Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 237 EMHD



Roman Subkhan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sejak tadi ia merasa dibuntuti oleh sebuah mobil mewah dari arah belakangnya.


"Pelan-pelan kak, kami masih mau hidup," tegur Nikita karena melihat Elif sudah nampak pucat ketakutan.


Pria itu tidak memelankan laju kendaraannya tetapi malah mencari jalanan yang cukup sepi untuk menunggu pengendara mobil asing yang pasti akan selalu mengikutinya.


Ciiiiiit


"Alhamdulillah, " ujar Nikita dan juga Elif ketika pria asal Kazakhstan itu menghentikan mobilnya di dalam lorong blok kompleks apartemen mewah di kota itu.


"Tapi kenapa kita berhenti kak?" tanya Elif yang masih berusaha meredakan degupan jantungnya karena tegang dan takut.


"Kita tunggu apa maunya mobil yang dibelakang itu," jawab Roman Subkhan sembari memperhatikan dari kaca spion mobilnya.


Nikita dan juga Elif kaya memperhatikan siapa yang akan muncul dari mobil yang berhenti dengan jarak 3 meter dari belakangnya.


"Oh my God. Itukan pak Anderson," Elif menutup mulutnya tak percaya dengan penglihatannya. Pria itu turun dari mobilnya dengan membawa pistol ditangannya.


Roman Subkhan yang tidak terbiasa dengan yang berbungan dengan hal yang berbau kekerasan langsung bersiap memutar kontak mobilnya dan mulai melaju ke depan meninggalkan Crisstoffer Anderson yang berjalan ke arah mereka.


Door


Door


Dua buah roda belakang mobil itu langsung pecah hingga membuat mobil bergerak oleng dan otomatis dihentikan mendadak.


"Kak, pria itu sangat berbahaya, turunkan aku di sini, ia pasti mencari aku." ujar Nikita dengan wajah khawatir. Ia khawatir kepada mobil dan kedua penumpang yang tidak tahu menahu tentang urusan mereka.


Sedangkan bagi Crisstoffer Anderson yang sedang berdiri di belakang mobil itu hanya bisa menyeringai kejam. Ia harus membawa Nikita menemui kakeknya bersamanya saat ini juga.


"Apa maumu brengsek!" teriak Nikita dengan emosi di ubun-ubunnya.


"Aku mau kamu," jawab pria itu dan langsung memanggul tubuh gadis itu bagai karung goni di pundaknya dan meletakkannya dengan pelan di jok mobilnya.


"Kamu bawa kemana aku sialan!" teriak Nikita keras karena mobil itu sudah bergerak meninggalkan lorong blok itu dengan kerusakan yang cukup parah.


"Kakek Will menunggumu di Rumah Sakit, Niki." jawab Crisstoffer Anderson tanpa mengalihkan pandangannya dari kemudi.


"Kamu mau membawaku ke Birmingham lagi tanpa seizin orang tuaku? dasar kamu laki-laki kasar dan pecundang!" umpat Nikita emosi. Sungguh ia tak pernah diajarkan untuk mengumpat tetapi karena berhubungan dengan pria brengsek ini, ia jadi suka marah dan ikut kasar.


"Kakek Will ada di sini saat ini," jawab Crisstoffer dengan perasaan khawatir. Uncle Andreas sudah beberapa kali menelpon kalau pria tua itu sudah tak sadarkan diri.


"Di Moskow?"


"Iya, Dan kita sudah sampai," jawab pria itu sembari membuka seatbeltnya. Nikita hanya melongo tak percaya dan mulai menghitung berapa kecepatan mobil ini sampai bisa cepat tiba seperti ini.


"Ayo turun,"


"Katakan dulu padaku, untuk apa ia kemari?"


"Untuk menemuimu, Nah sekarang turun dengan baik-baik atau aku akan memanggulmu seperti tadi," ancam Crisstoffer dengan menatap tajam gadis itu.


"Ish, tentu saja aku mau turun baik-baik." ujar Nikita dengan wajah yang masih kesal. Gadis itu turun dari mobil itu dan memandang Rumah Sakit mewah yang mereka tuju. Ia baru sadar kalau tempat ini adalah Rumah Sakit tempat uncle Omar bekerja. Dengan tersenyum senang ia langsung meraih handphonenya.


"Uncle, aku ada di Rumah sakit tempatmu bekerja," ujar Nikita langsung pada inti permasalahannya supaya dokter itu segera mencarinya di tempat ini.


"Ayo cepat," ajak Crisstoffer Anderson sembari menarik tangan gadis itu.


"Hey lepas, aku tak mau disentuh oleh tangan kotormu itu," seru Nikita sembari menyentak tangan pria itu hingga terlepas.


"Baiklah, kalau begitu berjalanlah di depan aku akan ikut di belakangmu." ujar Crisstoffer Anderson mengalah. Ia takut gadis itu melarikan diri.


"Tetapi tempatnya dimana? aku kan tidak tahu,"


"Jalan saja aku akan tunjukkan tempatnya." jawab pria itu kemudian meraih handphonenya dan menghubungi nomor uncle Andreas.


"Kami masih di ruangan Emergency Room, tuan," jawab Andreas dari seberang sana.


Tak berapa lama kemudian, mereka pun sampai di depan ruang Emergency Room itu.


"Nikita," sapa dokter Omar saat melihat gadis itu sudah berada dihadapannya padahal baru sekitar 10 menit yang lalu ia menghubunginya.


"Hai Uncle," jawab gadis itu dengan senyum diwajahnya tetapi tidak bagi Omar karena matanya tertumbuk pada sosok dokter di samping gadis itu.


"Apa kalian datang bersama?" tanya Omar pada kedua orang itu. Perasaannya mengatakan pasti ada yang tidak beres lagi di sini.


"Kakekku sedang dirawat di sini dokter, dan ia ingin bertemu kembali dengan Nona Smith," jawab Crisstoffer Anderson berusaha menjawab rasa penasaran dokter ahli bedah tulang itu.


"Tuan William ada di Moskow? oh sungguh kebetulan yang sangat baik."


"Ah iya dokter. Sekarang biarkan kami masuk menjenguk kakekku."


"Baiklah, aku akan mendampingi Nikita," ujar Omar dan segera mendorong pintu Emergency Room itu dan mempersilahkan dua orang itu untuk masuk.


"Kakek Will," panggil Nikita dengan suara tercetak penuh kekhawatiran karena tubuh tua itu nampak sangat lemah dan dipenuhi oleh bermacam-macam alat kedokteran yang menempel di seluruh tubuhnya.


"Kakek Will, bangunlah kita akan mengaji lagi," panggil Nikita lagi sembari berbisik di telinga pria tua itu.


"La ilaaha Illallah Muhammadarrosulullah," bisik gadis itu berulang-ulang ditelinga sang kakek. Ia berharap dengan mengucapkan kalimat tahlil pria tua dan lemah itu bisa terbangun dan melihat kedatangannya.


Crisstoffer Anderson merasakan hatinya berdebar hebat saat melihat betapa ampuh kalimat yang dibisikkan oleh gadis itu. Ia segera memeriksa nadi sang kakek yang perlahan berdenyut lebih kuat daripada sebelumnya.


Tangannya yang sudah terasa dingin itu pun bergerak-gerak menandakan ia merespon semua perkataan Nikita.


Ia adalah seorang dokter dan sering mendengar kejadian seperti ini di suatu tempat atau di belahan bumi lainnya. Tetapi untuk yang pertama kalinya ia melihat kontak batin antara seorang kakek dan cucunya yang begitu luar biasa.


Nikita menyusut air matanya kemudian mengucapkan kalimat tahlil itu lagi berulang-ulang sampai suaranya serak.


"Kakek Will, bangunlah dan ucapkan kalimah Laa ilaaha Illallah Muhammadarrosulullah." William perlahan membuka kelopak mata tuanya diantara sesak nafasnya yang sedang dibantu tabung oksigen.


"Ni Ki ka mu da tang sa yang?" ucap pria tua itu tersendat-sendat. Air matanya pun mengalir dari pelupuk mata tuanya perlahan.


"Iya kakek, aku datang untukmu. Kamu harus kuat dan sehat kembali." jawab Nikita dengan jari-jarinya yang sedang menyusut airmatanya yang terus menerus mengalir membasahi pipinya.


"Criss am bil kan ker tas i tu," titahnya pada Crisstoffer sang cucu. Andreas pun bergerak ke arah cucu laki-laki satu-satunya itu dan menyerahkan kertas yang dimaksud.


"Be ri kan pa da Ni ki ta, ia cu cu ku juga Criss se per ti di ri mu," William berbicara dengan putus putus dan nampak sangat menderita.


"Kakek Will, kumohon jangan bicara lagi. Ucapkan saja La ilaaha Illallah Muhammadarrosulullah supaya hatimu tenang," ujar Nikita sembari menerima kertas itu dari tangan Crisstoffer Anderson.


Gadis itu tidak mau membaca ataupun melihatnya. Ia hanya ingin pria tua itu lebih merasakan kenyamanan dengan kalimat-kalimat yang baik jika saja saat ini adalah saat-saat terakhir hidupnya di dunia ini.


"Ni Ki ta, ma af kan ka kek mu i ni sa yang, a ku be Lum Sem pat ber te mu i Bu mu. Ma af kan ka kek,"


Tiiiiit


Layar monitor pemantau kondisi jantung tiba-tiba menunjukkan garis lurus. Tangan pria tua itu terkulai lemas di dalam genggaman Nikita sedangkan yang satunya digenggaman Crisstoffer Anderson.


"Kakek Will!" teriak dua orang itu histeris. Mereka tak menyangka kalau pria tua itu benar-benar telah tiada.


Andreas menyusut airmatanya merasakan kesedihan yang teramat sangat. Puluhan tahun ia bekerja bersama dengan pria tua itu dan ia sangat nyaman meskipun William Anderson itu sedikit pemarah.


"Innalilahi wa Inna ilaihi rojiun," ucap Omar dengan wajah sedih.


Ia tidak tahu ada hubungan emosi apa yang terjadi antara Nikita dengan pria tua bernama William Anderson itu tetapi ia yakin bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semuanya sudah diatur oleh Tuhan dengan sangat baik.


"Niki!" seru Alexander Smith yang baru masuk ke ruangan itu. Ternyata Roman Subkhan dan juga Omar yang telah menghubunginya bahwa Nikita dibawa kabur lagi oleh si bajingan Crisstoffer Anderson itu.


--Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍