
Maksim membawa Maryam untuk berpamitan kepada orang tuanya sebelum mereka berangkat ke Moskow hari itu juga. Mereka cukup kaget karena baru juga satu hari menikah, Maksim sudah mau membawa sang putri pergi jauh dari desa mereka.
"Ada pekerjaan penting yang menunggu kami di Moskow ayah." ujar Maksim memberi alasan.
"Dan aku tidak akan kuat berpisah lama-lama dengan putrimu yang sangat cantik ini." lanjut Maksim dan langsung membuat wajah Maryam menunduk malu. Salim sang ayah pun tersenyum. Ia ikut bahagia melihat interaksi anak dan menantunya. Ia yakin Maksim bisa membahagiakan putrinya itu.
"Berangkatlah kalau begitu. Dan ingatlah untuk selalu berkirim kabar." ujar Salim sambil memeluk tubuh putrinya yang sekarang sudah dimiliki seutuhnya dari seorang pria asing tetapi baik hati dan mengaku sangat mencintai putrinya itu.
"Jaga Maryam baik-baik Max." pesannya untuk yang terakhir kalinya sebelum mereka benar-benar berangkat.
"Percaya padaku ayah, ia tak akan terluka sedikitpun." jawab Maksim dengan senyum di wajahnya. Salim tersenyum kemudian mencium wajah putrinya.
"Ayah, aku bisa cemburu." ujar Maksim dan langsung mendapat cubitan panas dari Maryam.
Mereka berdua pun kembali ke Rumah sekalian ikut berpamitan pada paman Yusuf.
"Ayah kami pamit ke Moskow." ujar Aisyah sembari memeluk erat tubuh tua sang ayah.
"Baik-baik kamu di sana. Dan jangan kembali lagi ke ini tanpa suamimu." Mohammad Yusuf menyentuh kepala putrinya dan menciuminya lembut.
"Ayah, aku akan membawa Aisyah bersamaku." giliran Alex yang menyalami dan memeluk tubuh sang ayah mertua.
"Aku percaya padamu Alex. Jangan ada lagi air mata sedih pada putriku." ujar Mohammad Yusuf sembari menepuk bahu tubuh tinggi sang menantu.
"Aku janji ayah, hanya air mata bahagia saja yang akan aku berikan padanya."
"Pergilah. Dan jaga kandungannya baik-baik. Ayah sudah tidak sabar menimang cucu."
"Kakek, aku kan cucumu juga. Timang aku saja." ujar Nikita dengan mata berkedip-kedip lucu.
"Ah, iya aku lupa kalau sudah punya cucu yang sangat cantik seperti kamu." Mohammad Yusuf tersenyum kemudian melanjutkan,
"Kemarilah Nikita sayang, peluk kakekmu ini." ia meraih tubuh kecil Nikita dengan penuh rasa kasih sayang. Bibi Sarah ikut terharu melihat keakraban mereka semua.
"Kurasa Omar tak perlu lagi memberi cucu. Karena kami sudah punya Nikita dan calon bayinya Aisyah." ujar Bibi Sarah sengaja menyindir Omar yang belum juga berniat menikah.
"Ah bibi, jangan berkata seperti itu. Sebentar lagi aku akan membawamu ke Moskow untuk merawat putra-putriku." ujar Omar sembari tersenyum samar. Dan entah kenapa bayangan Anna cukup menggangu pikirannya.
"Hem ya, bibi akan menunggu waktu itu tiba. Tapi bibi ragu dengan keadaan rematik pada kakiku ini kalau kamu terlalu lama berpikir." ujar Bibi Sarah yang membuat semua orang tertawa. Omar hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
🍁
Pagi itu mereka semua berangkat ke Moskow dengan hati campur aduk. Senang karena mereka berkumpul bersama keluarga dan sedihnya adalah mereka meninggalkan keluarga yang sangat mereka sayangi.
Aisyah yang duduk dibarisan pertama bersama suaminya bersandar di dada bidang suaminya dengan wajah pucat. Seperti biasa, ia cukup mabuk jika melakukan perjalanan jauh apalagi ia juga sedang hamil.
"Sabar ya, sebentar lagi kita sampai di pesawat jet pribadi." ujar Alex sembari memijat lembut bahu sang istri. Aisyah hanya bisa mengangguk pelan. Ia sudah tak punya tenaga untuk menjawab perkataan suaminya.
Sedangkan di depan sana. Maksim yang duduk di samping Albert yang sedang mengemudi tampak khawatir. Ia takut Maryam juga mengalami mabuk perjalanan di belakang sana seperti sang nyonya muda. Ia segera mengirim pesan pada Anna lewat pesan singkat.
Anna tersenyum dan segera mengetik balasan.
Tenang saja, ia aman di sini, serahkan padaku 😎
Maksim menutup layar handphonenya sembari tersenyum. Ia tahu Anna pasti bisa diandalkan.
🍁
Setelah kepergian Alexander Smith beserta rombongannya ke Moskow. Omar memulai rencana kerja yang akan ia lakukan selama mengambil cuti panjang dari pekerjaannya.
Omar mulai membuka pemeriksaan dan pengobatan kesehatan gratis di desa Rakhata beserta desa-desa di sekitarnya. Ia menggandeng para dokter dan perawat di Rumah Sakit terdekat.
Mohammad Yusuf merasa bangga pada putranya yang telah mendedikasikan ilmu dan hartanya untuk orang-orang yang sedang membutuhkan.
"Omar, semua warga berterima kasih padamu nak." ujar Mohammad Yusuf sambil memperhatikan putra pertamanya itu sedang sibuk. Omar sedang membereskan semua perlengkapan dan peralatan yang sudah ia pakai selama beberapa hari ini.
Ia dan tim dokter Dagestan serta para relawan dari warga desa benar-benar menyediakan waktu mereka non-stop selama 7 hari ini untuk memberikan pelayanan.
"Iya ayah, aku juga sangat berterima kasih pada mereka semua karena telah ikut bekerja sama dalam acara ini." jawab Omar kemudian duduk di samping ayahnya. Mohammad Yusuf tersenyum. Ia semakin bersyukur karena memiliki putra yang cukup peka pada keadaan sekitarnya.
"Ini sudah lama aku rencanakan ayah. Kapan lagi aku bertemu dengan sanak saudara di sini kalau bukan dalam acara seperti ini." ujar Omar sambil bersandar di sandaran sofa yang ia duduki. Ia ingin meregangkan otot-ototnya yang baru ia rasakan sangat lelah karena bekerja selama satu pekan ini tanpa istirahat yang cukup.
"Ayah pikir kamu juga sudah perlu membina sebuah keluarga, Omar." ujar sang ayah pada putranya yang sedang menutup matanya itu. Ia tahu Omar sedang tidak tidur.
"Ayah semakin tua. Dengan kamu menikah, hati ayah jadi lebih tenang." Mohammad Yusuf menarik nafas panjang.
"Kalau kamu setuju, Sofia putri paman Ibrahim menawarkan dirinya padamu. Kurasa ia gadis yang baik dan juga sopan selain itu ia dari keturunan baik-baik yang jelas nasabnya." Omar langsung membuka matanya dan menatap ayahnya dengan intens.
"Apakah maksud ayah, aku harus mengikuti sebuah perjodohan?"
"Oh tidak. Ayah cuma memberimu pandangan, nak. Menikahi perempuan itu bukan cuma kecantikan fisiknya melainkan juga adalah latar belakang keluarga dan juga tentu saja adalah akhlaknya."
Omar terdiam kemudian menarik nafas berat. Hatinya tiba-tiba berdebar dan bersemangat membayangkan sosok cantik dan tomboi Anna Peminov.
"Atau apakah kamu mempunyai seorang perempuan yang sudah ada di hatimu?" tanya Mohammad Yusuf dengan hati-hati. Ia merasa ekspresi putranya itu menunjukkan sesuatu yang berbeda.
"Apakah ayah akan merestui kalau perempuan itu berbeda keyakinan dengan kita, ayah?" Omar balik bertanya sambil menatap wajah teduh ayahnya. Seketika wajah teduh itu berubah warna. Sang ayah tidak menjawab dan Omar sudah tahu jawaban dari pertanyaannya.
"Baiklah ayah, aku lelah sekali. Aku pamit untuk tidur sejenak." ujar Omar dengan wajah datar. Sang ayah menutup matanya kemudian memohon kepada Tuhan agar diberi kebaikan atas semua hal yang terjadi.
---Bersambung--
Mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍