
Aisyah memberontak dari orang-orang yang menangkapnya. Ia berusaha kabur dari jeratan tali yang mengikat kuat kedua tangannya. Tetapi tubuhnya kembali ditangkap oleh salah seorang anggota black Shadow yang berwajah brewok menyeramkan itu.
"Lepaskan aku!" teriak gadis itu dengan suara melengking. Ia menendang dan memukul siapa saja yang berani mendekat.
"Gadis brengsek!" umpat pria itu marah. Ia merasa kesakitan karena kaki Aisyah berhasil mendaratkan tendangan pas di alat vitalnya.
"Andaikan kamu bukan tawanan istimewa, aku pastikan menikmati tubuhmu dulu baru kujadikan kau santapan harimau di hutan." geram pria itu sambil menahan sakit pada dua buah sumber energinya.
"Lepaskan aku bajingan! aku ingin ketemu ayah, kalian telah membunuh ayahku!" teriak Aisyah lagi histeris. Ia berteriak dan menghancurkan benda-benda yang ada di dalam ruangan yang tampak seperti gudang tak terurus itu.
Ia baru saja sadar dan mendapati dirinya sudah berada di tempat asing dan gelap. Rupanya ia dibawa kesana setelah diberi obat bius saat berusaha menolong ayahnya yang menjadi salah satu korban penyerangan kelompok bersenjata di Masjid tadi siang.
Flash back on.
Alexander Smith menodongkan moncong pistol Desert eagle kesayangannya yang mampu menembus sasaran dengan sangat akurat itu ke arah Murphy pimpinan black Shadow yang sedang menyandra Aisyah dan Nikita.
"Apa maumu keparat!" teriak Alex dengan suara menggelegar marah. Dua perempuan yang cukup dekat dengannya sekarang sudah jadi tawanan pria licik itu.
"Kami mau kepalamu Alex!" jawab Murphy dengan seringaian jahat. Ia menempelkan moncong pistolnya di kepala Aisyah.
"Daddy!" teriak Nikita ketakutan. Alex semakin menggeram marah.
"Lepaskan mereka. Lawan aku satu lawan satu!" teriak Alex lagi dengan rahang mengetat. Ia tak sanggup melihat Nikita gadis kecilnya itu ketakutan.
"Hahaha, kamu itu cerdik Alex, aku tak akan tertipu lagi olehmu." ujar Murphy kemudian menempelkan ujung senjatanya di pelipis Aisyah. Tubuh perempuan muda itu gemetar takut setengah mati tetapi ketika ia melihat ayahnya yang sedang berusaha berdiri karena telah terkena tembakan di tubuhnya, ia langsung memberontak dan berlari ke arah Mohammad Yusuf.
"Ayah!" teriaknya yang langsung mengalihkan perhatian Murphy dan pada saat itulah mata awas Alex mengambil kesempatan dengan menarik pelatuk desert Eaglenya dan,
Bussshh
Peluru berdiameter 55 mm itu berhasil menembus jantung Murphy dalam hitungan detik. Senjata ditangannya langsung terjatuh ke lantai.
"Tepat sasaran." gumamnya pelan. Murphy yang masih punya satu nyawa lagi tidak tinggal diam, sembari memegang dadanya yang tertembus peluru Alex dengan cepat meraih Nikita yang masih berada disampingnya dan mendorong kursi roda itu keras hingga Nikita terjerembab ke lantai.
"Daddy!" teriak Nikita kesakitan. Kakinya yang selama ini sakit dan retak kini menyentuh lantai itu dengan kasar.
"Huaaaa Daddy!" tangis gadis kecil itu sungguh memilukan.
Busssh
Sekali lagi peluru Desert Eagle itu meluncur cepat dan berhasil menumbangkan Murphy tanpa perlawanan yang berarti. Dua tawanan penting telah bebas. Albert dan Maksim yang bersiap sedari tadi membidik anggota Black Shadow lainnya segera menurunkan senjata dan bersegera menolong korban yang berjatuhan. Mereka banyak yang tertembak di kaki dan bahu serta tangan, tidak ada mengenai alat-alat vital mereka.
"Alex selamatkan Aisyah!" ujar Paman Yusuf yang sedang berusaha duduk dengan terpaksa karena pahanya sudah mengeluarkan banyak darah yang menodai pakaian sholatnya. Rupanya ia juga terkena tembakan kelompok bersenjata beringas itu.
"Aisyah?" tanya Alex kaget.
"Kemana putri paman?" Ia tadi melihat gadis itu berhasil melepaskan diri dari tawanan Murphy kenapa gadis itu sekarang tidak ada.
"Ada salah satu anggota mereka yang membawa paksa putriku." jawab Paman Yusuf sembari meringis menahan perih di pahanya.
"Albert, cepat ke sini!" panggil Alex pada Albert yang sedang sibuk memberikan pertolongan pertama pada korban lainnya.
"Hubungi dokter di Rumah sakit terdekat, agar membawa ambulans kemari. Mereka perlu pertolongan secepatnya." perintah Alexander dengan tegas. "Aku yang tanggung semuanya!" lanjut Alex kemudian memandang paman Yusuf,
"Aku dan Maksim akan memburu penculik Aisyah, paman. Tenang saja. " ujar Alex sembari mengelus bahu pria tua itu.
"Maksim let's go!" ajak Alexander tetapi sebelumnya ia menciumi wajah Nikita yang tak berhenti menangis karena kasihan dengan ibu Aisyah ditambah kakinya yang sangat sakit.
"Hati-hati Dad, bawa Ibu Aisyah secepatnya kemari."
"Tuhan bersama mu Daddy." teriak Nikita ketika mobil yang ditumpangi mereka berdua mulai melaju menuju hutan di pegunungan. Seorang warga selamat telah melaporkan kalau para penyerang itu menuju daerah yang cukup berbahaya itu.
Flash back off.
Aisyah menatap Azzam dengan penuh kebencian. Ia sampai meludahi wajah pria yang menjadi otak penyerangan kelompok bersenjata di desa mereka.
"Dasar pria tidak tahu malu!" teriak gadis itu marah.
"Tidak kusangka orang yang selama ini kami hargai seperti anda malah menjadi penyebab kematian warga sekitar." Azzam hanya menyeringai melihat kemarahan gadis yang selama ini ingin ia jadikan pendamping hidupnya. Ia menghampiri Aisyah dan langsung mencengkeram lengan gadis itu kasar.
"Itu semua karena kamu sayang," bisiknya di kuping gadis itu sembari menikmati aromanya yang sangat ia inginkan.
"Kamu yang selalu menolak ku!, " teriak Azzam marah.
"Apa kekuranganku hah! hingga hanya kamu seorang yang tak mau melihatku."
"Ketika semua gadis ingin dinikahi olehku, kenapa kamu malah selalu menolak?" kali ini Azzam menarik paksa Aisyah dan melemparkannya ke sebuah balai-balai tua di tempat itu.
"Awwwww," teriak Aisyah kesakitan karena jatuh pada tempat yang sangat keras.
"Seharusnya engkau sudah jadi milikku dari dulu, tetapi si Alex keparat itu menggagalkan rencana ku waktu itu." ujar Azzam sambil membuka kancing bajunya dan melepaskannya di depan Aisyah tanpa malu. Gadis itu mendorong tubuhnya ke dinding dengan ketakutan. Azzam semakin mendekat dengan celana yang sudah terbuka juga. Kali ini ia harus memiliki gadis itu agar rasa penasarannya segera terobati.
"Tidak!"
"Tolong!, jangan lakukan ini padaku." hiba Aisyah ketakutan. Ia berteriak sekuat tenaga agar ada yang mendengarkan ketakutannya.
"Tolong! siapa pun di luar sana tolong aku!" teriaknya terus sampai Azzam langsung menutup mulutnya dengan selembar kain yang sudah diberi obat bius. Hingga lama kelamaan suara dan tenaga gadis itu menghilang dan hanya tinggal deru nafas Azzam saja yang sedang memburu karena hasrat yang semakin memuncak karena tangannya dengan bebas melepaskan semua pakaian Aisyah hingga tersisa pakaian dalamnya saja.
Bugh
Ditengah-tengah kebahagiaan pria itu menikmati setiap inci dari tadi tubuh Aisyah yang hampir polos, ia merasakan tubuhnya melayang dan terlempar ke dinding.
"Awww," teriaknya kesakitan. Di depan matanya Alexander menatapnya tajam seakan menembus jantungnya.
"A-Alex?" tanyanya kaget luar biasa. Ia sudah bisa membayangkan apa yang selanjutnya akan terjadi.
Bugh
Sekali lagi Kaki panjang itu mengenai rahangnya, hingga semua giginya rasanya rontok. Darah segar keluar dari sana.
"Dasar pecundang!" teriak Alexander emosi. Tangannya sudah gatal menarik pelatuk desert eagle kesayangannya, tetapi bayangan janjinya sendiri yang akan memperbaiki dirinya agar lebih baik kedepannya membuatnya mengurungkan niatnya menghabisi pria bajingan itu. Sepatu larasnya ia gunakan untuk menginjak tangan Azzam hingga hancur.
"Itu untuk tangan mu yang telah menyentuh Aisyah!" kemudian kakinya berpindah ke kepala pria itu, dengan sekali tendangan tubuh Azzam terkapar di lantai kasar dan dingin itu.
"Semoga kamu bisa melupakan kalau kamu pernah menatap tubuh Aisyah." Alex melirik sejenak tubuh Azzam yang sudah tidak bergerak. Kemudian ia menuju tempat dimana Aisyah Putri paman Yusuf itu berada. Tubuh putih mulus gadis itu entah kenapa membangkitkan kembali hasrat liar yang sudah lama menghilang sejak kepergian Paula dari sisinya. Hal yang biasa yang sering terjadi pada dirinya dulu ketika ia telah melakukan sebuah misi besar yang sangat berbahaya maka pelampiasan kesuksesannya adalah dengan bercinta dengan gadis-gadis pilihan.
Menelan salivanya kasar ia dengan penuh perjuangan menahan sesuatu yang sedang berontak dibawah sana, ia mencari pakaian gadis itu yang sudah berserakan di lantai kemudian memakaikannya asal. Ia tak mau berlama-lama dengan gadis ini atau ia akan sama saja dengan Azzam.
---Bersambung---
🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar aku semakin semangat update nya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍