
POV Alexander Smith
"Daddy! kakiku sakit sekali huaaaa." wajah Nikita semakin memerah karena menahan rasa sakit yang semakin menderanya. Beberapa hari ini ia hanya mengeluh nyeri tapi saat ini aku bisa lihat ini pasti sangat sakit sekali sampai ia meraung keras karena tidak bisa lagi menahan rasa ngilu dan nyeri pada tulang kakinya. Aku tidak tahan mendengarnya.
"Berikan obat pereda nyeri, cepat!" teriakku pada Albert yang terbengong-bengong sambil memegang kunci mobil di tangannya.
"Baik!" mereka segera mencari kotak obat dan memberikannya padaku.
"Ambilkan air!" Maksim segera melompat ke arah dapur untuk mencari air minum yang aku maksud.
Setelah meminum obat itu beberapa menit kemudian efeknya sudah mulai bereaksi. Nikita mulai merasakan rasa ngilu dan nyeri itu perlahan menghilang. Ia mulai menguap dan akhirnya tertidur dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.
Aku segera menyiapkan semua perlengkapan untuk Nikita yang akan kami bawa ke Rumah Sakit. Setelah semuanya siap, aku menggendong tubuh putriku yang masih tertidur itu ke dalam mobil. Aku memutuskan berangkat pagi itu juga. Aku tak mau lagi menunda pengobatan Nikita.
Sepanjang perjalanan aku memandangi terus wajah polos Nikita dalam pangkuanku yang masih terlelap. Kubelai wajahnya lembut.
"Maafkan Daddy sayang, penderitaanmu tak ada habisnya karena masa lalu ku yang buruk." ujarku pelan. Kurasakan tubuhnya bergerak tak nyaman. Maksim kemudian menegurku.
"Baringkan di jok saja, badannya nanti akan terasa sakit jika posisinya seperti itu." aku membenarkan ucapan Maksim, aku langsung membaringkannya disampingku dengan posisi kepalanya ada di pahaku.
"Berapa lama lagi kita sampai, Max?" tanyaku pada Maksim yang sedang mengemudikan mobil.
"Kurang lebih tiga puluh menit kita akan sampai di landasan pesawat jet pribadi kita. Mereka sudah menunggu kita sejam yang lalu." kali ini bukan Maksim yang menjawab tetapi Albert yang memang bertugas menghendel urusan yang berhubungan dengan transportasi dan Rumah sakit.
Aku mengucapkan syukur dalam hati karena Tuhan masih menyisakan orang-orang setia seperti Maksim dan Albert.
Tak lama Kemudian sebuah pesawat jet pribadi milik organisasi mengantar kami ke Moskow, tempat dimana Rumah Sakit terbaik di negara ini berada.
Tanpa mengambil waktu lama aku langsung membawa Nikita ke sebuah ruangan khusus untuk Orthopaedi dan Traumatologi.
Aku sedikit kaget karena dokter yang sedang duduk dibelakang meja itu adalah Omar, seorang yang pernah aku temui malam itu di rumah paman Yusuf.
"Selamat siang Mr. Smith!" sapa Omar kepadaku terlebih dahulu sembari menyodorkan tangannya untuk berjabatan tangan. Aku membalas menjabat tangannya.
"Selamat siang dokter!"
"Silahkan duduk, Mr. Smith."
"Terima kasih," ucapku kemudian duduk sambil memangku Nikita.
"Jadi apa yang bisa aku bantu?" Aku memandang Nikita yang sudah terbangun di dalam pangkuanku kemudian menjawab pertanyaan Omar sang dokter.
"Kami mengalami kecelakaan sekitar enam bulan yang lalu, dan dokter yang menanganinya waktu itu ingin mengamputasi kakinya tetapi aku menolak karena aku masih punya harapan kakinya bisa kembali normal. Meskipun itu sangat kecil kemungkinannya."
" Oh sudah lama rupanya. Menyembuhkan tulang retak memakan waktu sekitar 3 bulan hingga 6 bulan dengan lama penyembuhan yang berbeda antara anak – anak dan dewasa. Penyembuhan patah tulang tanpa operasi akan berproses secara alami dengan didukung oleh asupan nutrisi dari makanan. Menyembuhkan tulang retak memakan waktu lebih singkat dibanding patah tulang maupun patah tulang komplikasi." jelas dr. Omar dengan sangat profesional.
"Jadi bagaimana dokter?" tanyaku karena belum paham akan apa yang ia jelaskan.
Aku mencoba melihat gambar di layar monitor yang menampilkan kondisi kaki Nikita. Kulihat dokter Omar tersenyum samar dan itu membuat hatiku penasaran.
"Ada apa dokter?" tanyaku karena aku sudah tidak bisa menahan rasa ingin tahuku.
"Apa anda pernah melakukan tindakan khusus atau sejenisnya pada kaki Nikita?" aku menggeleng dan dokter itu semakin merekahkan senyumnya. Kemudian ia menarik nafas panjang dan melanjutkan penjelasannya, " Fase awal masa penyembuhan yaitu berawal dari jaringan lunak pada bagian tubuh yang mengalami patah tulang. Pada robekan pembuluh darah di anggota tubuh yang mengalami cedera akan terjadi pendarahan. Proses pendarahan pada wilayah tubuh menstimulasi proses pembekuan darah. Tempat penyembuhan berawal dari hematoma pada tulang. Proses penyembuhan tulang diawali dengan adanya sel – sel baru yang akan membentuk jaringan baru pada tulang (osteogenic cells)."
"Untuk Nikita yang masih dalam usia yang masih muda, Callus yang masih lunak lama kelamaan akan mengeras dan digantian sebagian dari itu oleh tulang immatur atau belum dewasa. Pada callus yang mengeras, penyambungan dalam penyembuhan tulang retak sudah berjalan. Rasa nyeri sudah tidak dirasakan lagi."
"Nah Nikita sayang, apakah ada yang pernah menyentuh kakimu? beberapa waktu terakhir?" Omar menanyai langsung Nikita yang sedari tadi ikut menyimak penjelasannya.
"Ibu Aisyah, dokter." aku langsung menatap tajam wajah putriku itu. Lalu kulihat ia mulai melanjutkan ceritanya.
"Setiap aku bermain di rumah kakek Yusuf ia selalu membuka balutan kakiku dan memberinya minyak yang aku tidak tahu apa namanya. Tapi rasanya nyaman dan enak." dokter Omar langsung tertawa.
"Jari-jari Aisyah memang punya keahlian dalam memijat dan mengurut tulang yang cedera, dan kurasa kamu beruntung Nikita karena bertemu dokter orthopaedi terbaik dari desa Rakhata." aku mulai mengembangkan senyumku karena aku merasa akan mendapatkan kabar baik setelah ini.
"Dan aku harap Aisyah juga memberimu cukup kalsium dan Vitamin D." kulihat mata Omar berbinar bahagia saat menceritakan adik perempuannya itu.
"Iya dokter. Ibu Aisyah selalu memaksaku makan sayuran yang katanya mengandung kalsium." ujar Nikita semangat. Mereka berdua semakin asyik berbicara sedangkan aku sepertinya dianggap tidak ada.
"Bukan cuma sayuran yang mengandung kalsium. Katakan itu pada ibu Aisyah ya, gadis cantik." Nikita mengangguk antusias.
"Kepadatan tulang harus diperhatikan dengan dukungan berbagai asupan bernutrisi. Nutrisi seperti ikan, susu, yogurt, sayur dan buah dapat menjadi sumber makanan berkalsium. Kalsium dapat membantu membangun kepadatan tulang sehingga menjaga kondisi tulang agar tetap sehat."
"Lalu kenapa Nikita merasakan kesakitan tadi, dokter?" tanyaku penasaran karena Nikita sekarang baik-baik saja padahal tadi kami semua dibuat panik sampai harus melalui pulau untuk sampai kemari.
"Lihat Mr. Smith." jari dokter itu memencet pointer ditangannya dan menunjukkan kembali gambar di layar monitor. "Masih ada jaringan yang belum tumbuh sempurna di sini dan kemungkinan karena sebuah benturan yang cukup keras hingga menimbulkan jaringan ini kembali retak. Dan karena itulah rasa sakit itu muncul lagi." aku jadi teringat kejadian kemarin sewaktu Murphy mendorong Nikita dengan keras hingga terjatuh ke lantai. Hatiku seketika menjadi nyeri.
"Apakah Nikita perlu dibedah lagi?"
"Tidak perlu Mr. Smith. Sudah kubilang ada dokter cantik di rumah ayahku yang akan memberikan perawatan untuk Nikita." tanpa sadar aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada gadis aneh itu dalam hati.
---Bersambung---
🍁🍁🍁
Gaskeun dukungannya dong untuk karya ini dengan cara like dan komentar ya gaess.
Hadiah dan Vote bagi dong... hehehe...
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
.