
Pagi ini Nikita bangun dengan semangat baru. Setelah melaksanakan sholat subuh bersama sang Daddy, ia segera menyiapkan perlengkapan kursus seni yang akan ia bawa pagi ini ke kantor KBRI Moskow. Alex sampai menggelengkan kepalanya melihat semangat yang tinggi dari putrinya itu.
"Bukankah ini masih terlalu pagi sayang?" tegur Alex saat melihat Nikita sibuk memasukkan ini dan itu di tas ranselnya yang cukup besar.
"Menyiapkan sesuatu itu harus dari awal Daddy supaya tidak ada yang terlupa." ujarnya dengan gaya serius, ia sampai meletakkan jarinya di pelipisnya seolah-olah memikirkan hal yang berat. Dahinya sampai berkerut saking seriusnya.
"Ini cuma latihan biasa Niki, awas kerutan di dahimu bisa membuatmu menua sayang." ujar Alex sengaja menggoda putrinya. Gadis kecil itu langsung melotot tajam.
"No Daddy, never say that, okey? Look at me Dad, aku Nikita putrimu yang paling cantik." balas Nikita yang langsung membuat Alexander menangkap tubuh mungilnya dan meraihnya dalam pelukan sayang.
"Kamu selalu bisa menghiburku sayang." ujar Alex sembari menciumi wajah putrinya itu.
"Dad, kamu selalu membuatku tidak bisa bernafas. " Nikita meronta dan berhasil melepaskan dirinya.
"Jadi, siapa yang akan mengantarku hari ini?" My first Daddy? My second Daddy? or My third Daddy?" tanya Nikita sembari berkacak pinggang di depan Alex.
"Uncle Albert your third Daddy." jawab Alex sembari tersenyum. Entah kenapa Albert sejak kemarin memaksa ingin mengantar Nikita mengikuti kursus ini. Padahal Maksim sudah membatalkan meeting nya di kantor agar ada waktu untuk gadis kecil penghibur tiga pria kesepian itu.
"Kenapa bukan Daddy saja?" tanya Nikita merajuk.
"Aku ada urusan penting hari ini sayang, tetapi kalau urusannya sudah selesai, aku yang akan menjemputmu. Hubungi daddy kalau sudah selesai."
"Baiklah Dad, tapi aku berharap Daddy bisa melihatku di sana."
"Insyaallah sayang." jawab Alex dengan senyum di wajahnya.
Setelah sarapan pagi Albert datang dengan senyum cerahnya. Semangatnya bahkan lebih besar daripada Nikita sendiri.
"Let's go my sweetie!" ujar Albert semangat. Ia melajukan mobilnya dengan rasa yang sulit ia gambarkan. Sebuah rasa penasaran yang sangat tinggi yang harus ia pecahkan hari ini juga atau ia tidak akan bisa tidur semalaman.
Ciiiiit!
Ia menarik tuas rem dengan tiba-tiba hingga Nikita sampai terlonjak kaget, untungnya ia sedang memakai sabuk pengaman.
"Ada apa uncle?" tanya Nikita kaget. Ia menatap Albert yang sedang memandang keluar jendela dengan ekspresi aneh.
"Aku melihat seseorang disana!" jawab Albert sembari dengan pandangan terus mengarah ke dalam kantor KBRI yang sebentar lagi mereka datangi. Ia tersenyum samar meskipun begitu ekspresi kagetnya tak bisa ia tutupi.
"Siapa uncle?" tanya Nikita makin penasaran karena wajah Albert nampak penuh teka-teki.
"Mommy Aisyah, ia ada di sini." jawab Albert kemudian melajukan kembali mobilnya yang sempat terhenti tiba-tiba dan mengarahkannya ke arah tempat parkir kantor KBRI.
"Mommy?" tanya Nikita lagi. Wajah mommynya sudah tidak begitu ia ingat. Maklum sudah 3 tahun mereka tidak bertemu. Tapi nama itu selalu ada dalam benaknya, nama yang selalu ia ingat, karena ia selalu ada dalam mimpinya.
"Aku ingin bertemu dengannya uncle." ujar Nikita tak sabar. Ia sampai menarik tangan Albert yang sedang memegang kemudi. Pria itu tidak menjawab, ia harus memantau terlebih dahulu baru bertindak.
Ia kemudian menghentikan mobilnya dan meminta gadis kecil itu turun. "Uncle!" ujar Nikita yang berubah moodnya secara tiba-tiba.
đ
Nikita memasuki kelas khusus anak-anak setelah menunjukkan bukti pendaftarannya pada panitia pelaksana kursus. Setelah saling memperkenalkan diri di dalam kelas itu. Instruktur mulai memberikan penjelasan singkat tentang alat seni yang akan mereka pelajari hari itu.
Rangga, seorang instruktur dari Indonesia memulai menjelaskan, "Angklung (Aksara Sunda Baku: áŽáŽáŽáŽŁáŽĽáŽ) adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang berkembang dari masyarakat Sunda. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil."
"Dictionary of the Sunda Language karya Jonathan Rigg, yang diterbitkan pada tahun 1862 di Batavia, menuliskan bahwa angklung adalah alat musik yang terbuat dari pipa-pipa bambu yang dipotong ujung-ujungnya menyerupai pipa-pipa dalam suatu organ, dan diikat bersama dalam suatu bingkai, digetarkan untuk menghasilkan bunyi."
Dengan semangat Nikita menyimak instruktur itu menyampaikan penjelasan dengan menggunakan bahasa Inggris, agar semua peserta dari berbagai negara bisa faham.
"Nah, sekarang mari kita lihat Kak Reisya dan teman-temannya yang akan memberikan contoh memainkan angklung." ujar Rangga sembari mempersilahkan Reisya dan beberapa mahasiswa lainnya dari Indonesia.
Mereka pun maju ke atas sebuah panggung rendah agar semua peserta yang masih kecil-kecil itu bisa melihatnya dengan jelas.
Reisya dan teman-temannya memainkan lagu nasional Tanah airku dengan sangat indah. Nikita sampai berdiri bertepuk tangan saking senangnya dengan persembahan tersebut. Ia menjadi pusat perhatian karena mengajak semua peserta untuk berdiri dan memberi aplaus.
Deg
Dada Aisyah berdebar hebat. Hatinya senang luar biasa melihat Nikita kecilnya ada di sini, begitu dekat dengannya. Ia ingin berlari ke sana memeluk putri kecilnya yang sangat ia rindukan.
Ia ternyata ada di balik layar di belakang panggung kecil itu, ingin menyaksikan penampilan sahabatnya yang baru saja dihubungi oleh panitia untuk tampil sebagai pembuka kursus seni pada pagi itu.
Matanya tanpa sadar mengeluarkan cairan bening yang selama ini selalu menemani kesendiriannya. Ia ingin keluar dari balik tirai itu dan langsung memeluk putri kecilnya tetapi instruktur langsung memanggil salah seorang peserta kursus untuk langsung menunjukkan bagaimana angklung itu digunakan. Dan ternyata Nikita yang paling antusias langsung maju ke depan sebelum di tunjuk.
"Memainkan sebuah angklung sangat mudah." ujar Rangga sang instruktur.
"Seseorang tinggal memegang rangkanya pada salah satu tangan (biasanya tangan kiri) sehingga angklung tergantung bebas, sementara tangan lainnya (biasanya tangan kanan) menggoyangnya hingga berbunyi seperti ini." Rangga memegang tangan Nikita agar mulai menggoyangkan alat itu. Dan berhasil Nikita sangat cepat merespon dan memahami perintah instruktur.
Rangga kemudian melanjutkan, "Dalam hal ini, ada tiga teknik dasar menggoyang angklung:
⢠Kurulung (getar), merupakan teknik paling umum dipakai, di mana tangan kanan memegang tabung dasar dan menggetarkan ke kiri-kanan berkali-kali selama nada ingin dimainkan.
⢠Centok (sentak), adalah teknik di mana tabung dasar ditarik dengan cepat oleh jari ke telapak tangan kanan, sehingga angklung akan berbunyi sekali saja (stacato).
⢠Tengkep, mirip seperti kurulung namun salah satu tabung ditahan tidak ikut bergetar. Pada angklung melodi, teknik ini menyebabkan angklung mengeluarkan nada murni (satu nada melodi saja, tidak dua seperti biasanya). Sementara itu pada angklung akompanimen mayor, teknik ini digunakan untuk memainkan akord mayor (3 nada), sebab bila tidak ditengkep yang termainkan adalah akord dominan septim (4 nada)."
"Kita tunggu di luar." ujar Reisya dan mengajak Aisyah untuk keluar dari ruangan itu. Aisyah mengangguk setuju ia akan menunggu Nikita di luar saja setelah kursus selesai.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya ini dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiah yang banyak supaya othor tetap semangat update nya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading đđđđđ