Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 81 EMHD



Maksim masih sangat bingung bagaimana caranya ia bisa mempunyai waktu khusus dengan Maryam. Ia ingin meminta bantuan pada Aisyah tapi ia juga tak enak hati karena hubungan boss dan istrinya itu belumlah bisa dikatakan membaik.


Anak perempuan dari Mohammad Yusuf itu belum mau bertemu dengan Alex. Hingga ia merasa stress sendiri dengan keadaan ini. Rasanya ia ingin menculik saja kedua perempuan itu ke suatu tempat. Aisyah untuk Alex dan Maryam untuknya.


Alex yang sejak tadi memperhatikan tingkahnya langsung menghampirinya.


"Max, ada apa?" tanya Alex dengan wajah penasaran.


"Hem, aku memikirkan istrimu." jawab Maksim dengan senyum di wajahnya dan langsung mendapat pelototan tajam dari Alex.


"Berani kamu ya?"


"Eh, maaf. Bukan nyonya Smith yang aku pikirkan tetapi aku memikirkan kebodohanmu yang tidak menggunakan jalur pemaksaan agar ia mau memaafkanmu ,bos." ujar Maksim sambil menarik nafas berat. Ia sudah mulai bosan menunggu perkembangan hubungan Alex dan Aisyah yang masih jalan di tempat sedangkan ia ingin sekali melamar Maryam sekarang juga. Senyum gadis manis itu membuatnya gila.


"Apa kalau aku paksa ia malah akan semakin benci padaku, Max?" nampak sekali kalau Alex juga bingung dengan keadaan ini.


"Aku bahkan sudah membujuk ayah dan bibi Sarah agar mau membantuku agar Aisyah mau bicara denganku tapi sepertinya rasa bencinya padaku belum juga surut." ujar Alex dengan wajah sendu.


"Aku akan bicara pada Nikita, semoga ia bisa membantu." Maksim berdiri dari duduknya dan melangkah keluar dari rumah itu. Tetapi ketika ia sampai di ambang pintu, ia berbalik dengan senyum di wajahnya.


"Bersiaplah sebagai orang sakit. Pastikan kakimu patah agar istrimu datang menolongmu." ujar Maksim dengan sejuta rencana di otaknya.


"Patah? apa aku harus memanjat pohon besar di depan rumah dulu supaya kakiku patah?" tanya Alex sembari tersenyum penuh arti.


"Boleh juga kalau itu bisa membuatmu lebih menghayati peranmu sebagai pasien." Maksim berlalu dengan senyum samar di wajahnya. Sedangkan Alex mulai berpikir dengan keras bagaimana caranya agar rencana ini berhasil.


🍁


"Assalamualaikum bibi." sapa Maksim saat bertemu dengan bibi Sarah yang sedang menemani Aisyah berjalan-jalan di taman bunga di samping rumah kepala suku Avar itu.


"Waalaikumussalam Max. Ada yang bisa bibi bantu?" Bibi Sarah meletakkan beberapa tangkai mawar yang baru ia petik untuk disimpan di vas bunga di dalam rumah.


"Aku mencari Nikita bibi." ujar Maksim dengan suara agak besar. Ia berharap Aisyah sang nyonya muda Smith itu mendengarkan apa yang akan ia sampaikan.


"Oh, Nikita tadi bersama nona Peminov. Katanya ia ingin belajar menunggang kuda di daerah perkebunan di sebelah barat tempat ini." jawab Bibi Sarah dengan pandangan tanya di wajahnya.


"Memangnya ada apa, Max? aku akan sampaikan pesanmu nanti padanya."


"Aku dan Alex akan segera kembali ke Moskow pagi ini." jawab Maksim masih dengan suaranya yang besar berharap Aisyah peka dan paham maksudnya. Dan ia tersenyum karena perempuan itu langsung bereaksi dan memandangnya sekilas kemudian melanjutkan aktivitasnya memotong daun-daun yang cukup mengganggu pada kembang-kembang itu.


"Tetapi kecelakaan terjadi bibi." lanjut Maksim dengan wajah dibuat sedih. Kali ini aktingnya pantas mendapatkan piala Oscar. Ia yang biasanya berwajah datar kini bisa merubah raut wajahnya.


"Kecelakaan? Innalilahi. Kecelakaan bagaimana maksudmu Max?" bibi Sarah tampak panik. Maksim tersenyum samar karena dari ekor matanya ia bisa melihat tubuh Aisyah menegak.


"Assalamualaikum bibi. Aku harus cepat pulang sekarang. Aku takut Alex berteriak kesakitan di sana." Bibi Sarah menatap Aisyah yang berubah khawatir.


"Nak, Alex membutuhkanmu sekarang. Kalau kamu belum mau memaafkannya tidak apa. Tapi kamu harus membantu mengobatinya, anggap kamu berbuat baik pada sesama manusia karena Allah." Aisyah mengangguk dan segera menyusul Maksim menuju rumah dimana suaminya berada.


"Aku akan menyusul kalau Nikita sudah sampai bersama nona Peminov!" teriak bibi Sarah dari arah belakang perempuan cantik itu.


"Iyya Bibi." jawab Aisyah dengan langkah cepat.


🍁


Aisyah tiba di rumah sang suami dengan pandangan ngeri. Keadaan rumah begitu kacau. Bahkan alat-alat dapur sudah tidak berada di tempatnya. Pengaturan ruangan yang biasanya rapi dan teratur kini tampak bagai kapal pecah. Seketika ia bergidik ngeri membayangkan kecelakaan seperti apa yang menimpa suaminya sampai rumah jadi kacau begini.


"Max? dimana Alex?" tanya Aisyah ingin tahu dimana pasien itu berada. Maksim langsung membawa perempuan itu ke arah sebuah kamar yang tak pernah dimasuki oleh Aisyah selama ia menikah dengan Alex. Letaknya ada di atas loteng dan cukup aman dari gangguan orang lain.


"Kenapa bisa di atas Max? bukankah kakinya patah? bagaimana caranya ia naik ke atas sana?" tanya Aisyah dengan wajah bingung. Matanya memandang arah tangga dengan pikiran curiga.


"Justru itu. Ia sementara ada di atas dan kakinya dirasakan patah makanya ia sudah tidak bisa lagi turun, kumohon segera obati dia. Setelah ini kami akan pergi selama-lamanya darimu." jawab Maksim tanpa mau melihat wajah Aisyah yang sedang memandangnya curiga.


"Baiklah, tapi kamu ada di sana juga kan? siapa tahu aku butuh bantuan." jawab Aisyah akhirnya. Ia akan segera mengobati Alex dan segera memintanya untuk meninggalkannya sendiri di rumah ayahnya. Ia sungguh tak mau melihat lagi wajah suaminya itu.


"Naiklah dulu. Aku akan menyusul. Aku akan mempersiapkan barang-barang yang akan kami bawa ke Moskow setelah ini."


"Iyya, cepat ya. Aku tak mau berdua saja dengan pria itu." jawab Aisyah kemudian melangkah pelan menaiki tangga yang tidak begitu tinggi itu. Sesampainya di atas matanya menemukan sebuah kamar yang sangat menarik perhatiannya.


"Ini pasti kamarnya." ujarnya pada dirinya sendiri. Perlahan ia membuka pintu itu dan mendapati ruangan yang begitu indah.


Kamar minimalis dengan wallpaper bergambar pemandangan hijau serta bunga-bunga berwarna warni. Ada jendela kecil menghadap ke kebun belakang rumah serta ranjang sederhana dimana sosok tinggi besar sedang terbaring di atasnya sedang menutup matanya.


Aisyah perlahan melangkahkan kakinya ke arah Alex yang sedang tertidur. Ia memandang wajah tampan itu dengan perasaan campur aduk. Ada benci dan rindu yang menyeruak dari dalam hatinya. Matanya memandang bibir suaminya yang selalu menarik perhatiannya.


Tiba-tiba hormon kehamilannya memaksanya untuk menyentuh bibir itu dengan jari-jarinya, tetapi sekelebatan bayangan bibir itu sudah menyentuh bibir perempuan lain di luar sana membuatnya kembali merasa jijik dan benci.


Air matanya kembali ingin memaksa keluar dan menjebol pertahanannya tetapi ia terus menarik nafas panjang agar ia bisa nampak normal di depan pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu.


Perlahan ia menyingkap selimut yang menutupi kaki Alex. Ia ingin memeriksa bagian mana yang patah dan sakit. Matanya seketika membola karena suaminya hanya menggunakan bokser yang menampakkan pemandangan yang cukup mengganggu iman perempuan cantik yang sedang hamil itu.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍 😍😍😍😍