Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 235 EMHD



Roman Subkhan sedang berdiri di depan Fakultas kedokteran, Moscow State University of Medicine and Dentistry (MSUMD).


Pria muda dari Kazakhstan itu sedang mampir di Universitas itu untuk menemui Elif yang sangat ia rindukan. Lama ia berdiri sembari bersandar di badan mobilnya menunggu gadis itu datang.


Tak lama kemudian ia pun melihat gadis asal Turki itu datang sendiri. Tak biasanya gadis itu berjalan tanpa sahabatnya yang bernama Nikita Smith itu.


"Apa kabar Elif?" tanya Roman pada gadis cantik berhijab warna pastel itu.


"Alhamdulillah kak, aku baik. Kenapa tidak memberi kabar kalau kakak mau ke sini?" tanya Elif dengan semburat merah diwajahnya. Gadis itu menunduk dan nampak malu sekaligus senang.


Sejak ia bertemu kembali dengan pria asal Kazhakstan itu. Pandangan mata tajam pria itu tak lepas dari wajahnya. Gadis itu bahkan merasa kalau Roman Subkhan menatapnya tanpa berkedip.


"Kalau kamu tahu lebih dahulu aku akan datang, memangnya ada hadiah untukku Elif?" tanya pria itu dengan senyum samar dibibirnya. Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah polos.


"Ada perlu apa kakak mampir di sini?" tanya Elif berbasa-basi karena ia tidak tahu harus bicara apa setelah mereka berdua terdiam cukup lama.


"Apa aku harus punya keperluan khusus jika mau bertemu denganmu?" Elif mengangguk kemudian menggeleng. Ia jadi nampak sangat lucu dengan gaya seperti itu. Nampak kalau ia sedang sangat grogi saat ini.


"Ah tidak. Terserah saja kalau kakak mau mampir meskipun jarak kita sangat jauh."


"Astaga Elif, meskipun jauh kalau aku rindu padamu aku akan datang ke kota ini." jawab Roman Subkhan tersenyum dengan gemas. Ingin sekali ia merengkuh gadis itu dalam pelukannya tetapi sayangnya mereka belum halal.


"Apa kamu ingin mengantarku keliling kota Moskow, Elif?" tanya pria itu dengan tatapan langsung ke bola mata hitam gadis itu. Elif nampak kembali gugup.


"Aku takut tersesat di kota besar ini. Kamu mau kan?" lanjut Roman dengan ekspresi memohon.


"Ah, aku masih ada kelas sebentar lagi kak, Maafkan aku ya," jawab gadis itu dengan wajah tak nyaman. Ia segera mengalihkan pandangannya karena jantungnya tiba-tiba berdebar sangat kencang.


"Tak apa Elif, santai saja. Aku juga ada meeting penting beberapa jam lagi. Kita bisa bertemu setelah itu bagaimana?" tanya pria itu meminta persetujuan.


Roman Subkhan yang sedang berada di Moskow karena urusan pekerjaan itu sengaja ingin menghabiskan waktunya bersama dengan gadis cantik pujaan hatinya itu setelah urusannya selesai.


"Hem baiklah kak, aku juga akan mengajak Nikita, bolehkan?" Elif mengangguk setuju dengan satu persyaratan. Nikita, sahabatnya harus ikut dengannya. Ia takut berdua dengan pria dewasa dan juga tampan itu.


"Kamu takut kalau kita pergi berdua Elif?" tanya Roman Subkhan mengerti akan kekhawatiran kekasih hatinya itu. Untuk kesekian kalinya Elif mengangguk lalu menjawab,


"Nikita selalu bersama denganku kemanapun. Begitupun dirinya. Jadi kami berdua tidak boleh jalan sendiri."


"Tapi kan kamu tidak sendiri Elif, kita akan jalan berdua," ujar pria itu bermaksud mengetahui jalan pikiran gadis yang sangat ingin ia peristrikan itu.


"Berdua dan sangat berbahaya," gumam Elif pelan tetapi sempat terdengar ditelinga Subkhan.


Di tempat ramai seperti ini saja ia bisa jatuh pada pesona Roman Subkhan apalagi kalau mungkin saja mereka berdua di tempat yang sepi. Tanpa sadar ia bergidik ngeri.


"Hey, kamu kenapa?" tanya Roman karena melihat Elif bergidik.


"Ah tidak. Aku hanya ingin segera kembali ke kelas. Nikita pasti menungguku di sana." jawab Elif berusaha untuk tidak bertemu pandang dengan pria tampan itu.


"Baiklah kita akan jalan bertiga," ujar Roman Subkhan dengan senyum diwajahnya. Ia benar-benar semakin cinta pada gadis muda ini. Kekagumannya kian bertambah karena begitu hati-hatinya, gadis ini dengan yang namanya laki-laki.


"Baik kak." jawab Elif tersenyum.


"Insyaallah, kak." jawab Elif kemudian segera melangkah ke kelasnya sedangkan pria itu melajukan mobilnya ke arah sebuah gedung perkantoran di wilayah Red Square, lapangan merah di Moskow.


🍁


Sementara itu di ruang kelas.


Nikita masih sibuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh beberapa dosen yang memberikan mata kuliah di kelasnya.


Karena beberapa hari ini ia tak masuk dan mengumpulkan tugas karena penculikan itu, ia malah mendapatkan kejutan yang cukup ekstrim. Ia dan Elif harus menyetor tugas-tugas itu dalam waktu kurang dari 48 jam.


Alhasil tumpukan materi diskusi dan juga praktikum yang akan dikerjakannya bersama dengan Elif membuatnya hampir muntah.


"Niki, bagaimana? apa yang bisa aku bantu?" tanya Elif dengan perasaan khawatir. Nikita yang sedang duduk dihadapannya itu sedang memijit pelipisnya merasakan rasa bosan dan juga tak nyaman pada tubuhnya.


"Kamu bersyukur Elif, sewaktu aku berada di Birmingham kamu malah menyicil tugas-tugas ini di Dagestan, tetapi aku? kepalaku hampir pecah kau tahu?" Nikita menggerutu dengan wajah layu.


"Aku akan membantumu sebelum kelas berikutnya masuk, okey?"


"Dengan senang hati kuterima tawaranmu Elif, aku yakin ibumu pasti memberi sarapan yang cukup bagus hari ini padamu," jawab Nikita kembali bersemangat.


"Hahahaha, bicara apa kamu. Apa hubungannya dengan sarapan yang bagus, kamu suka aneh Niki," ujar Elif tertawa.


"Ayo cepat kamu kerjakan yang ini dan aku kerjakan bagian ini." ujar Elif kemudian segera membuka laptopnya.


"Eh by the way, apa kabar pak Subkhan itu?" tanya Nikita sembari mengunyah satu gigitan coklat yang ia bawa sebagai cemilan. Ia tahu sahabatnya tadi menemui pria itu baru saja.


"Ih pak Subkhan, kedengarannya sangat tua sekali," protes Elif dengan bibir mencebik.


"Lho, dia kan memang sudah tua. Usia kita berbeda 10 tahun dengannya Elif," ujar Nikita sembari terus mengunyah coklatnya.


"Ah ya, tapi ia tidak terlihat tua Niki, ia kelihatan keren, kau tahu?"


"Pffft, orang jatuh cinta, semuanya tampak indah dan keren. Good! lanjutkan!" tawa Nikita mengejek sahabatnya itu.


"Niki! kapan tugasmu akan selesai kalau kamu hanya sibuk menghitung usia kekasihku," tegur Elif dengan berpura-pura kesal.


"Aku tidak akan membantumu kalau kamu makan saja dan sibuk menghitung usia," lanjut Elif kemudian merebut potongan coklat ditangan Nikita dan memakan sisa gigitan sahabatnya itu.


"Cepat kerjakan tugasmu dan kita akan jalan sebentar sore bersama kak Roman." tegas Elif dengan pandangan mata tajam.


"Baiklah nona, aku akan mengikuti kemauanmu," ujar Nikita dan mulai membuka emailnya dan memeriksa jenis tugas yang terdapat dalam kotak masuknya.


Matanya membola saat melihat satu kiriman dari Crisstoffer Anderson sang dosen ilmu anatomi dan juga Genetika.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍