Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 66 EMHD



Aisyah langsung berlari memeluk kakak laki-lakinya, Omar. Ia begitu senang karena pria yang selama 3 tahun ini hidup bersamanya ini baik-baik saja meskipun dalam keadaan yang sangat kacau.


"Darimana saja kak, 2 hari ini aku tidak mendengar kabar darimu. Dan sekarang kamu juga sangat bau. Apa sekarang Rumah Sakit berubah jadi tempat yang sangat kotor, kak?" tanya Aisyah dengan bibir mengerucut penuh omelan. Semua orang yang ada di ruangan itu tersenyum dengan tingkah nyonya Smith yang begitu manja pada kakaknya.


Aisyah bahkan mengendus pakaian kakaknya yang kurang rapi dan juga sedikit bau itu dengan gaya yang sedikit didramatisir. Maklum selama mengumpulkan bukti-bukti di rumah sakit Omar tidak pernah lagi mengurus dirinya sendiri dan pada akhirnya berakhir di kantor polisi tanpa perlakuan yang istimewa. Ia disimpan di dalam sel yang tidak bersih dan bergabung dengan para tahanan yang sangat kucel dan bau.


Alex langsung menarik tubuh Aisyah dan memeluknya posesif. Ia langsung membisikkan kata-kata manis penuh rayuan dikuping perempuan itu yang membuat wajah istrinya berubah merah karena malu.


"Aku jauh lebih harum daripada kakakmu sayang, aku menanti sebentar malam kamu harus menciumi aroma tubuhku sampai puas."


"Alex, apa kamu tidak malu dilihat semua orang." jawab Aisyah dengan bisikan pula sembari mencubit pinggang suaminya keras.


"Awww," teriak Alex pura-pura kesakitan padahal cubitan itu tak sampai bisa menarik kulitnya sedikit pun yang begitu liat dan keras.


"Aisyah, aku senang sekali bertemu kamu disini di rumah suamimu. Dan kuharap kamu selalu bahagia." ujar Omar dengan senyum cerahnya. "Ngomong-ngomong dimana Nikita, sedari tadi aku tidak melihatnya." Omar mengarahkan pandangannya mencari sosok gadis kecil yang pernah ia periksa kakinya.


"Nikita sedang sibuk belajar di kamarnya Kak " jawab Aisyah dengan senyum tak kalah cerahnya. Ia sangat senang hari ini karena mendapati kakak dan suaminya saling bertemu dan memaafkan.


"Maaf, aku benar-benar sangat bau sekarang. Kurasa aku harus mandi dan berganti pakaian." ujar Omar lagi seakan meminta tuan rumah meminjamkan satu set pakaian untuknya.


"Max, bawa Kak Omar untuk membersihkan diri di kamarmu." titah Alex kepada Maksim yang selalu cepat tanggap.


"Mari tuan Omar, akan kutunjukkan kamarku. Kamu juga bisa istirahat di sana." ujar Maksim kemudian membawa kakak laki-laki Aisyah itu untuk segera ke kamarnya karena waktu magrib pun akan segera tiba.


Alex dan Aisyah beranjak ke kamarnya juga. Sedangkan Anna hanya diam melongo. Tidak ada yang mengajaknya berbasa-basi. Ia langsung berlari ke arah Alex dan menghadang perjalanan sepasang suami istri yang sedang berjalan sambil berpegangan tangan itu.


"Maaf, boss. Aku harus kemana?" tanyanya dengan wajah polos.


"Oh, Agen Anna aku mohon maaf lupa memperkenalkanmu dengan istriku yang cantik ini. Aisyah ini Anna Peminov, dia agen yang membantu Kak Omar keluar dari masalah besar yang melilitnya. Dan Anna, ini istriku Aisyah." mereka berdua pun saling menyapa dan bersalaman.


"Aku harap bisa menjadi saudara ipar mu Nyonya Smith." ujar Anna Peminov tanpa malu. Karena ia begitu tertarik dengan Omar sejak pertama kali bertemu.


"Itu ide yang bagus Anna, Kak Omar itu orangnya sangat kaku dan kuharap kamu bisa memenangkan hatinya." jawab Aisyah dengan senyum senang.


"Ayah sudah lama menyuruhnya menikah. Berjuanglah Anna hihihi." Aisyah tertawa sendiri membayangkan kakaknya menikah dengan seorang agen seperti Anna yang tomboi.


"Pergilah Anna, terima kasih atas bantuanmu." ujar Alex bermaksud mengusir gadis tomboi namun cantik itu dari hadapannya.


Anna pun permisi dari hadapan big bossnya dan melangkah ke kamar Maksim. Dulu ia dan Maksim sering berlatih bela diri dan juga menembak bersama. Ia bahkan sering tidur di kamar Maksim jika sedang berkunjung kemari menanti tugas rahasia dari sang bos Mafia, Alexander Smith. Mereka seperti seorang saudara dan sahabat.


Perlahan Anna membuka pintu kamar Maksim dan mendapati Omar sedang memilih baju Maksim dengan hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya yang kuat. Anna bisa merasakan air liurnya menetes disertai debaran jantung yang lebih cepat dari biasanya.


"Wow, tampan dan Seksih." ujarnya tanpa sadar. Maksim yang kebetulan ada di sana langsung melemparinya dengan sebuah pisau kecil.


Seet


Prang


"Maaf, nona Peminov. Kurasa anda salah kamar." ujar Omar sopan. Ia merasa risih ditatap seperti oleh seorang gadis cantik.


"Tidak dokter, aku tidak salah kamar. Aku baru saja terkena pisau nyasar dan sekarang tanganku pasti sedang patah. Maukah dokter memeriksaku?" ujar Anna berubah manis. Maksim langsung menatapnya tajam. Ia tak pernah melihat gadis tomboi seperti Anna bisa berakting sangat manis seperti itu.


Seeet


Sekali lagi ia mengambil satu buah pisau kecil di dalam jaketnya dan menyerang Anna kembali dan...


"Aaakh." Anna berteriak kesakitan karena pisau itu berhasil menembus bahunya.


Maksim begitu kaget karena tak menyangka Anna tidak menangkis dan menghindari serangannya seperti biasa. Ia segera berdiri ingin menolong mencabut pisau itu. Tetapi Anna mengangkat tangannya memberi tanda untuk tidak mendekat. Maksim paham rupanya ini permainan murahan dari seorang gadis yang sedang jatuh cinta.


"Aaaaakh, dokter Omar selamatkan aku, darahnya keluar banyak sekali." teriaknya dengan sangat dibuat dramatis. Omar tanpa aba-aba langsung melompat untuk menolong. Ia lupa kalau sedang tidak berpakaian dengan benar. Sedangkan Maksim hanya menutupi wajahnya dengan bantal pura-pura tidur. Ia berharap Anna tidak mempermalukan dirinya sendiri didepan dokter dingin itu.


"Maaf dokter." bisik Anna pelan karena tangannya sekarang tak sengaja menyentuh sesuatu di dalam handuk Omar yang sedang tidak memakai pengaman karena baru saja keluar dari kamar mandi.


Omar langsung tersadar dan memundurkan dirinya. Ia berdehem karena merasa sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya. Ini pertama kalinya ia berdekatan seperti ini dengan lawan jenis. Dan yah gadis asing dan cantik yang dengan berani menyentuhnya sampai bagian intimnya.


"Tidak apa, pasti karena anda tidak sengaja. Nah sekarang tutup matamu dan saya akan mencabut pisaunya."ujar Omar kembali bersikap profesional layaknya sedang bekerja di Rumah Sakit.


"Tahan ya nona, ini pasti sakit pada awalnya, setelah ini akan saya kasih obat anti nyeri. Dan saya yakin tuan Maksim pasti mempunyai kotak P3K disini." ujar Maksim sembari mencari kotak ia maksud. Dan ia tersenyum senang karena berhasil mendapatkannya.


"Aaaakh!" teriak Anna penuh drama padahal lukanya sangatlah tidak dalam. Omar membantu membuka jaket kulit yang sedang dipakai Anna kemudian membersihkan luka tusukan itu dengan Betadine selanjutnya memberinya plester agar luka tersebut bebas dari infeksi.


"Nah selesai nona. Saya yakin sembuhnya pasti cepat karena lukanya tidak dalam." Anna tersenyum sangat manis.


"Terimakasih banyak dokter. Untung anda ada di sini. Kalau tidak aku pasti akan mati kehabisan darah. Kau tahu? Kamar ini punya banyak jebakan."


"Ya ya saya mengerti. Sekarang saya ingin memakai pakaian. Maaf nona, karena telah melihat penampilan saya seperti ini." ujat Omar sembari meraba dadanya yang bidang. Mata Anna langsung kembali cerah, membayangkan dada, perut dan benda yang sempat ia pegang tadi menjadi miliknya. Hemmm.


"Nona Peminov, bisa anda keluar dulu?" ujar Omar membuyarkan lamunannya.


"Eh, iya dokter. " Anna segera keluar dari sana dengan langkah cepat karena dari ekor matanya ia melihat Maksim kembali akan melemparinya pisau.


---Bersambung--


Anna Hem... pegang apa kamu tadi???


Ada yang penasaran dengan Anna dan Omar???


Nantikan terus kisah halu ini hanya di NT. Like dan komen dong...


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍