
Ada banyak ungkapan syukur yang Alexander lafazkan dalam hati dan bibirnya karena sebuah harapan besar yang diberikan oleh dokter Omar kalau kaki Nikita akan segera sembuh dan bisa berjalan dengan normal kembali.
"Terima kasih dokter." ucapnya berkali-kali dengan senyum terkembang.
"Tidak masalah Mr. Smith. Ini adalah tugas saya sebagai dokter."
"Apakah anda akan langsung kembali ke desa?" tanya dokter itu ingin tahu.
"Tidak dokter. Kami masih ada urusan penting di sini. Memangnya kenapa?" tanya Alex sedikit resah. Apa dokter ini telah mendengar tentang penyerangan geng Murphy di desa itu dan juga penculikan Aisyah adik perempuannya.
"Oh tidak. aku hanya ingin menitipkan sesuatu untuk ayah. Lama aku tidak pernah kembali ke desa. Terakhir kita bertemu pada malam itu kan?"
"Ah iya. Anda rupanya masih ingat tentang malam itu."
"Tentu saja Mr. Smith. Semua yang terjadi yang berhubungan dengan Aisyah haruslah aku ketahui selain ayah tentunya." Alexander mengangguk mengerti akan hubungan baik mereka bertiga.
"Jadi? bolehkah saya tahu urusan penting apa yang akan anda urus di Rumah Sakit ini padahal Nikita sudah bisa pulang dan dalam masa pemulihan."
Alexander menatapnya dengan pandangan tak biasa. Ia merasa dokter Omar terkadang terlalu banyak ingin tahu.
"Terus terang, aku ingin di khitan." jawab Alex yang langsung mendapat satu tatapan tajam dari dokter muda itu.
"Maksudnya? apakah anda? atau anda hanya ingin dikhitan saja?" nampak dokter Omar sedang ingin memastikan sesuatu. Ia sampai menjelaskan dengan detail apa itu khitan atau sunat. Mungkin ia ingin benar-benar memastikan keinginan Alexander.
"Manfaat sunat bagi kesehatan tidaklah sedikit, antara lain menurunkan risiko terjadinya penyakit menular seksual dan infeksi saluran kemih. Anda tidak perlu khawatir bila ingin disunat, karena prosedur ini tidak akan memengaruhi kesuburan atau mengurangi kenikmatan Anda saat berhubungan sekksuual." Alex tersenyum dibuatnya. Ia akan memastikannya nanti apakah betul kata dokter itu jika ia nanti berhubungan dengan ...Aah Alexander langsung menepis pikiran mesumnya yang tiba-tiba muncul. Ia lalu berusaha serius mendengarkan dokter Omar melanjutkan penjelasannya.
"Sunat adalah proses pelepasan kulup atau kulit yang menyelubungi ujung peeniss. Tak hanya pada orang dewasa dan anak-anak, sunat atau sirkumsisi juga bisa dilakukan terhadap bayi." Alex mengangguk paham. Yang ia tahu dari penjelasan Pasha bahwa ketika ia mantap untuk menerima Islam sebagai agamanya adalah ia harus dikhitan terlebih dahulu.
"Manfaat sunat atau khitan itu banyak Mr. Smith, bisa mengurangi risiko terjadinya penyakit seeksual menular, seperti herpes atau sifilis, mencegah terjadinya penyakit pada peeniis, seperti nyeri pada kepala atau kulup peeniis yang disebut fimosis, mengurangi risiko terjadinya infeksi saluran kemih yang berkaitan dengan masalah ginjal, mengurangi risiko terjadinya kanker peeenis dan kanker serviks pada pasangan, dan membuat kesehatan ***** lebih terjaga, karena ***** yang disunat lebih mudah dibersihkan." dokter Omar meneguk segelas air putih karena penjelasannya yang cukup lengkap tentang sunat. Alexander semakin paham dibuatnya. Ia berjanji setelah keluar dari ruangan ini akan memaksa Maksim dan Albert mengikuti jejaknya.
"Jadi, Mr. Smith, apakah ini murni sunat biasa atau ada maksud lain?"
"Iya, dokter. Apa yang anda pikirkan betul adanya." jawab Alexander seolah tahu betul apa yang di maksud oleh dokter itu.
"MasyaAllah. Alhamdulillah, Anda sudah mendapatkan hidayah dari Allah. Selamat Mr.Smith." ujar dokter Omar sambil memeluk erat tubuh tinggi tegap Alexander Smith dengan perasaan haru.
"Kita sekarang bersaudara, Mr.Smith. Jangan sungkan padaku. Eh, aku akan membuatkan jadwal untukmu dengan dokter ahli bedah Sergey Abdullah." ujarnya dengan suara gembira.
"Persiapkan diri anda karena ini bisa memakan waktu beberapa hari untuk penyembuhan setelahnya. Maklum kulit anda sudah tidak muda lagi. hahaha. Dan juga tidak boleh berhubungan sekitar 5 sampai 6 bulan ke depan." ujar dokter Omar dengan senyum tertahan.
"Tidak masalah dokter, dengan izin Tuhan aku pasti bisa menahannya." jawab Alexander dengan suara mantap. Ia sekarang sudah benar-benar mantap dengan keputusannya.
"Oh, iya sekarang ini sudah banyak obat penghilang nyeri. Insyaallah sembuhnya nanti cepat."
"Baiklah. Kurasa hari ini juga anda akan di sunat karena dokter Sergey Abdullah sedang kosong sekarang."
"Terima kasih dokter."
"Ambillah air wudhu terlebih dahulu, Mr.Smith."
"Daddy apa itu sunat?" tanya Nikita ketika kami berdua sudah berada di luar melalui lorong-lorong Rumah Sakit yang cukup sibuk dengan lalu lalang dokter dan perawat.
"Sunat itu apa ya?" jawab Alex sambil berpikir bagaimana menjelaskan istilah ini kepada gadis kecil seumuran Nikita.
"Daddy, aku juga mau tahu." ujar Nikita lagi memaksa. Alex jadi pusing dibuatnya karena putri kecilnya ini pasti tidak akan berhenti bertanya jika ia tidak memberinya jawaban sekarang juga.
"Apakah Daddy akan disunat?" tanya Nikita lagi karena melihat Alex masih diam sembari mendorong kursi roda putrinya.
"Iyya sayang."
"Kenapa?"
"Karena Daddy mau sehat dan juga supaya Daddy bisa sholat bersama di masjid kakek Yusuf."
"Oh begitu?, berarti aku juga harus disunat juga supaya bisa sholat sama ibu Aisyah. Aku sering lihat dia sholat dan mengajakku dad." Alex menghentikan laju roda itu lalu aku berjongkok di depan gadis kecilnya.
"Daddy ada apa?" tanya Nikita sembari menatap Alex penuh perhatian mata hitamnya yang pekat seakan menembus jantung Alex.
"Daddy?" panggil Nikita karena Alex hanya diam saja. Ia seakan berhadapan dengan Paula sekarang. Tiba-tiba air matanya keluar tanpa ia sadari.
"Daddy, kenapa menangis?" tanya Nikita yang juga ikut menangis.
"Daddy merindukanmu Pal, " ujar Alex tanpa sadar.
"Daddy!" Nikita berteriak histeris melihat Alex yang begitu rapuh sekarang untungnya Albert dan Maksim segera datang ke tempat itu. Maksim segera mengeluarkan Nikita dari kursi rodanya dan menggendongnya menjauh dari daddy-nya. Sedangkan Albert menepuk bahu Alexander yang menurun.
"Aku tahu semua akan baik-baik saja Mr. Smith." ujar Albert setelah lama terdiam.
"Paula seakan menghukumku Al, ia selalu mengikutiku kemanapun. Ia selalu ada dalam diri Nikita." Alex meraup wajahnya kemudian menunduk.
"Seiring berjalannya waktu, bayang-bayang itu pasti akan pergi." ujar Albert berusaha memberinya penghiburan.
"Apakah karena aku banyak melakukan kesalahan padanya?" Albert tidak menjawab, ia tak tahu harus berkata apa.
"Kamu butuh mendekatkan diri dengan Tuhan yang kamu yakini sekarang, mungkin dengan begitu rasa bersalahmu akan sedikit berkurang."
"Ah, ya..aku butuh bersujud lebih banyak." jawab Alex dan mengajak ketiga orang itu menuju ruang bedah agar rencana sunatnya segera dilakukan.
---Bersambung--
🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor tetap semangat update nya.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍