
Di sebuah rumah mewah di tengah kota Moskow.
Dimitri Kremlin memukul meja kaca yang ada di depannya sampai pecah. Ia menatap tajam seorang anggotanya yang sedang membawa kabar buruk.
"Bagaimana mungkin Omar bisa lolos dari tuduhan itu, hah!" ujarnya dengan emosi di dadanya.
"Alexey Geizer mengakui semuanya boss."
"Tidak mungkin!, ia sudah kubayar mahal dan kujanjikan sebuah kedudukan penting di rumah sakit itu untuk karirnya kedepan."
"Tapi itulah kenyataannya, Boss."
"Apa mungkin ia mendapat ancaman dari orang yang lebih berkuasa daripada aku, hah!"
"Dugaan Anda benar sekali boss. Ia adalah Alexander Smith. Ia yang telah mengeluarkan Omar dari penjara dan mengganti semua dana yang dikorupsi oleh Alexey Geizer itu."
"Apa hubungannya Alex Dengan Omar, kenapa ia berani sekali mencampuri urusanku?"
"Ia ternyata adalah saudara ipar Omar, boss. Hubungan mereka sangat baik."
"Brengsek! Carikan celah untuk menghancurkan Alex itu. Aku tak mau ia maju dalam pemilihan umum nantinya."
"Siap Boss!" Dimitri Kremlin pun tersenyum menyeringai. Ia tak akan rela melihat Alex maju ke parlemen.
🍁
Albert pulang ke rumah dan bergabung untuk makan malam setelah mengantar Reisya pulang ke Asramanya. Ia begitu Bahagia sampai tersenyum-senyum sendiri mengingat bagaimana interaksinya dengan gadis manis dari Indonesia itu sepanjang perjalanan tadi.
Flashback on
"Reisya, kamu sudah punya pacar?" tanyanya pada gadis yang sedang duduk tenang di sampingnya. Seketika Reisya langsung menatap wajah Albert yang sedang fokus mengemudi. Ia tak menyangka pria Rusia ini berani bertanya hal yang menurutnya tabu dan rahasia ditanyakan oleh orang yang baru ditemuinya.
Krik
Krik
Krik
Sepi. Albert menoleh memandang sekilas wajah Reisya menunggu jawaban kemudian ia memandang kembali jalanan di depannya.
"Tidak tuan. Aku belum memikirkannya." jawab Reisya akhirnya setelah suasana di mobil begitu hening dan sepi.
"Kamu mau berkencan denganku?" tanya Albert lagi dengan ekspresi tak terbaca. Reisya langsung tersedak dengan liurnya sendiri. Ia sampai terbatuk-batuk karena diberikan pertanyaan yang sangat tabu baginya.
Di negaranya ia tidak pernah mendengar seorang pria bisa blak-blakan begitu menawari perempuan seperti dirinya dengan begitu santai.
"Hey ada apa? Nih minum dulu." ujar Albert sembari menyerahkan sebotol air mineral yang masih tersegel itu.
"Kamu tak harus menjawab sekarang, aku cuma mau bilang aku tertarik padamu, Reisya."
Uhuk
Sekali lagi Reisya tersedak air yang sedang diminumnya. Albert langsung memberinya selembar tissue dan membelokkan mobilnya ke dalam halaman sebuah toko bunga yang kebetulan mereka lewati.
Albert turun dari mobil dan memberikannya sebuket mawar merah segar dan cantik.
"Orang tuaku menunggu aku kembali ke tanah air sebagai seorang sarjana atau Bachelor of Education, tuan."
"Mohon maaf aku belum bisa menerima tawaranmu." jawab Reisya sembari menyerahkan kembali buket bunga itu ketangan Albert.
"Kamu membuatku kecewa Reisya." ujar Albert dengan suara pelan.
"Setidaknya terima bunga ini sebagai tanda persahabatan kita." Albert menatap buket bunga itu kemudian menyerahkannya kembali kepada Reisya. Gadis itu langsung tersenyum,
"Baiklah kita bersahabat saja, tuan." ia pun mengambil bunga itu dan menyimpannya di pangkuannya. Albert tersenyum samar. Ia yakin bisa mendapatkan Reisya seiring berjalannya waktu.
"Besok Nikita ada jadwal kursus lagi, aku harap kita bisa bertemu di sana." ujar Albert pelan.
"Aku yang akan mengantarnya." lanjut Albert kemudian melanjutkan perjalanannya ke asrama Reisya di sekitar kantor KBRI.
"Aku ada ujian dengan Aisyah besok tuan, mungkin sampai sore kami baru bisa pulang. Kami mungkin akan sangat sibuk kedepannya karena ini adalah ujian di semester terakhir sebelum membuat tesis."
"Aku akan tetap menunggu sampai kamu ada waktu." ujar Albert tak ingin menerima bantahan. Ia akan memaksa Aisyah agar ia bisa diberi kesempatan untuk mendekati gadis manis ini. Ia yakin dengan perhatian lebih Reisya pasti bisa menerimanya.
"Terserah padamu tuan. Aku hanya ingin berhasil menempuh pendidikanku ini. Karena aku masuk lewat jalur beasiswa, jadi kalau aku gagal dan hanya sibuk memikirkan hal yang tak berguna aku takut biaya dari pemerintah akan disuruh kembalikan." ujar Reisya yang berarti Albert harus paham posisinya. Pria itu terdiam, setidaknya dengan memaksakan kehendaknya, ia jadi banyak tahu kondisi Reisya saat ini.
"Baiklah Reisya aku hanya akan menjadi sahabatmu saja. Kalau kamu ada perlu bantuan, jangan sungkan, okey?"
"Terima kasih tuan." Albert tersenyum. Tidak mudah memang mendapatkan hati wanita baik-baik. Tetapi ia tetap akan berjuang. Selama ini ia banyak bergaul dengan banyak wanita yang gampang terbujuk karena ketampanan dan juga kejayaannya. Tetapi sekali lagi gadis ini beda. Albert pastikan Reisya harus bisa menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.
Tanpa sadar ia tersenyum sendiri membayangkan tekadnya yang begitu kuat, apalagi mereka dari latarbelakang bangsa yang berbeda. Untunglah keyakinan mereka sama, setidaknya itu sudah jadi poin penting.
Flash back off
"Uncle Al? tumben kamu tidak suka makan." tegur Nikita yang memandang Albert tidak menyentuh makanan yang terhidang di atas meja. Ia hanya sibuk menghayal dan kadang tersenyum sendiri. Bahkan piringnya pun masih kosong.
"Oh, ah..Aku lagi diet Niki." jawab Albert singkat. Ia kemudian mengisi piringnya dengan salad buah saja.
Maksim hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Karena bukan hanya Albert yang tampak aneh malam itu. Anna Peminov lebih ekstrim lagi. Ia tidak berhenti menatap dokter Omar sembari terus mengisi piring di depannya sampai penuh dan tumpah kemana-mana.
"Anna!" bentaknya karena mulai tak nyaman dengan agen cantik tapi sangat memalukan itu. Semua yang ada di meja makan langsung menatapnya dengan tanda tanya di wajah mereka.
"Ada apa Max, kenapa kamu harus berteriak. Aku kan tidak tuli dan lihat ini kupingku." ujar Anna sembari menunjuk kupingnya.
"Kamu selalu mengganggu kesenanganku." gerutu Anna lagi kemudian mulai mengunyah tanpa melepaskan pandangan kagumnya pada sang dokter.
Maksim lalu meraup wajahnya kasar.
"Ada apa Max?" tanya Alex yang ikut penasaran akan semua keanehan di meja makan ini. Ia jadi sedikit tak nyaman dengan kakak iparnya dan juga Istrinya akan tingkah mereka yang tidak sopan di meja makan.
"Ah tidak ada apa-apa, lupakan." jawab Maksim kemudian mengibaskan tangannya tanda ia tak ingin membahas ini semua. Mereka yang sedang jatuh cinta membuatnya merindukan seseorang yang ada di Dagestan nun jauh di sana. Ia berharap Alexander punya waktu untuk kembali ke desa itu hingga ia punya alasan untuk menemui cinta pertamanya, yang tak bisa ia lupakan.
----Bersambung---
Hai, readers tersayangnya othor, mana nih dukungannya untuk aku...like dan komentar dong agar aku tambah semangat updatenya.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍