
POV Alexander Smith
Permohonan Aisyah mulai aku kabulkan, ketika kulihat istriku Aisyah sudah lemas tak berdaya.
Aku tahu bahwa Perempuan cantik itu sudah berkali-kali sampai ke puncak karena perlakuanku yang begitu memabukkan.
"Here we go my sweetie," bisikku dengan suara parau dan pandangan mata berkabut hasrat.
Tubuhku sendiri kurasakan bergetar dan sudah sangat menegang sedari tadi tetapi aku berusaha menahan dan memberi waktu pada Aisyah untuk menyambut diriku dengan sangat indah.
Desh
"Aaaaakh, Alex hhhh," Aisyah sekali lagi berteriak ketika bagian dari diriku yang paling aku bangga-banggakan menancap dalam ke inti terdalam dari dirinya.
"Aisyah, ya Allah... kenapa kamu begitu lezat sayang,..aku...aaaakh." Aku merasakan diriku mengalami getaran hebat.
Aku seperti sedang memasuki dunia lain yang begitu menyiksa, memabukkan, dan sangat sangat nikmat. Aku tak mampu berkata-kata lagi.
Mataku hanya bisa memuja ciptakan Tuhan yang begitu sempurna di bawah kungkunganku ini.
Kulihat tangan Aisyah menggapai udara hingga ia lemas tak berdaya.
Aku yakin ia sangat menikmati apa yang aku lakukan padanya. Karena aku pun tak bisa lagi kujabarkan dengan kata-kata karena ini terlalu indah dan nikmat.
Berbulan-bulan tak bertemu dengannya membuat menggila. Rasanya aku terlalu rakus karena ingin mengganti waktu-waktu yang hilang itu malam ini juga sampai pagi.
"Alex,..." Aisyah tumbang tak berdaya. Ia sudah tak sanggup mengimbangi kekuatan serangan dariku padahal aku belum juga sampai.
"Aisyah...aku belum selesai sayang," bisikku pelan dikupingnya sambil terus memacu diriku di dalam dirinya menggapai nirwana.
"Alex ini sudah hampir pagi, aku tak kuat sungguh... pagi-pagi kita akan ke Dagelan hhhmmm..." Aisyah benar-benar tak berdaya. Ia jatuh tertidur sedangkan Aku belum juga sampai pada tujuanku.
"Tidurlah sayang, biar aku selesaikan sendiri..." Akhirnya aku terus memacu diriku sendiri meskipun tak ada lagi respon berupa dessahan dan teriakan manja dari istriku tercinta.
Hingga aku sampai di puncak hasratku dan tak sadar mengerang penuh kenikmatan saat-saat indah itu datang padaku.
"Terimakasih sayang, aku mencintaimu," bisikku pelan kemudian mengecup lembut bibirnya yang nampak terbuka dan ketiduran dibawah kungkunganku.
Aku tersenyum samar melihat ekspresi Aisyah yang seperti itu. Aku tak menyangka istriku itu bisa-bisanya tidur disaat-saat sedang melayani hasratku yang teramat tinggi.
Aku pun bangun kemudian mencari tissue untuk membersihkan sisa pertarunganku dengan dirinya. Aku membuka tubuhnya kembali dan kubersihkan tubuh indah itu sembari memuji rasanya yang manis dan nikmat.
Aku takut Aisyah akan tidak nyaman tertidur dengan perasaan lengket dibagian intinya.
"Tidur yang nyenyak sayang," ujarku setelah kurasa ia sudah bersih dan kering.
Aku pun melangkah ke kamar mandi dan membersihkan diri juga. Entah kenapa milikku masih berkedut hanya karena membayangkan lagi apa yang Aisyah berikan padaku.
"Ya Allah, terimakasih engkau menciptakan istriku sebagai penenang hatiku, dan hanya dia yang mampu membuatku seperti ini," ucapku penuh syukur.
Kutatap kembali tubuh perempuan yang sudah memberiku seorang putra yang sangat tampan itu yang sedang berbungkus selimut.
Rasanya aku masih sangat ingin melanjutkan yang tadi tetapi saat aku melihat jam dinding yang berdetak dimalam yang sunyi itu, aku baru sadar kalau telah melakukan hal yang menyenangkan bersamanya hampir 2 jam lamanya.
"Ya Allah, pantas Aisyah sudah tidak bisa bergerak, istriku tak punya tenaga lagi menghadapiku yang selalu punya hasrat yang sangat tinggi padanya."
"Maafkan aku sayang, ini bukan keinginanku tapi karena kamu yang terlalu lezat, Aisyah. Semoga bayi dalam kandunganmu tidak kenapa-kenapa sayang."
Kembali aku menatap jam dinding.
Sungguh aku sudah tak bisa tidur lagi sekarang ini. Jam menunjukkan pukul 3 dini hari, aku lantas kembali ke kamar mandi untuk mandi besar dan siap melaksanakan sholat malam.
Aku sungguh ingin berterimakasih pada Tuhan saat ini. Aku ingin membagi bahagiaku ini pada sang Pencipta.
"Ya Allah, terimakasih banyak atas nikmat ini, aku tak tahu bagaimana diriku jika Engkau tak mempertemukan aku dengan Aisyah, aku takut aku akan menjadi makhluk yang tak akan punya perasaan lagi."
"Ya Allah, terimakasih banyak atas umur yang engkau berikan ini, semoga aku bisa lebih baik kedepannya dan tak menyakiti lagi istriku,"
"Ya Allah semoga esok hari saat kami berangkat ke Dagestan, kami semua selamat sampai tujuan dan menemukan ayah Yusuf dalam keadaan sehat."
"Ya Allah lembutkan hati ayah mertuaku agar ia tidak memisahkan kami, hanya PadaMu ya Allah aku memohon, maka kabulkanlah."
Aku bangun dari sujud panjangku dan mendapati Nikita duduk di sisiku sembari mengucek matanya.
"Dad? dimana Mommy? Apa ia meninggalkan aku lagi?" tanya Nikita yang tampaknya belum sadar dengan apa yang terjadi. Ia mungkin sedang berjalan dalam tidurnya.
"Nikita? kamu sudah bangun sayang?" tanyaku pada putriku itu yang bersandar di lengan kiriku.
"Dad, aku tidur bersama adek Danil dan juga mommy serta onty Reisya, tapi saat aku bangun, mommy dan Onty Reisya menghilang, aku kira mereka berdua pergi meninggalkan kami Dad," Aku tersenyum kemudian menunjuk tempat tidur.
"Lihat, mommy sedang tidur di sini sayang, Daddy sangat merindukannya jadi daddy membawanya kemari, tidurlah lagi bersama Mommy," ujarku kemudian menggendong tubuh putri kecilku itu ke samping Aisyah di atas tempat tidur.
"Daddy akan membawa Danil kemari sayang, tidurlah, saat subuh tiba, aku akan membangunkanmu."
"Iya Dad, aku juga masih mengantuk." jawab Nikita kemudian memeluk tubuh istriku. Gadis kecil itu pun tertidur. Dan aku segera keluar dari kamarku menuju kamar Albert untuk mencari Danil dan membawaku ke kamar kami.
"Al! kenapa kamu membawaku ke kamar ini hah?!" kudengar suara Reisya berteriak dari dalam kamar tamu di sebelah kamar yang akan aku kunjungi.
Pintu kamar itu terbuka dan menampilkan tubuh Albert dengan balutan selimut sedang dilempar bantal dari dalam kamar.
"Ada apa Al?" tanyaku pada Albert yang nampak sangat menyedihkan itu. Pria itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Reisya baru sadar kalau aku membawanya ke kamar tamu dan dia marah padaku," jawab Albert dengan wajah sedih. Tanpa sadar aku tersenyum lebar.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" tanya Albert dengan pandangan bingung.
"Lihat tubuhmu, aku tak percaya kalau istrimu marah padamu,"
"Ada apa dengan tubuhku?" Albert menatap tubuhnya dan merasakan tidak ada sesuatu yang aneh. Aku langsung tertawa karena merasa sangat lucu.
"Bekas-bekas merah itu dari istrimu kan?" tanyaku lagi dan langsung membuatnya tertunduk malu lalu mengangguk.
---Bersambung--
Penasaran apa yang telah terjadi pada Albert???
Kalau ada 10 komentar, aku anggap para readers setuju kita bongkar apa yang dilakukan Albert bersama dengan istrinya.
😅😅😅😅😅
Like dan komentar dong 😍