
POV Alexander Smith
Flashback on
Satu jam sebelum aku melumpuhkan Azzam.
Sang surya perlahan tenggelam di ufuk barat. Cahayanya yang sepanjang siang menyinari bumi ini semakin meredup menyisakan sinar jingga di bawah kaki gunung Kaukasus. Range Rover Vogue yang aku tumpangi bersama Maksim sudah menghabiskan sekitar dua jam perjalanan melewati jalan-jalan berkelok-kelok dan terjal di daerah pengunungan yang sangat jauh dari desa tempat aku tinggal beberapa bulan ini.
Aku menghela nafas berat sambil memikirkan maksud dan tujuan black shadow menyerang warga desa yang sedang beribadah. Kalau memang akulah targetnya kenapa harus membawa Aisyah juga yang tidak ada hubungan apa pun denganku. Setelah melihat sebuah gudang tua yang cukup mencolok karena keberadaannya di tengah hutan.
Maksim menghentikan laju mobilnya dengan jarak sekitar 100 meter dari gudang tua itu. Aku melompat turun sambil memperhatikan suasana tempat itu dari jauh. Hening, tak ada suara kehidupan di sana kecuali bunyi binatang hutan yang meramaikan sore menjelang malam itu. Sebuah mobil yang tak asing bagiku ada di sana terparkir sembrono serta mobil lainnya dengan posisi parkir sama tidak teraturnya. Cetakan roda memutar terkesan terburu-buru di tanah kering menunjukkan hal tersebut.
Aku dan Maksim memasuki area gudang di tengah hutan itu dengan langkah pelan dan hati-hati. Kekuatan yang ada di dalam gudang itu tidak bisa kami prediksi jadi kami berdua mengatur posisi yang cukup aman untuk menyerang sembari saling memunggungi untuk mengawasi pergerakan lawan. Berdua kami mengeluarkan pistol dari dalam saku mantel. Aku memberi kode pada Maksim kalau ia berjaga di luar sedangkan aku langsung masuk ke dalam gudang. Kulihat Maksim mengangkat jarinya membentuk huruf O.
Ada bunyi Krekk dan bussh dari arah luar menandakan Maksim sudah menemukan lawan. Aku percaya padanya bisa menghabisi mereka mengingat Anggota Black Shawdow yang masih tersisa di gudang ini sudah ompong tak bergigi karena ketua mereka sudah tumbang di tanganku.
Aku hanya penasaran siapa sebenarnya aktor utama dibelakang penyerangan bersenjata ini. Langkahku pelan dengan tangan dan mata tetap waspada memperhatikan keadaan di dalam gudang dengan pencahayaan remang-remang dari sinar temaram cahaya bulan di luar sana.
Telingaku mendengar sebuah rintihan kesakitan dan teriakan minta tolong dari seorang perempuan di sebuah kamar yang sedikit terang. Dan aku yakin itu adalah suara Aisyah yang sedang ingin aku selamatkan.
Hatiku menggeram marah melihat Azzam, pria brengsek itu membuka pakaian Aisyah Putri paman Yusuf itu dengan bebas. Aku menyesal karena tidak langsung melumpuhkannya sehingga ia dengan bebas menikmati dan menyentuh tubuh dan kulit putih gadis itu dengan wajahnya yang penuh kebahagiaan. Aku baru menyerangnya ketika ia sedang dalam puncak gairah.
Satu tendanganku telak membuatnya terjengkang dan melayang ke dinding ruangan itu.
"Awww." teriaknya kesakitan tetapi aku tidak ingin berhenti kutodongkan moncong pistolku di kepalanya, hingga aku sadar kalau aku tak ingin membunuh lagi. Aku menginjak tangannya keras dengan sepatu larasku sampai tangannya kurasa retak karena telah berani menyentuh tubuh suci seorang putri kepala suku lalu kulanjutkan menyerang kepalanya agar ia bisa melupakan tubuh Aisyah yang sudah ia pandang dengan otak mesumnya itu.
"Beres?" tanyaku
"Beres!" jawab Maksim sembari mengangkat jempolnya di depan wajahnya. Ia memandangku dengan pandangan berbeda saat melihatku membawa tubuh Aisyah yang masih tak sadarkan diri.
"Ada apa dengannya?" tanyanya penasaran. Aku tidak ingin menjawab pertanyaannya. Aku hanya mengajaknya agar segera kembali ke desa. Semua orang pasti mengkhawatirkan kami apalagi mereka semua juga dalam keadaan yang terluka parah.
"Kita pulang sekarang!" ujarku sembari meletakkan tubuh Aisyah di jok belakang dengan pelan. Gadis itu belum sadarkan diri juga setelah hampir setengah jam perjalanan yang kami tempuh.
"Apa kau lelah?" tanyaku pada Maksim yang sedikit-sedikit menguap. Jika ia tidak kuat aku yang akan menggantikannya membawa mobil ini pulang. Ia menggeleng cepat.
"Anda yang kelihatan lelah Mr.Smith," ujar Maksim tersenyum. "Emosimu cukup terkuras hari ini." lanjutnya dengan senyum samar. "Dan untungnya engkau masih sangat kuat menahannya."
"Kamu betul, aku lelah sangat." jawabku sambil menarik nafas panjang kemudian melirik ke jok belakang dimana Aisyah masih berbaring di sana tak sadarkan diri.
"Apa tubuh gadis itu berat sekali sampai anda lelah sekali? seharusnya anda meminta bantuan padaku untuk mengangkatnya ke mari." aku tahu Maksim pasti punya maksud tertentu dengan pertanyaannya itu. Aku menatapnya tajam dan ia balas dengan senyum menyebalkan.
---Bersambung---
🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor tetap semangat update nya okey.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍