
Aisyah tersenyum lega menyaksikan putranya tertidur dengan nyenyak selama di Pesawat. Tadinya Anak itu begitu rewel karena demam.
Setelah memberinya Asi putra tersayangnya itu bermain sebentar kemudian tertidur.
Bayangan Danil yang menggapai Alex tadi dan diabaikan dengan sangat menyedihkan membuatnya kembali menitikkan air matanya.
Tangan Aisyah meraih jari-jemari Danil kemudian menciumnya pelan.
"Danil kesayangan mommy, kita akan beri pelajaran pada daddy ya, kita juga akan mengabaikannya, hiks."
"Kamu jadi anak yang kuat ya, kakek pasti sudah sangat merindukan kita, jadi anak yang baik sayang."
"Setelah kita sampai di Moskow kita akan menemui kakek Yusuf dan tinggal di sana dengan tenang," bisik Aisyah disela-sela tangisnya.
Entah airmata ini terbuat dari apa hingga tak ada habisnya meleleh membasahi pipinya.
Aisyah menarik nafas panjang dan mencoba berpikir positif. Pesan ayahnya selalu terngiang dihati bahwa apapun yang terjadi di dalam keluargamu simpan itu sebagai ibadahmu pada Tuhanmu.
"Oh ayah, aku ingin sekali memelukmu sekarang ini," bisiknya dengan nafas tercekat. Dadanya sungguh sesak.
Aisyah ingin berbagi kesedihan tapi tak tahu kepada siapa. Kepada Maryam ia malu, ia takut aib suaminya akan sampai di telinga orang lain, apalagi kepada Anna atau Reisya.
"Tidur yang nyenyak Danil, perjalanan kita masih panjang sayang," Aisyah meletakkan tangan sang putra dan mengatur posisi tidurnya lalu ia kecup dengan sayang hartanya yang tersisa.
Setelah itu ia membuka notebooknya untuk melampiaskan kesedihannya di sana.
Tanpa sadar ia menulis banyak hal di alat elektronik itu.
Aisyah menumpahkan semua kesedihan dan keluh kesahnya di sana yang ia rasakan pada Alex selama beberapa hari ini.
Selama ini ia hanya mau menulis kenangan-kenangan indah bersama sang suami tercinta karena memang hidupnya bersama Alex selalu dilimpahi kebahagiaan yang sangat sempurna hingga ia pernah bertekad kalau hanya akan menuliskan cerita bahagia saja di sana.
Tetapi untuk saat ini jari dan hatinya menghianati janjinya sendiri.
Ia begitu lincah menceritakan semua rasa sedih dan kecewanya ketika ia dianggap sebagai orang lain oleh orang-orang yang dicintainya. Orang-orang terdekatnya, Alex dan Nikita.
Sampai ia tertidur dan tanpa sadar notebook itu terjatuh dari tangannya.
Di kabin bagian lain.
"Max, apa menurutmu Alex terlalu kejam pada Aisyah?" tanya Maryam sembari meremas jari-jemari besar sang suami.
"Hem," jawab Maksim singkat. Pria sedang menutup matanya memikirkan hal yang sama beberapa hari ini.
Sungguh ia ingin menegur Alex dengan tindakannya yang kelewatan pada istri dan anaknya, Danil tetapi entah kenapa mulutnya jadi keluh dan hanya menjadi penonton saja.
"Max?"
"Hem?"
"Aku kasihan pada Aisyah, aku yakin ia pasti sangat terluka. Aku ingin sekali menghiburnya tetapi aku takut ia menjadi semakin sedih, Max."
"Ya ya kamu betul sekali. Tapi yang aku takutkan Alex akan sangat menyesali perbuatannya ini." Maksim kini gantian meremas jari-jemari sang istri.
Suatu hal yang paling mengerikan baginya jika Alex kembali mengalaminya. Pria itu kalau sudah mencintai maka akan sulit melupakan bahkan nyawanya pun akan ia gadaikan untuk itu.
"Alex apa yang terjadi padamu?" ujarnya pelan dan kembali menutup matanya.
Pria itu bertekad setelah kembali ke Moskow, ia akan menegur perbuatan kejam Alex pada istrinya itu. Atau ia akan mengancam akan meninggalkan Alex dan hidup di tempat lain.
Aisyah tersentak kaget dan kemudian terbangun dari tidurnya oleh Announcement dari sumber suara.
Ladies and gentlemen, on behalf of the crew I ask that you please direct your attention to the monitors above as we review the emergency procedures. There are six emergency exits on this aircraft. Take a minute to locate the exit closest to you.
Note that the nearest exit may be behind you. Count the number of rows to this exit. Should the cabin experience sudden pressure loss, stay calm and listen for instructions from the cabin crew. Oxygen masks will drop down from above your seat.
Place the mask over your mouth and nose, like this. Pull the strap to tighten it. If you are traveling with children, make sure that your own mask is on first before helping your children. In the unlikely event of an emergency landing and evacuation, leave your carry-on items behind.
Life rafts are located below your seats and emergency lighting will lead you to your closest exit and slide. We ask that you make sure that all carry-on luggage is stowed away safely during the flight. While we wait for take off, please take a moment to review the safety data card in the seat pocket in front of you.
Para penumpang yang terhormat, atas nama kru saya meminta Anda mengarahkan perhatian Anda ke monitor di atas saat kami meninjau prosedur darurat.
Ada enam pintu darurat di pesawat ini. Luangkan waktu sebentar untuk menemukan pintu keluar yang paling dekat dengan Anda.
Perhatikan bahwa pintu keluar terdekat mungkin ada di belakang Anda. Hitung jumlah baris ke pintu keluar ini. Jika kabin mengalami kehilangan tekanan mendadak, tetap tenang dan dengarkan instruksi dari awak kabin.
Masker oksigen akan turun dari atas kursi Anda. Letakkan masker di atas mulut dan hidung Anda, seperti ini.
Tarik tali untuk mengencangkannya. Jika Anda bepergian dengan anak-anak, pastikan masker Anda sendiri terlebih dahulu sebelum membantu anak Anda.
Jika terjadi pendaratan darurat dan evakuasi, tinggalkan barang bawaan Anda.
Rakit penyelamat terletak di bawah tempat duduk Anda dan lampu darurat akan mengarahkan Anda ke pintu keluar dan perosotan terdekat.
Kami meminta Anda memastikan bahwa semua barang bawaan disimpan dengan aman selama penerbangan.
Sembari menunggu lepas landas, harap luangkan waktu sejenak untuk meninjau kartu data keselamatan di saku kursi di depan Anda.)
Meskipun itu belumlah pengumuman bahwa pesawat akan segera landing di Bandara Moskow, tetapi Aisyah yakin sebentar lagi burung besi itu pasti akan segera mendarat.
"Alhamdulillah, aku kembali Moskow, semoga hari ini lebih baik daripada yang kemarin." ujarnya pelan. Aisyah memperhatikan kembali baby Danil dan tersenyum.
Putranya itu masih nyenyak. Ia kembali menutup matanya dan melanjutkan tidurnya. Sesuatu yang jarang ia lakukan dalam setiap perjalanannya bersama Alex. Karena di saat seperti itu biasanya sang suami merawatnya dengan sangat baik.
Aku rindu Alex yang dulu...batin Aisyah dengan hati bergetar sedih.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
Eits, jangan kemana-mana, mampir dulu dong ke karya teman aku nih, okey punya lho,