
Matahari tampak masih malu menampakkan dirinya dari ufuk timur.
Suasana pagi yang masih gelap dan dingin itu seolah-olah memberikan dukungan pada para makhluk di bumi ini yang masih malas bergerak terutama penghuni ranjang di Resort Pantai Galumbaya pagi itu.
Beberapa pasangan yang ikut merayakan dan meramaikan malam pertama sang pengantin baru masih betah berlama-lama di ranjang empuk dan nyaman yang disediakan oleh resort itu.
Bersama pasangan halal, mereka bergulung dibawah selimut tebal dengan sangat nyaman.
"Daddy, Mommy, bangun! Uncle Heru sudah azan tuh." panggil Nikita sembari menggoyang-goyangkan tubuh kedua orangtuanya bergantian.
"Niki? kamu sudah bangun sayang?"
"Iya mom, sudah lama, ayo bangun. Diluar sudah terang, pantainya juga indah sekali." jawab Nikita dengan wajah cerahnya.
"Hah? kamu sudah dari luar sayang? diluar kan masih dingin."
"Sudah, aku juga sudah membangunkan semua orang, uncle Al dan Onty Reisya juga, hihihi." jawab Nikita sembari tertawa lucu.
"Hey kok ketawa, ada yang lucu ya?" tanya Aisyah lagi sembari memakai outer piyamanya.
Untungnya ia dan Alex kembali memakai pakaian tidur mereka setelah berolahraga malam semalam suntuk, kalau tidak pasti anak ini akan bertanya macam-macam.
Nikita tidak menjawab ia hanya diam dan kembali mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
Flashback on
"Reisya sayang bangun dulu ya," bisik Albert sembari menciumi seluruh wajah istrinya.
"Kamu harus tanggung jawab sayang," lanjutnya lagi sembari menggerakkan tangannya kemana-mana. Berusaha mencari benda favorit sejuta umat yang masih membuatnya penasaran.
"Al, aaaaakh, aku masih ngantuk. Capek..." ujar Reisya dengan sedikit tersentak karena sang suami menghissapnya agak kasar dan rakus.
"Tapi aku masih mau Reisya, sayang. Bangun ya?"
"Al? astaga perasaan kita baru selesai 3 jam yang lalu," kesal Reisya sembari melihat jam dinding. Dan betul sekali, mereka baru tertidur sekitar 3 jam setelah pergulatan panjang dan lama yang mereka berdua lakukan. Dan kini suaminya mau meminta lagi.
Ya ampun terbuat dari apa tenaga suaminya ini? bisik Reisya membatin.
"Kamu nikmat sekali Reisya sayang," ujar Albert dan kembali membuka selimut istrinya itu. Tubuh yang masih polos itu ternyata semakin membuatnya bersemangat dan terbakar lagi. Tanpa permisi lagi tangannya mulai beraksi begitupun dengan bibirnya.
"Kita sholat dulu ya Al, okey?" akhirnya Reisya bangun dan mendorong tubuh suaminya ke samping agar ia bebas untuk keluar dari kungkungan suaminya itu tetapi Albert sepertinya tidak mau melepaskannya dan tetap berada pada posisinya itu.
"Sebentar saja, setelah itu baru kita sholat, plis, sayangku." Albert memohon dengan sangat hingga Reisya mengangguk pasrah. Pria itu tersenyum senang dan melanjutkan aksinya lagi.
Dan saat ia benar-benar berada di atas gumpalan awan putih dan empuk itu. Dan siap untuk meluncurkan kembali rudalnya, ketukan pintu dan juga teriakan Nikita di luar sana membuatnya serasa jatuh dari ketinggian.
Tok
Tok
Tok
"Tolong Buka pintunya Al, atau gadis cilik itu akan membuat keributan di luar sayang." bisik Reisya disela-sela cumbuan suaminya yang juga sudah membuatnya melayang tinggi.
"Tidak Reisya sayang, biarkan aku masuk dulu ya, Plis,"
"Uncle Al, tolong! ada ular!" teriak Nikita lagi dengan suara cemprengnya.
"Al, ada ular katanya, lepaskan aku dulu." ujar Reisya sembari mendorong kembali tubuh suaminya ke samping tetapi ia tidak berhasil. Tubuh Albert yang tinggi besar benar-benar tidak bergerak sama sekali.
"Tidak Reisya, aku tahu itu akal-akalan Nikita sayang," bujuk Albert yang sudah frustasi ingin meledakkan rudalnya didalam tubuh istrinya itu.
"Uncle! Onty Help!" terdengar kembali teriakan Nikita diluar sana.
Pria itu segera memakai boksernya dan memakai kaosnya asal.
Reisya tersenyum lebar dan senang bukan main. Bukannya ia tak menikmati cumbuan Albert dan tak mau melayani keinginan sang suami tetapi rasa perih akibat pergulatan semalam belumlah sembuh benar.
Dan ia rasa perlu istirahat yang cukup agar bisa mengimbangi tenaga besar sang suami. Reisya sangat lelah.
"Dimana ularnya Niki?!" tanya Albert setelah pintu kamar ia buka.
Dan di depan sana, ternyata Omar dan Anna juga ada bersama gadis kecil itu.
"Apakah ada ular, Niki?" tanya Omar dengan wajah penasaran.
"Maaf, uncle Al, aku hanya membayangkan ada ular di sini, jadi aku membangunkanmu. Kamu kan susah dibangunkan." ujar Nikita dengan senyum yang sangat menyebalkan bagi Albert.
"Dan yah, uncle dan onty belum sholat kan? Ayo cepat nanti kesiangan." lanjut Nikita sembari ikut masuk ke dalam kamar pengantin baru itu. Albert hanya bisa menarik nafas panjang berusaha menahan Kekesalannya.
"Al, jangan marah pada Nikita, ia akan selalu datang saat kita sedang on fire." ujar Omar dengan senyum samar diwajahnya. Ia bisa melihat bayangan rudal Albert yang sepertinya masih siap untuk meledak dari dalam boksernya.
"Tunggu aku Kak Omar, aku juga akan ke Masjid." ujar Albert dengan wajah masih bersungut-sungut kesal.
"Mandilah dulu biar pikiranmu renang Okey? aku menunggumu di masjid."
"Iya Kak." Alber pun menutup pintu dan segera menuju kamar mandi.
"Mau berwudu uncle Al?" tanya Nikita yang sedang duduk di ranjang bersama dengan Reisya.
"Iya, aku mau mandi dulu. Kamu sudah membangunkan Daddy dan mommymu sayang?"
"Belum." Nikita menggeleng dan membuat Albert kembali kesal.
"Kalau begitu pergilah ke kamarmu dan bangunkan Daddy Alex. Minta dia untuk segera ke Masjid."
"Baik uncle Al, jangan marah ya, nanti cepat tua hihihihi, bye onty Reisya." suara cekikikan Nikita membuat emosi Albert kembali reda. Anak itu selalu bisa membuat orang marah dan senang secara bersamaan.
"Reisya, kita mandi bersama ya sayang," ujar Albert dan segera membawa tubuh istrinya ke kamar mandi.
"Oh tidak Al, biar aku mandi sendiri. Nanti kamu terlambat ke Masjid." tolak Reisya halus. Ia takut suaminya malah akan melanjutkan yang tadi di kamar mandi.
"Baiklah, aku mengerti." ujar Albert dengan wajah kecewa.
Flashback off.
"Nikita, ayo kita sholat sama-sama," panggil Aisyah membuyarkan lamunan gadis kecil itu.
"Baiklah Mom, eh daddy dimana?"
"Daddy sudah berangkat ke Masjid. Kamu melamun ya?"
"Ah tidak. Aku hanya ingin meminta maaf dengan benar kepada uncle Al dan Onty Reisya. Aku membangunkan mereka dengan alasan ada ular."
"Astaghfirullah, Nikita sayang?"
Nikita kembali tersenyum dengan menampakkan giginya yang teratur dengan rapih dan putih.
---Bersambung---
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, Okey?
Bagi bunga dan votenya dong, hehehe. Ngemis aku🤭
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍