
POV Alexander Smith
Aku seperti baru saja bertemu dengan Paula Anderson dalam sebuah suasana yang sangat asing bagiku.
Perempuan yang namanya masih mempunyai tempat di salah satu ruang dalam hatiku itu menatapku dengan pandangan mata kecewa.
Ia bahkan menangis kemudian pergi meninggalkan aku yang masih dalam mode bingung.
"Paula!" teriakku memanggilnya tetapi ia tak menolak sedikitpun.
"Paula!" Aku kembali memanggil berulang-ulang sampai kurasakan suaraku serak.
Aku tersentak dan segera bangun dari tidurku. Kupandangi keseluruhan ruangan yang aku tempati sekarang.
Astaghfirullah, aku bermimpi bertemu Paula setelah bertahun-tahun berpisah dan baru kali ini perempuan itu mendatangiku.
Aku langsung meludah tipis kesamping kiri dan membaca ta'awudz. Dengan harapan kesedihan dalam mimpi ini tidak menjadi kenyataan.
Sekali lagi kuedarkan pandanganku kesekeliling kamar yang tidak begitu luas ini. Tak ada Aisyah istriku dan juga Nikita serta Danil. Ternyata aku cuma sendirian saja di kamar ini.
"Alex!" Aku tersentak kaget karena kudengar suara Aisyah memanggilku dengan suara yang bercampur dengan tangisan.
"Alex! ayo cepat ke pantai sekarang! Nikita tenggelam di laut!" teriak Aisyah lagi dan lari menghampiriku yang masih betah duduk di atas ranjang.
Dengan cepat aku mencari Bokser yang sempat kulihat tercecer di lantai dan memakainya. Aku tak mengucapkan apa-apa pada istriku yang masih menangis dan tampak panik dan takut itu.
Dengan segala kekuatan yang aku milik aku langsung berlari ke arah pantai dan melihat ke arah tengah laut dimana ada sampan kecil disana sedang terombang-ambing di laut sudah tak bernahkoda.
"Nikita! bertahanlah sayang!" teriakku dengan keras. Rasa takut dan panik seketika memenuhi saraf-sarafku. Aku harap putri kecilku itu mendengar suaraku.
"Ya Allah!, kumohon selamatkan anak itu," kudengar Heru berteriak ke arah langit dan kulihat ia mendorong speed boat ke dalam laut.
Hanya beberapa detik saja aku sudah melompat ke atas perahu cepat itu dan menghidupkan mesinnya. Aku sering memakai kendaraan seperti itu dulu jadi ini sangat mudah bagiku.
"Heru! serahkan padaku, kamu ikut," ujarku kemudian kuminta ia berpegangan kuat karena aku pastikan akan menggunakan kecepatan tertinggi dari speed boat ini untuk menerjang ombak dihadapan kami yang lumayan besar itu.
"Pegangan Her!" teriakku lagi saat kutambah kecepatan agar aku bisa sampa ke tubuh putriku yang masih berpegangan di sisi sampan yang agak menjorok kayunya keluar dan bisa dipegang.
"Daddy!" masih kudengar suara putriku ketakutan sampai ia tak kuat dan tenggelam ke bawah. Aku menurunkan kecepatan dan berusaha meraih tangan Nikita tapi aku terlambat.
"Aku akan melompat Her, dan jaga mesinnya tetap menyala okey?" seruku pada Heru yang disetujui oleh pria itu dan kemudian,
Byurrrr
Aku melompat kedalam laut biru itu dan menyelam ke bawah, mencari dimana tubuh gadis kecil itu berada. Dalam hati aku berdoa semoga putriku bisa bertahan.
Dan aku mendapatkannya. Nikita sudah tidak bergerak. Tangan kananku merengkuh tubuhnya dan aku segera muncul dipermukaan.
"Bantu aku Her!" teriakku dari dalam air laut agar Heru segera mengangkat tubuh Nikita dan aku yang mendorongnya naik ke speed boat.
"Aku saja Alex!" teriak Albert yang juga sudah tiba dengan menggunakan speed boat bersama Maksim dibelakangnya. Ia tahu Heru tampak kesulitan menstabilkan posisi speed boatnya kalau harus mengangkat tubuh Nikita ke atas sedangkan tangannya menjaga agar mesin perahu cepat itu tetap hidup.
Aku bersyukur Maksim dan Albert datang tepat waktu. Mereka berdua segera membawa tubuh Nikita ke darat dimana Omar sudah menunggu di sana dengan segala perlengkapan keselamatan dan kesehatannya. Akupun naik segera ke depan Heru untuk kembali ke darat menyusul mereka yang sedang membawa Nikitaku.
Aku segera berlari ke arah kumpulan orang yang mengelilingi tubuh putriku pas speed boat itu berhenti.
"Nikita!" panggilku pada putriku yang belum sadarkan diri itu.
"Kak Omar lakukan sesuatu!" teriakku pada Omar yang sudah memberikan pertolongan pertama padanya.
Uhukkkk
Kulihat Nikita terbatuk dan mengeluarkan air dari dalam perutnya setelah Kak Omar menekan dadanya agar air laut yang sempat tertelan ke dalam bisa keluar.
"Alhamdulillah ya Allah," ujarku yang diikuti oleh semua orang yang ada di sana. Kulihat mata Aisyah sudah membengkak karena menangis. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa menjaga putri kami.
"Nikita sayang? ini Daddy, kamu dengar aku?" tanyaku pada putriku yang masih betah menutup matanya.
"Nikita? ini mommy sayang...," panggil Aisyah lagi. Gadis kecil itu belum bereaksi. Aku memandang kak Omar dan yang lainnya kemudian kupeluk tubuh putriku yang masih basah kuyup itu.
"Nikita? bangun sayang, ini Daddymu Niki," kuciumi seluruh permukaan wajahnya seperti biasa tapi ia belum bereaksi.
"Kak Omar?" aku memandang wajah kakak iparku itu agar bisa memberikan penjelasan padaku.
"Denyut nadinya lemah, Alex. Kita sebaiknya membawanya ke Rumah Sakit segera." ujar Omar kemudian berdiri dari duduknya. Aku pun berdiri dan mengangkat tubuh Nikita yang masih basah itu.
"Aisyah, berikan Nikita pakaian ganti, ini sangat tidak nyaman baginya." titahku pada istriku yang hanya bisa menangis terus menerus.
"Iya, aku akan ganti pakaiannya dulu sebelum kita bawa ke Rumah sakit." istriku itu langsung berlari ke kamar dan mencari pakaian ganti untukku dan juga Nikita.
Ya sekarang aku masih menggunakan Bokser saja, untungnya para perempuan dari keluarga Smith belum ada yang keluar dari kamarnya saat ini dan melihatku dengan penampilan yang sangat tidak sopan.
Andaikan ini bukan dalam keadaan genting seperti ini pasti Aisyah akan sangat marah padaku jika aku keluar kamar dalam kondisi seperti ini.
"Letakkan Nikita dulu di kursi itu Alex, dan kamu berpakaianlah." perintah Aisyah kemudian mulai membuka pakaian putriku dan menggantinya dengan pakaian yang kering.
"Pakai ini nyonya, biar tubuh nona Nikita jadi hangat." ujar Heru sembari menyerahkan minyak kayu putih agar dibalurkan ke seluruh tubuh gadis kecilku dan juga agar segera siuman dengan mengoleskannya pada hidungnya.
"Terima kasih Heru, kamu baik sekali." ujar Aisyah tersenyum dan mulai melakukan petunjuk Heru. Dan benar saja, Nikita langsung bereaksi. Kulihat ia mulai bergerak.
"Nikita!" panggilku cepat dan segera memeluknya. Aku tak sadar menangis karena bahagia dan entah kenapa bayangan tubuh Paula sedang berdiri diatas kepala putriku itu membuatku tiba-tiba takut.
Pandangan mata Paula yang memandangku kecewa dan bersedih itu membuat hatiku hancur.
Aku merengkuh tubuh putriku sembari menangis.
"Niki maafkan Daddy sayang, maafkan Daddy, jangan tinggal daddy ya..." bisikku terus menerus ditelinga putriku.
---Bersambung--
Mana nih dukungannya untuk karya receh ini. Like dan komentarnya dong agar aku semangat updatenya.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍