
Siang itu Halaman rumah Omar yang sudah dipasangi tenda-tenda kecil untuk para pelukis sudah sangat ramai. Nikita yang punya Hobby melukis merasa akan mempunyai banyak teman nantinya. Ia sibuk ke sana kemari memeriksa persiapan pentas lukis itu.
Bibi Sarah dan orang tua Anna ikut bergabung menjadi peserta. Mereka semua sudah mengambil tempat yang nyaman didepan kanvas-kanvas mereka.
"Mohon maaf tuan Albert, apakah kita sudah bisa memulai acaranya meskipun pasangan pengantin belum berada di tengah-tengah kita?" tanya EO itu meminta pertimbangan.
"Tunggu sebentar, aku akan mencari dokter Omar dan juga Istrinya." jawab Albert dan segera masuk ke rumah dan melangkah menuju kamar pengantin baru itu.
Tok
Tok
Tok
"Dokter Omar?" panggil Albert dengan suara agak keras. Ia sudah lama disana tetapi sepertinya penghuni kamar itu belum juga ada tanda-tanda akan membuka pintu kamar itu.
Tok
Tok
Sekali lagi Albert mengetuk pintu itu, dan kemudian mendapati Omar berdiri dihadapannya dengan senyum cerah diwajahnya.
"Maaf Al, aku membuatmu menunggu, ayok kita ke depan." ujar Omar kemudian menutup pintu kamarnya dan meninggalkan Anna di dalam sana yang masih tidur dibawah selimut tebalnya.
Nampak sekali kalau istri dari Omar itu sedang mengisi kembali energinya yang sempat terkuras habis karena kegiatan menyenangkan yang ia lakukan bersama sang suami.
Sesampainya di luar, Omar pun menjadi pembicara sebelum memulai acara melukisnya, temanya adalah melukis benda apa saja yang mereka favoritkan.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Bibi Sarah sebagai perwakilan dari orang tua Omar mengikuti acara seperti ini. Tangannya yang hanya terbiasa di dapur untuk memasak dan juga merajut merasa asing dengan benda-benda yang ada di depannya. Akhirnya ia hanya membuat garis dengan perpaduan warna-warna yang lembut dan menghasilkan lukisan abstrak yang hanya Tuhan dan dia saja yang tahu apa maksud dari lukisannya.
Juan Peminov bersama istrinya yang mempunyai hobi melukis nampak sangat menikmati acara itu, Hingga mereka berdua tak bergeming sedikitpun dengan segala aktivitas panitia atau EO yang lalu lalang disamping mereka semua membawakan minuman dah juga cemilan agar para peserta lebih menikmati acara melukis itu dengan santai.
Maryam yang baru datang ternyata juga tertarik dengan kegiatan itu.
"Max, aku juga mau ikutan," rengeknya manja pada sang suami.
"Ayo, aku akan membawamu mencari tempat yang teduh dan juga nyaman."
"Ayo."
"Apa yang ingin kamu lukis sayang?" tanya Maksim saat sudah berhasil menemukan satu tempat kosong yang sangat bagus karena agak sepi dan juga teduh karena berada dibawah bunga-bunga yang agak tinggi.
"Aku hanya akan melukis taman dengan segala bunga dan keindahannya."
"Bagus sayang, mulailah.Aku akan menemanimu di sini." ujar Maksim sembari memeriksa kursi yang empuk dan nyaman untuk istrinya yang sedang berbadan dua itu untuk duduk.
"Ingat, kalau kamu tidak merasa nyaman katakan segera, aku akan membawamu untuk beristirahat."
"Iyya Max, aku baik-baik saja, Jangan terlalu khawatir seperti itu."
"Aku mencintaimu sayang." ujar Maksim kemudian mengecup lembut bibir istrinya.
"Astaga Maksim, semua orang bisa melihat kita,"
"Itu sudah hal biasa di negara ini, sayang. Mulailah melukis atau kamu akan kubawa ke kamar saja."
"Baiklah, baiklah. Sekarang kamu diam dan aku akan mulai, jangan ganggu konsentrasiku, okey?"
"Max!"
"Iyya oke, aku akan diam." jawab Maksim kemudian mengangkat kedua tangannya di udara.
Halaman Rumah Omar yang luas itu ramai tetapi terlihat sepi karena semua orang berkonsentrasi melukis dengan segala imajinasinya. Sampai ketika waktu makan siang telah tiba, semua peserta menghentikan aktivitasnya dan baru kemudian melanjutkannya lagi setelah mereka makan siang bersama dan juga beristirahat.
"Ini benar-benar kegiatan yang sangat menyenangkan Omar." ujar Juan Peminov sang ayah mertua.
"Aku harap ayah dan ibu menikmatinya." jawab Omar tersenyum.
"Tentu saja nak.Ibu sangat menikmati ini semua. Ini sudah lama dalam angan-angan ibu dan juga ayahmu." ujar sang ibu mertua.
"Terimakasih banyak Omar, kamu mengembalikan kenangan manis kami berdua dengan kegiatan ini." lanjutnya lagi sembari menyandarkan kepalanya di dada Juan, suaminya.
"Sama-sama ibu. Itulah yang Anna harapkan. Kalian mengingat kisah-kisah manis kalian dengan lukisan." ujar Omar dengan senyum bahagia diwajahnya. Sungguh ia sangat bersyukur hanya dengan melakukan hal kecil seperti ini, orang lain menjadi sangat bahagia.
"Eh, dimana Anna, sejak pagi aku tidak melihatnya Omar? apa dia baik-baik saja? anak itu bahkan belum menyapa kedua orangtuanya, dasar nakal." gerutu sang ibu mertua sambil mengedarkan pandangannya berkeliling halaman mencari sosok putrinya yang baru saja menikah sehari yang lalu.
"Maafkan aku ibu ayah, Anna masih di kamar. Dia sedang beristirahat." jawab Omar tersenyum.
"Apa Anna sedang sakit Omar?" tanya sang ibu mertua lagi dengan wajah khawatir.
"Ia hanya kelelahan ibu, kamu jangan khawatir aku akan menjaganya dengan baik, nah sekarang nikmati makanan yang ada, aku akan menengok istriku terlebih dahulu." Omar segera melangkah ingin meninggalkan kedua orang tua Anna itu.
"Tunggu nak Omar, aku ingin ikut melihat Putriku." ujar ibunya Anna tetapi sang suami langsung menarik tangannya dan berbisik.
"Percayakan semua pada suaminya sayang, kamu seperti tidak pernah merasakan pengantin baru, hem?"
"Ah ya, baiklah Omar, perlakukanlah putriku dengan lembut ya."
"Iya ibu, tenang saja. Aku sangat mencintainya. Aku pasti menjaganya dengan baik." Omar melanjutkannya langkahnya ke kamar. Ia ingin sekali melihat perempuan cantik yang membuatnya sangat bahagia seharian ini.
Perlahan ia membuka pintunya dan mendapati Anna baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk putih pendek hingga pangkal pahanya. Omar membuka mantelnya dan menyampirkannya di Sebuah gantungan pakaian di belakang pintu.
Penampilan istrinya begitu menggodanya saat ini. Dengan langkah cepat ia langsung menangkap tubuh mungil itu dan melemparnya ke atas ranjangnya yang empuk. Suatu hal baru yang dirasakannya yang begitu nikmat ingin ia ulangi lagi siang ini.
"Omar?" Anna menatap mata suaminya yang sedang berada di atas tubuhnya. Pria itu tidak menjawab ia langsung meraup bibir istrinya lembut, melimateee nya pelan hingga agak kasar ketika hasratnya mulai meningkat. Tangannya dengan lincah membuka handuk istrinya.
"Omar? aku baru saja mandi." bisik Anna disela-sela cumbuan sang suami.
"Aaakkh, Omar." desisnya ketika lidah Omar memainkan kedua asetnya yang terbuka. Ia merasa sedang diserang oleh ribuan lebah yang sangat nikmat. Apalagi Omar mulai mengisapnya dengan lembut kemudian agak kasar.
"Aku menginginkanmu Anna," bisik Omar dengan suara parau. Perempuan itu tidak menjawab, ia hanya diam menikmati semua sentuhan yang diberikan sang suami tercinta.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor, kita lanjutkan sebentar ya gaess 🤭 ada iklan yang mau lewat, like dan komentarnya dong.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
Eits, mampir sini dong, dikarya teman othor nih, bagus punya.