
Nikita memandang keseluruhan ruangan itu yang tampak sangat asing baginya. Gadis itu berusaha mengenali kamar yang bernuansa hitam dan putih itu dengan kening mengernyit.
Sebuah kamar yang dipenuhi oleh pernak-pernik yang berbau maskulin.
Di dinding tembok terpampang gambar sebuah mobil mewah dengan ukuran yang cukup besar.
Kemudian di sekitarnya adalah puluhan miniatur mobil mewah yang sangat banyak berjejer memenuhi rak kaca.
Belum lagi bermacam-macam miniatur senjata api yang menggambarkan bagaimana karakter asli pemilik kamar ini.
Kepalanya yang masih terasa sangat nyeri ia pijit dengan menggunakan tangannya.
Gadis itu kembali merasakan pusing menyerang kepalanya hingga membuatnya menutup kembali kedua matanya.
Tiba-tiba Nikita menyadari sesuatu. Ia langsung tersentak ketika menyadari bahwa hijab yang selama ini ia pakai rupanya sudah terlepas dari kepalanya.
"Hey dimana aku?" tanyanya kepada dirinya sendiri kemudian memaksa dirinya untuk bangun dari tempat tidurnya.
Angin yang berhembus dari arah jendela besar di samping tempat tidur tempatnya berbaring membuat tirai dan rambutnya beterbangan. Ada rasa segar yang ia rasakan.
"Apa aku sedang bermimpi?" tanyanya lagi saat melangkahkan kakinya ke depan jendela yang terbuka itu.
Lama ia menatap hamparan bunga yang nampak sedang bersemi di hadapannya. Sampai ia mendengar pintu ruangan yang ia tempati terbuka dari arah luar.
Gadis itu langsung tersentak kemudian berubah waspada. Ia segera mencari satu lembar kain untuk menutupi kepalanya tapi tak ia temukan kecuali selembar bed cover yang sangat tebal itu.
Akhirnya ia melompat ke atas ranjang dan membungkus dirinya di dalam bed cover itu.
Crisstoffer Anderson yang bagi memasuki kamar langsung mengarahkan pandangannya pada gulungan selimut di atas ranjangnya dengan seringaian jahat diwajahnya.
"Hey, bangun!" serunya dengan nada suara memerintah. Pria itu tahu kalau Nikita Smith sedang berusaha bersembunyi dibalik kain itu.
"Ayo cepat keluar dari sana! aku tak punya waktu untuk bermain-main denganmu!" ujarnya lagi sembari tangannya menarik bed cover yang sedang menggulung gadis itu hingga terbuka dengan paksa.
"Awww!" teriak Nikita keras karena tubuhnya sampai terjatuh ke lantai. Untungnya lantai di kamar itu beralaskan karpet tebal dan lembut.
"Anda, Pak Anderson?!" tanya Nikita dengan perasan bingung. Emosinya tiba-tiba menyeruak dari dalam hatinya mengingat kejadian terakhir ia bertemu dengan pria psikopat ini dan kemudian berakhir di kamar ini.
"Anda yang membawaku kemari?" tanya Nikita dengan sorot mata tajam.
"Ya, aku Crisstoffer Anderson. Dan aku yang membawamu ke rumahku."
"Tapi kenapa? apa masalahmu denganku?"
"Itu karena kamu berani menyembunyikan identitasmu dariku dengan menutupi kepalamu itu dengan kain seperti jelek seperti ini!" jawab pria itu dengan bibir terangkat.
Crisstoffer Anderson mencibir kemudian melempar kain yang dicari oleh Nikita itu kewajah gadis berambut pirang itu.
Gadis itu langsung menangkap kain segi empat yang dilemparkan pria itu dan segera melilitkannya di atas kepalanya asal.
"Dasar kamu laki-laki kurang ajar! Kamu melecehkan kehormatan aku brengsek!" teriak Nikita kemudian maju mendekati pria itu dan langsung memberikan tendangan pas di tulang kering pria itu.
"Awwww!" teriak pria itu dengan suara tertahan. Rupanya gadis ingusan ini kuat juga.
Crisstoffer Anderson dengan cepat menarik tubuh Nikita dan membuka paksa hijab yang tadi ia pakai. Rambutnya yang pirang kembali terurai. Tangan kanan Crisstoffer kemudian menjambaknya dengan keras.
"Aaaaargh!" Nikita mengerang kesakitan tapi pria itu tak melepaskannya.
"Kamu gadis tidak sopan, sekarang ikut aku ke Rumah Sakit dan kamu harus berpura-pura sebagai seseorang!"
"Aku tidak mau! Dan lepaskan tangan kotormu itu, awwww, kamu menyakitiku!" Nikita berteriak keras karena kulit kepalanya terasa terangkat.
"Kalau kamu mau menuruti kemauanku aku tidak akan berbuat kasar padamu, mengerti?!"
Nikita terdiam sembari merasakan nyeri dikepala dan di hatinya. Yang ia rasakan sekarang bukan lagi rasa takut tapi adalah rasa benci yang teramat sangat.
"Baiklah, tapi kembalikan aku ke rumahku. Semua orang pasti mencariku." ujar Nikita memberi penawaran. Ia mulai menyusut air matanya yang tiba-tiba saja menyeruak keluar dari kelopak matanya.
"Okey, begitu kan lebih baik anak manis," jawab Crisstoffer kemudian melepaskan tubuh gadis itu. Ia tersenyum kemudian melanjutkan,
"Aku akan mengembalikanmu ke rumahmu tapi dengarkan aku dan ikuti apa yang aku mau."
"Aku ingin kamu menjadi seseorang untuk menyenangkan kakekku," jawab Crisstoffer Anderson sembari meraih handphonenya di saku celananya.
"Lihat ini, kamu mirip sekali dengan perempuan yang ada di dalam gambar ini hanya rambutmu saja yg berbeda." pria itu menunjukkan beberapa gambar Paula Anderson kepada Nikita.
Gadis itu tersentak kaget. Ia tak pernah menyangka kalau ada perempuan di dunia ini yang begitu mirip dengannya padahal ia tak punya saudara.
"Karena kamu harus total berakting, untuk itu kamu harus mewarnai rambut mu menjadi hitam."
"Tidak akan! aku tidak mau!" geleng kepala Nikita dengan keras.
"Aku akan memakai penutup kepalaku ini saja, dan jangan pernah melecehkan agama ku lagi, mengerti kamu?!" jawab Nikita kemudian memakai lagi hijabnya asal.
Crisstoffer Anderson mengerang kesal. Rencananya membuat gadis itu tampil sebagai Paula tentu saja tidak akan berhasil kalau gadis itu masih bertahan memakai kain segi empat itu dikepalanya yang sangat ia benci.
"Lepaskan! atau aku akan menembak kepalamu!!" tangan Crisstoffer kembali menarik kain itu hingga terlepas.
Nikita kembali mengamuk. Gadis itu mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menendang dan memukul karena merasa dilecehkan. Tetapi tubuhnya yang mungil dibandingkan dengan tubuh pria itu sangatlah tidak seimbang hingga ia kelelahan sendiri.
"Sudah kubilang ikuti perintahku hanya untuk beberapa hari ini selanjutnya aku akan membebaskanmu."
Nikita tidak menjawab hanya airmatanya saja yang terus meleleh di pipinya dan puluhan menit berikutnya ia sudah berada di sebuah salon kecantikan untuk di-make up agar semakin mirip dengan perempuan di dalam gambar itu.
Rambut pirangnya diubah menjadi berwarna hitam persis dengan rambut Paula. Pakaiannya pun yang biasanya tertutup kini agak terbuka sesuai gaya berpakaian perempuan itu.
Tok
Tok
Crisstoffer Anderson mengetuk pintu ruang perawatan kakeknya dengan Nikita versi baru yang berada disampingnya.
"Ingat, kamu tidak perlu banyak bicara, dengarkan saja apa yang dikatakan kakekku. Maafkan kesalahannya dan hibur dia. Maka aku yakin bukan saja kebebasan yang kamu dapatkan tetapi harta warisan juga." ujar pria itu pada Nikita yang sedang menyusut airmatanya karena sedih dengan penampilannya sekarang ini.
Ia merasa sangat berdosa karena kembali mengumbar auratnya.
"Apa yang kamu tangisi hah?!" Crisstoffer sudah jengah melihat gadis cantik itu menangis sejak tadi.
"Kamu melecehkan perempuan tuan Anderson. Kamu memaksa aku membuka pakaianku dan memperlihatkan tubuhku, hiks."
"Memangnya apa yang kamu banggakan dari tubuhmu yang tidak menarik itu sampai kamu menangisinya." percakapan mereka terhenti karena pintu kamar perawatan itu terbuka dan menampakkan Andreas asisten Wiliam Anderson.
"Silahkan masuk tuan muda, kakek anda sudah lama menunggu." ujar Andreas sembari mempersilahkan Crisstoffer Anderson dan seorang perempuan cantik yang sangat mirip dengan Paula Anderson untuk masuk ke ruangan itu.
Asisten pribadi William Anderson tercekat. Ia sangat mengenal baik Paula. Dan ia tak menyangka kalau Crisstoffer Anderson sudah berhasil membawa perempuan yang begitu mirip dengan perempuan itu. Yang nampak lebih cantik.
"Kakek?" sapa Crisstoffer ketika ia sudah mendekati ranjang sang kakek.
"Criss, kamu sudah datang anak nakal? dimana bibimu yang kamu janjikan itu." William Anderson membuka kelopak mata tuanya dan melihat sendiri kalau Paula Putrinya yang ia tinggalkan di Moskow 20 tahun lalu ternyata betul-betul berada di hadapannya.
"Paula? kamu datang menemui ayahmu nak?" tanya William sembari merentangkan tangannya ingin memeluk perempuan itu.
Nikita bergeming. Ia tak bergerak sama sekali. Ia benar-benar merasa pelecehan Crisstoffer Anderson padanya sungguh terlalu. Mana mungkin ia bisa bersentuhan dengan seorang laki-laki yang bukan muhrimnya. Seorang laki-laki asing yang ia tak kenal samasekali.
"Ayo peluk ayahmu Paula." bisik Crisstoffer sembari menodongkan pistol dipinggang gadis itu. Nikita akhirnya menurut dengan beristighfar berkali-kali.
Ia memohon ampun pada Tuhan dan berharap semua orang yang ada di dalam ruangan ini mendapatkan petunjuk dariNya. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Yaitu memohon pada Tuhan agar ini segera berlalu. Ia ingin kembali bertemu dengan sang daddy dan keluarga yang lainnya.
🍁
Sementara itu the Smiths masih berada di Kazakhstan untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang menculik Nikita. Kalaupun orang itu bermaksud meminta uang atau tebusan tetapi kenapa belum juga memberi kabar.
"Roman, aku meminta Semua rekaman CCTV sepanjang perjalanan mobil penculik itu." pinta Alex pada putra dari Nurzhan Subkhan itu. Pria yang bekerja di pemerintahan Kazakhstan dan mempunyai banyak koneksi orang penting di negara itu.
Selama beberapa jam mereka mengikuti pergerakan mobil yang dicurigai sebagai mobil penculik gadis kesayangan keluarga Smith itu dan mereka bisa melihat sendiri kalau mobil itu mengarah ke sebuah Bandara lain di Kazhakstan.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍