Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 59 EMHD



POV Alexander Smith


Aku tersenyum puas melihat Nikita berhasil keluar dari kamarku.


Dengan semangat yang tinggi aku menutup pintu dan menguncinya. Kemudian menghampiri Aisyah yang sedang duduk di atas ranjang masih dengan gaya menggoda seperti tadi, rok yang tersingkap ke atas menampilkan kaki dan pahanya yang begitu menarik perhatianku.


Aku seperti seorang Musafir ditengah gurun dan baru menemukan tempat untuk minum untuk melepaskan dahagaku. Aku tidak sadar sudah melompat kearah istriku dan menyentuhnya dengan rakus.


Aku membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan kutatap ia penuh cinta. Sungguh, aku bukan saja haus tetapi juga sangat lapar. dan aku berharap tidak ada lagi yang menggangguku saat ini.


"Aku menginginkanmu sayang." bisikku dikupingnya kemudian kukecup kupingnya itu dengan penuh perasaan serta lidahku kumainkan di sana, aku merasakan ia menggeliat dan mendessah di bawah kungkunganku.


Bibirnya yang merekah indah tak bisa kuabaikan begitu saja, kupagut dan kueksplor sepuas hatiku sampai dengan malu-malu ia mulai membalas apa yang aku lakukan padanya dan itu membuatku semakin bersemangat dan bergairah.


Aku melepaskan pagutanku yang sangat lama karena istriku sepertinya sudah kehabisan nafas. kutatap wajahnya yang kemerahan dan kembali ku sentuh lagi dirinya. Kali ini aku sangat tertarik dengan bagian lehernya yang sedari tadi memanggilku untuk memberikan gigitan manis di sana.


Setelah kubuat Aisyah berteriak karena nikmat aku mulai turun ke bahunya yang putih mulus tetapi ada yang membuatku menghentikan kecupanku di sana. Aku menatapnya meminta jawaban. Ada noda hitam di bahu kanannya seperti bekas sebuah luka dan seingatku tidak ada tanda seperti ini pada tubuhnya. Aisyah tahu kalau aku tidak melanjutkan aksiku yang sangat bersemangat tadi, tanganku mengelus tanda hitam itu menanti jawaban.


"Itu terkena tembakan di Armoury Chamber waktu itu." ujar Aisyah dengan nada sendu. Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca. Ia seperti mengingat kejadian buruk yang memisahkan kami sampai 3 tahun lamanya.


"Kamu belum menceritakannya padaku sayang." bisikku dengan hati pilu. Aku bisa membayangkan bagaimana penderitaannya saat itu. Tanpa sadar ia mengeluarkan air matanya.


"Aku yang tertembak di dalam Armoury Chamber di dekat pintu kaca itu, dan kamu tidak mencariku sama sekali. Kamu meninggalkan aku sendiri dalam kesakitan, tuan." Aisyah menutup wajahnya dan menangis sesenggukan. Bahunya bergetar hebat menahan tangisnya.


Oh, sial. Kenapa aku malah mengingatkannya pada kejadian buruk itu. Perlahan kubuka tangan yang menutupi wajahnya. Aku menatapnya dalam.


"Aku minta maaf, Aisyah." kukecup bekas tembakan itu lama.


"Sungguh aku tidak tahu kalau kamu yang ada di sana. Tetapi aku mencarimu sayang seperti orang gila. Aku kerahkan semua anggotaku mencarimu di penjuru Moskow tetapi kami tidak menemukanmu. Dan akhirnya aku putuskan untuk menghentikan pencarianmu dan keluar dari hotel itu dan pindah kesini."


"Tapi kak Omar bilang, kalian melupakanku." jawab Aisyah sendu dengan sisa kesedihan di dalam hatinya.


"Tidak sayang, itu tidak benar. Aku mencarimu Aisyah, aku rindu padamu." ujarku kemudian kukecup bibirnya agar ia tak lagi mengingat kisah sedihnya.


"Tapi ayah, ia marah padamu. Kamu harus membawaku pulang untuk bertemu dengannya tuan. Minta maaflah padanya." ujar Aisyah lagi dan membuatku tersenyum bahagia.


"Aku siap dimarahi dan dihukum oleh ayah mertua yang penting ia tidak mengambil kembali putrinya yang sangat aku cintai ini." ujarku tersenyum dan melanjutkan kembali apa yang aku lakukan tadi. Tanganku mulai bergerak membuka pakaian yang sudah sangat terbuka ini.


Hatiku baru puas kalau semuanya bisa kulihat tanpa penghalang sedikitpun. Ketika sisa satu saja benda pengaman yang belum kubuka. Aisyah menahan tanganku dan menatapku penuh arti.


"Tuan minumlah dulu untuk melepas dahagamu karena waktu kita sempit. Sebentar lagi magrib."


Aku menatap sumber minum yang dimaksud istriku itu. Besar, putih, dan juga sangat indah.


Deg


Bagaimana ini, aku sudah berada pada titik siap menyerang dan hanya disuguhi minuman. Oh ya ampun kembali rasa frustasiku rasanya ingin membunuhku meskipun begitu aku terima tawarannya karena aku tahu kalau aku memulainya maka bisa dipastikan akan memakan waktu yang sangat lama.


Ketika aku betul-betul ingin minum dari sumber yang sudah siap dan menantang di depanku, aku baru sadar kalau itu justru akan membuatku tak bisa tenang nantinya.


"Asalkan janji cuma 30 menit." ujar Aisyah kemudian menyerangku terlebih dahulu. Untuk sementara hanya 30 menit kurasa itu cukup untuk makan dan minum.


Selanjutnya aku sudah tidak bisa menjabarkan lagi apa yang aku lakukan padanya. seluruh tubuhnya hanya milikku dan aku tak menyisakan satu incipun yang luput dari sentuhan bibirku.


Hingga kulihat ia memohon dengan sangat melalui tatapannya agar aku menyentuhnya lebih dalam dan cukup ekstrim barulah aku berhenti bermain-main dengan miliknya yang begitu pas di tanganku yang besar.


Hasratku pun sudah berada pada puncaknya dan akhirnya kuledakkan pada tempat yang halal dan diberkahi. Dalam hati aku berharap ia bisa melahirkan putra dan putri yang lucu untukku untuk menemani Nikita nantinya.


"Terima kasih sayang." ujarku kemudian mengecup keningnya yang bersimbah keringat.


"Daddy!"


"Daddy!"


Tok


Tok


"Buka pintunya! kenapa kalian lama sekali!" kudengar Nikita memukul pintu dengan keras seolah ingin merobohkannya. Ia pun berteriak-teriak di luar sana. Aku segera menarik selimut untuk menutupi tubuh istriku yang polos dan segera menuju pintu sambil memakai piyamaku yang teronggok di lantai. Aku khawatir pintu ini akan hancur kalau aku terlambat sedikit saja.


"Daddy!" seru Nikita sembari menatap tajam padaku. Ia seperti ingin menembus tubuhku dengan tatapan marahnya itu.


"Ini sudah lama sekali dad, padahal janjimu cuma sebentar kan?" gerutu Nikita kemudian melewatiku dan melangkah cepat ke arah ranjang di mana Aisyah masih di sana berbaring di bawah selimut.


"Mommy, bagaimana kakimu apa sudah sembuh?" tanya Nikita penuh perhatian. Ia ingin membuka selimut itu yang menutupi bagian kaki Aisyah tetapi aku segera menarik tangannya. Aku takut ia melihat sesuatu yang lain di sana yang hanya aku yang boleh melihatnya.


"Kenapa dad? apa belum sembuh?" tanyanya dengan wajah polos.


"Mommy sepertinya sakit yang lain lagi." jawabku sambil memandang wajah istriku itu yang tersenyum sangat manis padaku tetapi aku tahu ia pasti kesakitan karena ini yang pertama buatnya apalagi tadi aku sampai kesulitan menembusnya. Ia terlalu sempit dan sempurna.


"Sabar ya mommy, Daddy memang tidak bisa apa-apa. Ia ternyata tidak bisa mengobati mommy. Biar aku panggilkan dokter saja." gerutu Nikita kemudian keluar dari kamar dengan kesal.


Aku hanya tersenyum melihat tingkah putriku itu yang begitu sayang pada Aisyah. Segera ku hampiri istriku dengan rasa bahagia tak terkira. Meskipun tadi itu cukup singkat tetapi itu sangat nikmat.


"Kita mandi kemudian sholat." aku menggendongnya ke kamar mandi dan meletakkannya di dalam bathtub. Penampilannya itu begitu menggoda dan membuat inti diriku terbangun lagi. Aisyah sampai tertawa melihatku. Ia kemudian menyentuhku dan berbisik,


"Malam ini masih panjang." Aku tersenyum, rupanya ia sudah pintar menggodaku. Aisyah yang selalu kurindukan dalam malam-malam sepiku dan aku pastikan ia tak akan bisa tidur malam ini.


---Bersambung--


Aaaaaakh, akhirnya si babang berhasil juga meledakkan rudalnya di sono...Like dan komentarnya dong...


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


Weits tunggu dulu, mampir yuk di karya teman aku nih, asyik punya bikin nagih.