Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 194 EMHD



Pukul 3.00 dini hari, Omar baru selesai melakukan tindakan pada istrinya di ruangan itu. Nampak sekali kalau ia sudah sangat kelelahan. Rasa laparpun baru terasa.


Untuk pertama kalinya dalam sejarah karirnya dalam dunia kedokteran, ia menghadapi seorang pasien dengan 3 kali tindakan seperti ini dalam waktu yang sangat mendesak. Dan pasien itu adalah istrinya sendiri.


Tak berhenti ia bersyukur karena profesi ini sangat berguna untuk keluarga intinya sendiri.


Ia pun terduduk dengan lutut lemas. Melakukan pekerjaan yang menguras tenaga dan juga pikiran adalah hal yang membuatnya lelah lahir dan batin.


Tapi itu adalah kenikmatan yang ia dapatkan ketika berhasil menyelamatkan nyawa pasien apalagi itu adalah istrinya sendiri yang sangat ia cintai.


Sementara Anna sedang dibawa ke ruangan perawatan oleh beberapa perawat, dokter itu pun mengganti pakaian yang sudah ia pakai mengoperasi Anna kemudian memasuki ruangannya sendiri.


Rasanya Ia ingin tidur dan mengistirahatkan raganya sejenak tetapi ia baru ingat kalau belum mengazani putra dan putrinya karena banyaknya hal yang harus ia lakukan untuk sang istri.


Akhirnya dengan langkah pelan ia kembali keruang perawatan sang istri yang sudah ia pesan untuk digabungkan langsung dengan kedua bayi kembarnya.


Ia pun melakukan kewajiban bagi bayi-bayi mungil itu dengan mengazaninya. Ia berharap kalimat tauhidlah yang keduanya dengar untuk pertama kalinya mereka hidup di dunia ini.


Rasa lelah tiba-tiba menguap entah kemana hanya dengan memandang dua makhluk kecil yang lahir dengan penuh perjuangan dari sang ibu.


"MasyaAllah, kalian benar-benar penghibur mata dan hati kami nak, semoga kalian tumbuh menjadi anak-anak yang Soleh dan Solehah, dan menjaga kalimat tauhid dari dalam diri kalian."


"Aamiin," jawab Anna yang kebetulan mendengar suara suaminya mengazani putra dan putrinya itu berikut do'a-doa terbaik dari sang suami.


"Kamu bangun Anna? apa aku mengganggumu sayang?" tanya Omar lalu melangkah ke ranjang sang istri.


"Suaramu sangat merdu Omar, jadi aku terbangun," jawab Anna tersenyum. Omar langsung mengecup lembut kening Anna dengan perasaan bahagia yang luar biasa.


Rasa syukur tak pernah menguap dari dalam hatinya. Ia sangat bahagia mendapati nikmat yang melimpah ini.


"Dan ya, ini juga sudah hampir pagi, dimana Alex dan juga yang lainnya?" tanya Anna yang baru mengingat kalau keluarga Smith ikut membantunya sebelum ke Rumah Sakit.


"Mereka semua sudah pulang sayang, mereka akan memberi tahu kabar gembira ini pada semua orang di rumah besar." Anna tersenyum kemudian mengambil tangan besar suaminya dan ia letakkan dibibirnya.


"Terimakasih banyak Omar, tanganmu ini benar-benar memberiku banyak cinta dan kasih sayang. Tangan ini yang membantuku melahirkan bayi-bayi yang sangat manis. Terimakasih." Anna mengecup lembut tangan suaminya.


"Jangan membuatku malu sayang, itu sudah kewajibanku dan aku meminta maaf karena beberapa hari ini tidak punya waktu untukmu, sekarang aku sudah mengambil cuti Anna, dan akan aku luangkan waktu untuk merawatmu dan bayi-bayi kita," ujar Omar kemudian meraih bibir Istrinya dan melabuhkan satu ******* lembut dan panjang pada daging tak bertulang itu.


"Aku mencintaimu Anna, sangat." bisik Omar disela-sela cumbuannya pada istrinya itu.


"Iya aku tahu sayang, tapi istirahatlah sebelum subuh datang. Naiklah ke tempat tidur ini, kita tidur bersama, kamu pasti lelah Omar." ujar Anna sembari menyentuh bibir suaminya yang masih basah karena pertukaran saliva mereka baru saja.


Omar mengangguk, ia memang sangat lelah dan butuh tidur. Ia pun naik ke atas ranjang dan tidur di samping istrinya.


🍁


Mohammad Yusuf begitu gembira saat Alex memberitahunya kalau Anna sudah melahirkan bayi kembar.


Pria tua itu memaksa ke rumah sakit dipagi yang masih gelap itu. Sepanjang malam ia do'a mengalir dari bibirnya untuk Anna padahal ia tak tahu keadaan yang sebenarnya.


"Sabar ayah, kita harus sarapan terlebih dahulu kemudian membawakan makanan yang sangat nikmat untuk Kak Omar dan juga Anna," jawab Aisyah dengan wajah tak kalah gembiranya.


Membayangkan sepasang bayi kembar yang sangat lucu membuatnya sangat bersemangat.


"Baiklah, kita akan berangkat sama-sama kesana." ujar Mohammad Yusuf mengalah.


🍁


Maksim masih terlelap lagi itu karena pulang disaat dini hari. Maryam yang begitu khawatir tak hentinya memeriksa kondisi tubuh suaminya.


Perempuan cantik itu bahkan telah membuka pakaian yang dipakai oleh Maksim dan menyisakan boksernya saja, ia khawatir ada luka yang disembunyikan oleh suaminya itu.


"Maryam, apa yang kamu lakukan sayang," tanya Maksim dengan suaranya yang berat dan serak khas bangun tidur.


"Aku memeriksa tubuhmu Max, siapa tahu ada yang yang tidak beres disini," jawab Maryam dengan wajah khawatir.


Tangannya bergerak meraba keseluruhan permukaan kulit suaminya itu.


Perempuan itu menatap tubuh atletis suaminya itu dengan ekspresi ngeri.


Bayangan senjata api yang dibawa oleh suaminya semalam membuatnya takut.


"Iya Maryam," jawab Maksim dengan senyum samar diwajahnya.


Senjatanya dibagian bawah tubuhnya sudah mulai beraksi dan butuh lawan sekarang. Hanya karena sentuhan jari-jemari lembut sang istri.


"Yang mana yang terluka Max? dan kenapa kamu membawa senjata api seperti itu semalam, kamu membuatku khawatir dan takut."


"Tak ada yang terluka sayang hanya saja senjataku yang butuh perawatan sekarang ini Maryam,"


"Maksud kamu apa Max, apa senjata api yang semalam aku lihat?" tanya Maryam polos. Pria itu langsung meraih tangan istrinya dan mengarahkannya ke bagian bawah tubuhnya.


"Senjata yang ini Maryam, ia sedang butuh perawatanmu sayang," wajah Maryam langsung berubah merah. Suaminya pintar sekali menggodanya.


"Kamu membuatku malu, Max," ujar Maryam sembari menunduk malu. Maksim tersenyum, ia semakin suka menggoda istrinya yang polos dan sangat lembut itu.


"Bisa kan sayang?" tanya Maksim dengan pandangan memohon. Maryam mengangguk dengan tangan masih berada di pangkalan senjata suaminya itu.


"Bukalah, aku yakin ia akan senang sekali, sayangku," bisik Omar sembari menutup matanya menikmati apa yang dilakukan oleh istrinya.


Peristiwa semalam sungguh membuatnya tegang. Dan sekarang ia juga merasa tegang tetapi dengan sensasi yang berbeda.


"Maryam, aaaaakh, I like it," erang Maksim dengan suara bergetar. Dengan tak sabar ia langsung bangun dan melempar istrinya itu kebawah kungkungannya.


"Awwww, kamu membuatku kaget Max," teriak Maryam dengan suara tertahan.


"Oeeeekk Oeeek..." Maksim meraup wajahnya kasar. Baby boynya rupanya tak mengizinkanya untuk memanjakan diri bersama sang istri


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini dengan cara klik like'dan ketik komentar agar othor semangat updatenya.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍