Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 246 EMHD



Crisstoffer Anderson tidak menjawab pertanyaan Omar, hinga dokter itu mengulang kembali pertanyaannya.


"Criss, Apakah engkau tahu kalau seseorang itu haruslah dikhitan atau disunat terlebih dahulu sebelum resmi mengikrarkan 2 kalimat syahadat?"


Crisstoffer Anderson memandang wajah Omar yang menanyakan tentang sunat atau khitan padanya.


Dalam ilmu kedokteran, sunat atau khitan lebih dikenal dengan istilah sirkumsisi. Istilah sirkumsisi berasal dari Bahasa Latin, yakni circum (memutar) dan caedere (memotong). Frenulum dari organ intim dapat juga dipotong secara bersamaan dalam prosedur yang disebut frenektomi.


"Criss?" Omar memanggil pria itu yang diam saja setelah dua kali ia menanyakan hal yang sama.


"Ah iya uncle."


"Kamu melamun Criss, apa yang kamu pikirkan?" tanya Omar dengan mata memandang intens pada pria muda yang juga merupakan seorang dokter itu.


"Aku tidak menyangka kalau Islam bahkan mengatur sampai sedetail itu mengenai kesehatan alat-alat organ intim makhluk hidup seperti kita ini," jawab Crisstoffer Anderson dengan wajah takjub. Hatinya kembali berdebar keras. Omar tersenyum kemudian menatap Criss,


"Kamu benar, semua itu sudah diatur dalam Islam, Criss. Pertama, khitan merupakan kemuliaan syariat yang Allah peruntukkan untuk hambaNya. Memperbagus keindahan zhahir dan batin, serta menyempurnakan agama hanif bapak para Nabi dan Rasul, yaitu Ibrahim alaihis salam."


"Kedua, sebagai tanda β€˜ubudiyah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana zaman dahulu orang-orang memberi tanda pada telinga atau badan budak (hamba sahaya) mereka."


"Ketiga, khitan tidak mempengaruhi kesuburan atau mengurangi hasrat pada pria. Jadi? apakah kamu ingin dikhitan, Criss?" tanya Omar lagi pada dokter muda itu.


"Aku sudah pernah melakukan sirkumsisi uncle bersama teman-teman sesama dokter di Birmingham Inggris waktu itu. Tetapi aku sungguh tidak tahu kalau hal ini sudah diatur dalam Islam." jawab pria itu dengan mata berkaca-kaca. Ia semakin yakin kalau keyakinan yang dipilihnya ini adalah yang terbaik.


"Alhamdulillah kalau memang seperti itu, karena sebenarnya aku ingin sekali membedahmu sendiri. Aku penasaran dengan senjatamu itu, Criss hahaha," Omar tertawa terbahak-bahak membayangkan akan mengerjai dokter muda ini.


"Oh itu tidak masalah uncle kalau kamu tidak keberatan. Asalkan jangan menyunatku dua kali. uncle bisa memeriksanya sendiri apakah itu sudah benar atau belum, hahaha," Crisstoffer Anderson ikut merasa lucu membayangkannya.


"Hum tidak perlu Criss, aku percaya padamu. Istrimu yang akan menentukan apa itu sudah sesuai atau belum, dia kan calon dokter juga," ujar Omar dengan maksud menggoda calon keponakannya itu.


"Hum, semoga saja ia tidak salah menilai nantinya uncle," jawab Crisstoffer dengan senyum samar dibibirnya. Entah kenapa pikiran mesumnya kembali membayangkan Nikita Smith yang memeriksanya.


Pletak


"Awwww, kamu memukulku uncle?" Crisstoffer merasakan kepalanya dipukul dengan keras oleh Omar. Tangannya segera meraba kulit kepalanya yang sedikit nyeri.


"Buang pikiran kotormu itu dan kita akan segera berangkat ke Masjid Agung Moskow. Engkau akan bersaksi di sana disaksikan oleh imam masjidnya. Setelah itu kamu harus mengurus segala perubahan identitasmu di catatan sipil agar kamu diakui sebagai Muslim di negara ini."


"Baiklah uncle, ayo segera kita berangkat karena aku juga sudah tidak sabar." ajak pria itu dan segera keluar dari rumah Omar menuju Masjid Agung kebanggaan orang Muslim Moskow itu.


🍁


Nikita yang sudah memarkirkan mobilnya di halaman depan rumahnya langsung masuk ke dalam rumah itu dengan langkah ringan. Ia bahkan bersenandung kecil.


Gadis itu melangkah menuju kamarnya untuk melanjutkan tidurnya yang cukup kurang semalam karena sikembar ElRasyid dan Elmira tidak mau berhenti bermain dengannya.


"Kak Niki, kamu darimana? aku tidak melihatmu semalam?" tegur Danil yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.


"Ih, aku juga merindukanmu kak, Asma dan yang lainnya juga ingin bermain denganmu tetapi kamu selalu sibuk," gerutu Danil yang masih mengikuti langkah kakak perempuannya ke dalam kamar.


"Aku juga ingin bermain di rumah uncle Omar kak, kenapa kamu tidak mengajak aku?"


"Nanti saja, kamu pergilah ke sekolah. Nanti juga kamu akan bertemu dengan mereka berdua kan di sana?"


"Ah iya ya, kalau begitu pergilah, aku ingin tidur dulu, siang nanti aku ada kelas," ujar Nikita kemudian segera naik ke tempat tidurnya. Menarik selimut dan tak lama kemudian jatuh tertidur.


"Danil?" Aisyah ternyata mengikuti langkah kedua anaknya itu.


"Iya Mom,"


"Kamu kok belum bersiap, Daddy menunggumu sayang di ruang makan," ujar Aisyah dengan mata terus memandang ke arah ranjang dimana Nikita sudah tertidur disana.


"Oh iya mom, aku dan Asma akan ikut Daddy ke sekolah." jawab Danil kemudian keluar dari kamar itu. Aisyah pun ikut keluar karena ia akan diantar oleh Alex ke sekolah.


"Kamu tidak memanggil Nikita kemari sayang?" tanya Alex pada istrinya itu yang baru bergabung bersama semua Anggita keluarga lainnya di meja makan.


"Nikita sepertinya sangat lelah dan mengantuk, ia sekarang sudah tidur dan aku tidak ingin mengganggunya," jawab Aisyah kemudian duduk disamping suaminya.


"Memangnya apa yang dilakukannya di rumah kak Omar sampai kelelahan seperti itu?" tanya Alex dengan pandangan menyelidik pada istrinya itu.


"Eh, jangan menatapku seperti itu sayang, tidak mungkin kakakku menyuruhnya membersihkan rumah. Mungkin si kembar itu yang memaksanya untuk bermalam."


"Ya mungkin juga, ayo cepat berangkat nanti kalian semua terlambat," jawab Alex kemudian menatap semua orang yang ada di meja itu.


"Kepala sekolah dan para gurunya masih sibuk mengurus suami dan anak-anak hahahaha," jawab Aisyah dengan tawanya.


Maryam dan Reisya ikut tertawa dibuatnya. Bagaimana mereka tidak terlambat karena mereka semua harus mengurus para suami yang suka minta jatah pagi kalau malamnya belum full of charge. Belum lagi anak-anak yang akan berangkat juga pagi itu.


Tak lama kemudian mereka semua berangkat diantar oleh suami masing-masing.


Sesampainya di sekolah, Anna istri Omar ternyata Sudah lama menunggu anak-anaknya dengan harapan ingin bertemu saudara-saudara iparnya yang juga merupakan guru dan kepala sekolah di sekolah itu.


"Apa kabar Anna?" sapa Aisyah sembari memeluk dan mencium saudara iparnya itu.


"Alhamdulillah baik, dan ya aku punya kabar gembira untuk mu Aisyah," jawab Anna dengan senyum diwajahnya.


"Apa itu Anna?" tanya Aisyah dengan wajah penasaran.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍