
"Nikita bangun sayang!" kali ini Aisyah dan Anna berteriak dan meraih tubuh lemas itu dari rengkuhan Alex.
"Mobil sudah siap tuan," ujar Heru agar semua orang yang ada di sana segera membawa Nikita ke rumah sakit.
"Aisyah kamu tidak perlu ikut, tinggallah disini bersama Danil dan yang lainnya." ujar Alex saat istrinya itu ingin ikut mengantar ke Rumah Sakit.
"Iya baiklah Alex, biar kak Omar yang ikut bersama kalian."
Alex langsung mengangkat tubuh lemas itu ke dalam mobil untuk segera dibawa ke Rumah Sakit.
Didalam perjalanan, tubuh Nikita kembali siuman dan mulai mengeluarkan suaranya tetapi masih sangat pelan bagaikan gumaman.
"Mommy..." panggilnya dengan lemah.
"Alhamdulillah, Niki, kamu sudah sadar sayang?" ujar Alex dengan wajah gembira. Ia menciumi wajah putri kecilnya dengan penuh cinta.
"Mommy Pal, aku mau mommy Pal," ujar Nikita dan langsung membuat Alex bagai tersengat listrik.
Deg
Alex dan Maksim saling berpandangan.
"Niki, ini Daddy sayang, mommy Pal sudah tidak ada. Dia sudah jauh sekali dari sini." jawab Alex dengan debaran didadanya.
Mimpinya bertemu dengan Paula beberapa jam yang lalu tiba-tiba terbayang kembali.
"Mommy Pal, aku ingin mommy Pal, hiks." tangis Nikita yang menyayat hati memenuhi kendaraan beroda empat itu.
"Jangan menangis sayang, ada Daddy disini bersamamu."
"Tidak! daddy tidak peduli padaku. Kamu tidak menyayangiku. Aku mau pergi sama mommy Pal saja hiks," Nikita menangis lagi dan memeluk tubuh Maksim.
Gadis kecil itu menolak Alex sang daddy.
"Bawa aku pulang ke Rumah Uncle Max, aku mau mommy Pal..." Nikita terus menangis didalam pelukan Maksim.
"Ya ampun sejak kapan kamu melihat mommy Paula, Niki?" Alex memandang tajam pada putrinya itu. Gadis kecil itu tidak menjawab ia hanya memeluk Maksim dan terus menangis.
"Baiklah kita akan pulang segera. Dan ingat mommy Pal tidak ada di sini. Mommymu hanya mommy Aisyah." jelas Alex dan mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela.
Ia bingung sendiri bagaimana mungkin putrinya itu menyebut nama mommy kandungnya setelah sekian lama, ada apa ini?
Kembali tangannya meraih tubuh putrinya agar bisa ia peluk tetapi langsung ditepis kembali oleh Nikita.
"Aku mau pulang ke rumah di Moskow sekarang!" seru Nikita dengan suara melengking. Anak itu benar-benar merajuk sekarang.
Oh Pal, maafkan aku tapi kenapa Nikita jadi seperti ini?
Alex meraup wajahnya kasar dengan pikiran yang sangat kacau. Dan tak lama kemudian merekapun kembali ke Resort.
"Kalian sudah pulang? apa Nikita baik-baik saja Alex?" tanya Aisyah dengan wajah keheranan.
Pasalnya mereka belum cukup 30 menit meninggalkan tempat itu dan sekarang Alex dan yang lainnya sudah kembali. Dan sekarang ia menyaksikan putri kecilnya itu sedang digendong oleh Maksim.
"Nikita sayang? kamu sudah sehat ya?" tanya Aisyah sembari menyambut putri kecilnya yang sudah sadar itu. Nikita juga masih betah dalam gendongan ala koala oleh Maksim.
Nikita tidak menjawab, ia hanya menyembunyikan wajahnya dileher Maksim.
Aisyah menatap Alex yang sedang mengalihkan perhatiannya ke arah lain.
"Syukurlah kamu sudah sehat, ayok sayang kita ke kamar, mommy punya banyak makanan untukmu. Uncle Heru yang membelikannya untukmu."
"Aku tidak mau! Aku mau ke kamar uncle Max saja." jawab Nikita tanpa mau melihat wajah Aisyah. Perempuan berhijab itu tersentak. Hatinya retak seketika. Ia merasa sedih karena Nikita tak pernah seperti ini pada dirinya.
"Niki, maafkan Daddy ya, nanti daddy akan melakukan apa saja yang kamu minta," bujuk Alex dan tetap ingin mengambil Nikita dari gendongan Maksim.
"Tidak! aku benci Daddy, kalian tidak pernah peduli padaku, huaaaa." Nikita berteriak kemudian menangis lagi.
Bayangan dirinya yang tak punya siapapun tadi sebelum kecelakaan itu terjadi kembali berputar di dalam ingatannya.
Ia seperti seorang anak yang tak punya induk dan juga teman.
Hingga entah kenapa kakinya mengikuti panggilan dari seseorang yang mengaku dirinya sebagai mommy Pal dan membawanya naik ke sampan dan akhirnya terjadilah peristiwa naas tadi.
"Nikita, jangan bicara seperti itu sayang, kita semua sayang padamu. Kasihan daddymu Niki." bujuk Aisyah sembari meraih tubuh Nikita kembali.
"Mommy yang sudah mengambil Daddy dariku, ia sudah tidak menyayangiku lagi. Biar aku ikut mommy Pal saja hiks," Nikita meraung dan kini kembali menyakiti hati Aisyah dengan kata-katanya.
"Alex, aku bawa Nikita ke kamar ya, biar ia bisa beristirahat." ujar Maksim karena tidak mau permasalahan ini berlarut-larut.
Alex hanya bisa diam. Ada banyak hal yang berkecamuk dalam otaknya. Sesuatu yang diluar nalarnya mengganggu pikirannya.
Air mata Paula dan juga kemarahan Nikita membuat hatinya berdebar tak karuan. Perasaan bersalah kembali hadir dilubuk hatinya. Rasa sesal pada Paula dan juga ketidakpeduliannya pada Nikita karena terlalu sibuk dan mabuk dengan cintanya pada Aisyah.
"Alex? bisa kamu ceritakan ada apa ini?" tanya Aisyah dengan penuh tanda tanya.
"Sudahlah, bawa Danil bersamamu, aku akan tetap membujuk Nikita agar mau kembali ke kamar ini." ujar Alex dengan wajah datar.
"Tapi Alex? bukankah lebih baik kalau ia memenangkan dirinya dengan Maksim saat ini?"
"Diam kamu! Nikita putriku, aku lebih tahu bagaimana menenangkannya daripada Maksim dan juga dirimu!" bentak Alex dan langsung membuat Aisyah tersentak.
Sungguh ia merasa sakit dan sedih dengan kata-kata suaminya. Selama bertahun-tahun pernikahannya, pria itu tak pernah membentaknya dengan kata-kata kasar seperti itu.
"Alex? kamu membentakku?" tanya Aisyah dengan mata berkaca-kaca.
Perempuan itu langsung masuk ke kamarnya dan menangis di sana. Menumpahkan banyak rasa yang ia alami yang begitu cepat berganti dari bahagia menjadi duka tak berujung.
Ia tak mau Omar sang kakak melihatnya bersedih. Karena ternyata Omar dan Heru masih ada di sana menyaksikan semua kejadian dramatis dari mereka berempat.
Alex meraup wajahnya kasar. Ia menarik nafasnya berat. Dan meninggalkan kamar itu. Kakinya ia langkahkan ke kamar Maksim. Hati Nikita harus ia dapatkan kembali atau ia akan mati menyesal dan merasa terus bersalah pada Paula sang mantan.
"Niki? kemarilah, maafkan Daddy sayang," bujuk Alex pada Nikita yang sudah mulai tenang dan sedang berbaring di ranjang Maryam.
"Tidak, Daddy cuma sayang sama mommy, aku lebih baik di sini saja. Sana ke kamar mommy, aku tak mau bertemu denganmu,"
"Nikita sayang, Daddy janji mulai saat ini kita akan selalu bersama. Hanya berdua, okey?"
"Aku tidak percaya. Daddy selalu mengatakan hal itu tetapi tidak menepatinya."
"Aku berjanji sayang, kita akan punya Kamar berdua saja tanpa orang lain."
"Betulkah Daddy?"
"Iyya, daddy berjanji."
"Baiklah, aku ingin tidur bersama daddy sepanjang hari tanpa orang lain." ujar gadis kecil itu dan segera naik kegendongan Alex.
Maryam dan Maksim saling berpandangan. Mereka berharap keluarga Alex akan baik-baik saja kedepannya.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍