Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 108 EMHD



Omar ternyata tidak bisa tidur di dalam kamar tamu milk Alexander Smith sang adik ipar. Kepalanya semakin pusing karena sibuk memikirkan seorang gadis tomboi bernama Anna Peminov.


"Oh, Shiiit!" umpat Omar sambil meraup wajahnya kasar. Ia benar-benar gelisah. Tak pernah ia merasakan hal seperti ini sebelumnya. Akhirnya ia keluar dari kamar itu dan mencari Aisyah sang adik.


"Aisyah, aku ingin kembali ke rumahku saja. Di sini tidak nyaman." ujarnya saat menemukan Aisyah dan Maryam sedang berada di taman samping rumah.


"Kenapa kak? atau kamu ingin melakukan hal penting di rumahmu sendiri?" tanya Aisyah sembari menatap wajah sang kakak intens.


"Hum, tidak. Aku hanya merasa sekarang dadaku yang sakit." ujar Omar yang tiba-tiba merasakan sesak di dadanya. Sosok Anna benar-benar sudah menggerogoti keseluruhan tubuhnya.


"Ya ampun kak, kamu itu seorang dokter, kenapa tiba-tiba semua penyakit ada padamu. Tadinya kamu sakit kepala dan sekarang sakit dada." ujar Aisyah panik. Ia kemudian berdiri dari duduknya dan menghampiri sang kakak. Gerakannya begitu cepat seakan lupa kalau ia sedang hamil besar sekarang.


"Jangan kemana-mana kak. Aku dan Maryam akan membawamu ke Kamar dan merawatmu di sini saja." ujar Aisyah sambil mendorong tubuh tinggi besar sang kakak. Tubuh Omar tidak bergerak sedikitpun meskipun Aisyah mendorongnya sekuat tenaga. Aisyah menatap Omar dengan pandangan bertanya.


"Aku butuh yang lain, Aisyah. Aku tidak butuh istirahat sekarang. Dan dadaku kurasakan semakin sakit." ujar Omar dengan wajah dibuat sedramatis mungkin.


'Ya Allah, aku akan menghubungi ayah. Sepertinya kamu benar-benar sakit kak." suara Aisyah bergetar karena takut kakaknya mengidap penyakit kronis yang mungkin saja akan membuatnya kehilangan nyawanya sekarang juga.


"Maryam, tolong ambilkan segelas air putih hangat untuk kak Omar!" titah Aisyah kepada Maryam yang ikut panik melihat interaksi antara kedua kakak beradik itu.


"Baik. Aku akan segera ke dalam rumah." jawab Maryam cepat. Ia segera berlari ke dalam rumah yang sangat besar dan luas itu untuk mengambil segelas air putih hangat untuk sang dokter. Kebetulan tidak ada seorang pelayan pun yang berada di sekitar mereka.


"Maryam, ada apa?" tanya Maksim yang kebetulan baru memasuki rumah itu bersama Alex. Mereka berdua baru saja tiba setelah melakukan banyak hal penting di luar sana


"Aku ingin mengambil air hangat untuk dokter Omar. Ia sedang sakit dan Aisyah sekarang bersamanya di taman." jawab Maryam dengan langkah cepat. Ia sampai ingin meninggalkan suaminya yang menatapnya dengan pandangan mata rindu.


"Kamu di sini saja. Biar aku panggil pelayan dan menyuruhnya membawa air itu." ujar Maksim cepat ia meraih tangan istrinya agar tidak terlalu panik seperti itu. Sedangkan Alex langsung menuju taman di mana ada Omar dan istrinya ada di sana.


"Ada apa kak Omar?" tanya Alex sambil memperhatikan tubuh kakak iparnya yang tampak sehat dan baik-baik saja. Omar hanya tersenyum dan meremas tengkuknya pelan.


"Kalau memang kak Omar sakit, aku akan mengantarmu sekarang ke Rumah Sakit." ujar Alex dengan pandangan tak lepas dari sosok kakak iparnya.


"Aku baik Alex, sungguh. Aku tadi hanya memikirkan sesuatu. Sekarang aku jadi merepotkan kalian semua." Omar berdiri kemudian pamit.


"Hey, mau kemana dokter?" tanya Maksim saat mereka berpapasan di jalan menuju halaman rumah itu. Ia melihat Omar tampak baik-baik saja padahal Maryam sang istri sudah sangat panik.


"Aku akan pulang. Kalian terlalu berlebihan padahal aku tidak apa-apa." jawab Omar dengan santai.


"Tapi tadi katanya ia sedang sakit kepala dan juga dadanya sakit." timpal Maryam memberi alasan akan kepanikannya tadi.


"Mungkin ia sedang jatuh cinta. Itu kan salah satu ciri-cirinya." ujar Maksim sekenanya sembari membawa tubuh istrinya berbalik arah. Ia tidak jadi ke arah taman karena orang yang akan ia kunjungi tadi ternyata baik-baik saja.


"Aku mau ke sana Max, aku ingin bertemu Aisyah." ujar Maryam karena merasa heran suaminya malah membawanya ke kamar.


"Tidak perlu, ada Alex yang bersamanya. Sekarang aku ingin kamu memeriksa diriku yang juga sedang butuh perawatan."


"Hah? kamu sakit juga Max?"


"Iya, dan kamu harus merawatku juga." jawab Maksim dengan senyum devil di wajahnya.


Ssst! para readers dilarang ngintip Maksim dan Maryam ya... Mereka berdua sedang berprogram membuat generasi penerus mereka.


Lah itu sang dokter kok punya penyakit aneh gitu sih?


---Bersambung--


Mana nih dukungannya untuk karya receh ini, like dan komentar dong supaya othor semakin rajin updatenya.