
POV Alexander Smith
Aku segera meninggalkan Aisyah yang sedang menatapku dengan pandangan sayu, aku tahu ia sangat menikmati sentuhan yang aku berikan padanya. Sungguh aku ingin memakan istriku ini saat itu juga. Tetapi aku tak bisa mengabaikan Nikita yang berteriak histeris karena mengigau.
Aku melangkah cepat menghampiri ranjang Nikita dan memberikan pelukan sayang pada gadis cilikku itu. Aku membisikkan kata-kata penghiburan agar ia bisa tidur kembali.
"Mommy, hiks. Don't leave me!" sekali lagi ia berteriak dalam mimpi buruknya. Aisyah kulihat perlahan meraih Nikita dari pelukanku. Dan memberi kode agar ia saja yang menenangkan gadis kecilku itu.
"Ssssh, mommy ada di sini sayang, Mommy tidak akan kemana-mana. Tidur ya?" bisik perempuan itu ditelinga Nikitaku. Ia mengelus lembut punggung putriku itu yang masih terisak dalam tidurnya.
"Mommy," panggil Nikita lagi dan merapatkan lagi pelukannya pada tubuh Aisyah. Ia tampak seperti ketakutan yang sangat. Takut ditinggalkan. Sampai Aisyah merasa sesak dibuatnya. Aku segera meraih kembali Nikita dan menidurkannya pelan di ranjangnya. Aku ingin berbaring di situ memeluk tubuh putriku yang masih terisak.
Aisyah pun membaringkan tubuhnya di samping kanan Nikita. Malam itu kami tidur bertiga. Tanganku menggenggam tangan Aisyah posesif yang sedang memeluk putriku.
🍁
Esok paginya Nikita menggeliat pelan diantara tubuh kami berdua.
"Daddy, Mommy, bangun sholat subuh!" teriak Nikita dengan suara nyaring. Ia bagaikan alarm yang bertugas membangunkan kami berdua.
Aku segera melepaskan genggaman tanganku pada Aisyah yang ternyata masih betah di sana semalaman. Segera kulangkahkan kakiku ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian mengambil air wudhu. Aku akan sholat subuh sendiri. Aku belum berani jadi imam dalam keluargaku. Takut membuat Aisyah malu punya suami belum pintar ngaji.
Setelah itu Maksim dan Albert datang dan menanyakan rencana wisata kami selanjutnya.
"Kita akan mengunjungi tempat-tempat bersejarah di kota ini." putusku yang di setujui oleh semuanya.
Aku meminta Maksim membawa Nikita keluar duluan dan menunggu kami di mobil dengan dalih ingin melakukan sesuatu terlebih dahulu. Maksim paham dan segera membawa putri kecilku itu jalan terlebih dahulu. Aisyah pun ingin ikut tetapi aku segera menarik tangannya. Aku ingin melanjutkan yang semalam, rasanya aku belum puas sebelum kulihat ia berteriak meminta ampun.
Perlahan kubawa ia ke ranjang dan mulai memberikan sentuhan pada bibirnya yang seakan sudah menjadi candu buatku. Ia mulai membalas apa yang aku tawarkan sampai aku merasakan tubuhku terbakar, Aisyah malah meninggalkanku dengan senyum menggoda.
"Aku tak mau jadi mommy yang tak tahu diri." ujarnya pelan sembari memperbaiki pakaiannya yang sempat aku buka bagian atasnya.
"Nikita pasti menunggu kita, jangan biarkan ia curiga, tuan." aku menjambak rambutku frustasi. Ia sekarang sudah pintar mempermainkan aku. Dengan cepat kuraih pinggangnya dan melemparkannya ke ranjang, Tawanya yang renyah semakin membuatku bersemangat. Hingga bunyi bel di pintu menghentikan aksiku yang sudah berada di atas tubuh istriku itu.
Nikita memandangku tajam saat pintu aku buka. Ia berdiri di sana bersama Maksim yang nampak serba salah.
"Daddy! Mommy! apa yang kalian lakukan, aku sama uncle Max sudah lama menunggu." aku meremas tengkukku gemas.
"Daddy minta maaf, tadi mommy nakal jadi Daddy kasih dia hukuman," jawabku sekenanya. Aisyah yang berdiri di samping ku langsung mencubit pinggangku keras.
"Awww, tuh lihat Mommy nakal kan. Ayok cepat kita berangkat." ujarku kemudian melangkah mendahului mereka semua yang masih terbengong-bengong.
Sebelum masuk ada pemeriksaan keamanan. Lokasinya di Red Square. Setelah dari sana kami melanjutkan perjalanan ke STATE HISTORICAL MUSEUM. Museum yang berlokasi di Red Square 1 ini didirikan tahun 1872 dan memiliki lebih dari satu juta artefak. Menjadi salah satu sarana untuk mempromosikan sejarah dan warisan Rusia. Bangunan ini sangat khas dengan warna merahnya.Tiket: 700 rubel. Jam buka: Senin-Minggu pkl.10.00-18.00, Jumat-Sabtu pkl.10.00-21.00
Setelah makan siang di ARBATSKAYA STREET. Ini nama jalan terkenal di Moskow dengan banyak restoran, kafe, klub malam hingga penjual suvenir dan seniman. Kurang lengkap ke Moskow tanpa menyusuri jalan ini dengan jalan kaki saat siang maupun malam hari. Relatif aman bagi turis, dan jalanannya pun cukup lebar untuk dilalui wisatawan. Tapi tidak ada salahnya selalu waspada di mana pun.
Aku meminta Albert membawa kami ke KREMLIN.
Kompleks benteng luas dengan 20 menara yang berada di pusat kota Moskow ini dibangun dari batu bata pada abad ke-15. Temboknya memiliki panjang lebih dari 2 km, tinggi hingga 19 m, lebar 3,5-6,5 m dan luas 27,5 ha.
Di dalam kompleks ini kita akan menemukan banyak gereja. Namun satu tempat yang menjadi tujuan utamanya adalah Armoury Chamber, di mana kita bisa melihat bermacam-macam benda pusaka seperti kereta kuda, mahkota, perhiasan, pakaian dan senjata milik tsar (kaisar).
Tiket: Kremlin 700 rubel, Armoury Chamber 1.000 rubel serta jam buka,Summer season (15 Mei-30 September): 09.30-18.00 (loket tiket buka 09.00-17.00), Kamis tutup.
Nikita dan Aisyah ternyata sangat menyukai tempat ini, terlihat dari ekspresi wajah mereka yang sangat gembira karena mereka bisa bertemu dengan banyak siswa yang sedang melakukan study tour.
Aisyah karena seorang guru dengan meminta izin kepadaku terlebih dahulu, ia dan Nikita mengikuti rombongan anak sekolahan itu. Aku, Maksim, serta Albert memberi kode bahwa kami bertiga menunggunya di sebuah tempat ruangan untuk beristirahat.
Tak berapa lama kami menunggu, sekelompok siswa tadi bersama beberapa guru yang mengantar mereka berlarian ke arah kami dengan berteriak bahwa ada perampok di dalam sana. Dalam sepersekian detik instingku mengatakan ada bahaya karena kudengar ada suara tembakan dari arah jam 10, tepatnya di Armoury Chamber.
"Max lacak di mana Nikita!" seruku panik. Aku sengaja memakaikan gelang GPS pada tangan Nikita karena aku tahu ia suka bermain jauh, tapi tidak dengan Aisyah. Dalam hati aku berharap keduanya tidak berpisah.
Duarr
Tembakan kedua terdengar lagi, aku segera berlari ke sana setelah mengetahui bahwa posisi Nikita benar-benar berada di sana di lokasi bunyi tembakan itu berasal.
"Hey, ada apa?" tanyaku panik kepada seseorang yang sedang berlari dari arah Armoury Chamber.
"Sekelompok perampok sedang menyandra beberapa orang di sana. Mereka meminta kode akses penyimpanan Perhiasan berharga kaisar." jawab orang itu dengan nafas memburu. Aku memerintahkannya keluar dan meminta pertolongan. Sedangkan aku, Maksim dan Albert sudah bersiap dengan mengeluarkan senjata api dari dalam saku jas kami.
---Bersambung---
Hai readers tersayangnya othor, mana nih dukungannya untuk Babang Alex, like dan komentar ya gaess. Ada bunga untuk Alex yang akan menyelamatkan Nikita dan Aisyah??? ayo dong bagi vote dan hadiahnya.
Dan Jangan lupa mampir nih di karya teman othor, dijamin oke punya.
Zero nama yang diberikan oleh Mak Salmah, wanita yang menemukan bayi merah diantara onggokan sampah. Dia dibesarkan, di perkampungan kumuh, tempat para pemulung tinggal. Tubuhnya yang bulat pendek, karena pertumbuhan yang tidak sempurna membuat dirinya dipanggil si kerdil oleh teman-temannya. Seiring berjalannya waktu, Zero tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat baik dan menjadi tulang punggung keluarga. Saat Zero sedang mengais sampah, dia menemukan sebuah ponsel jadul yang memberinya berbagai misi. Dari misi-misi itu Zero bisa menolong banyak orang dan akhirnya akan membuat Zero menjadi seorang yang kaya raya hingga bisa mengentaskan kemiskinan di sekitar tempat tinggalnya.