Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 104 EMHD



Anna Peminov memeluk ibunya yang datang menjenguk dengan penuh haru. Rupanya Albert yang datang ke Apartemen perempuan paruh baya itu untuk menjemputnya dan membawanya ke Rumah Sakit.


"Ibu, aku senang sekali kamu datang." ujar Anna sembari melepaskan pelukan ibunya.


"Aku juga senang sekali sayang, kamu juga sudah mulai sehat sekarang." balas Jenny dengan senyum terkembang. Ia nampak lebih cerah dibandingkan hari-harinya selama ini.


"Ibu kelihatan berbeda, ibu nampak lebih gemuk dan cantik." puji Anna sembari memandang wajah ibunya dengan intens.


"Aku sudah bisa tidur nyenyak sekarang Anna, berkat doa-doamu pada Tuhanmu." jawab Jenny dengan senyum cerah di wajahnya.


"Alhamdulillah, puji syukur kepada Tuhan ibu."


"Iya sayang, hatiku lebih baik dan tenang sekarang. Ayahmu tidak pernah lagi terlambat untuk pulang."


"Juan sudah tidak minum-minum lagi. Dan itu yang membuat kami tak pernah lagi bertengkar. Ia kembali menjadi sosok suami yang baik dan bertanggung jawab." jelas Jenny dengan binar bahagia diwajahnya.


"Aku senang mendengarnya ibu. Aku jadi sangat merindukan ayah sekarang. Dan aku harap ia punya waktu libur dan kita bisa pergi keluar untuk makan malam bersama." ujar Anna dengan wajah tak kalah bahagia.


"Itu yang akan kita lakukan sayang, makanya cepatlah sembuh dan pulanglah ke rumah." ujar Jenny dengan penuh harap. Sudah lama sekali Anna tidak pernah tidur di rumahnya.


Sejak putrinya itu sering digadaikan oleh sang ayah ketika sedang kalah berjudi Anna tidak pernah lagi betah tinggal di rumahnya. Ia tidur dimana saja yang membuatnya nyaman.


Anna terdiam. Ia juga sudah lama memikirkan semua ini sejak dirawat di Rumah Sakit ini. Ia tidak mungkin pulang ke rumah Alex dan membuat dirinya merepotkan orang lain untuk merawatnya yang masih sakit dan tak bisa bekerja.


"Tenanglah sayang, aku sudah membersihkan satu kamar kosong untukmu. Boneka dan mainan di masa kecilmu masih aku simpan Anna."


"Terima kasih ibu, kamu baik sekali."


"Ehem, permisi nyonya, perkenalkan saya dokter Omar, dokter yang merawat dan menjaga putrimu selama di sini." ujar Omar yang ternyata sudah lama ada di sana tetapi tidak diperhatikan oleh keduanya yang sedang sibuk bercerita dan melepas rindu.


"Ah iya ibu, ini dokter Omar yang telah banyak membantuku." ujar Anna memperkenalkan pria muda itu kepada sang ibu.


"Terima kasih banyak dokter. Semoga putriku tidak merepotkanmu selama ini." ujar Jenny dengan nada sopan.


"Sayangnya ia sangat merepotkan aku nyonya." jawab Omar dengan ekspresi tak terbaca. Anna langsung melotot tak percaya kalau dokter sebaik Omar mau menceritakan aibnya pada ibunya sendiri.


"Mohon maaf dokter, Anna memang anak yang nakal. Semoga itu tidak merugikan anda."


"Sebenarnya aku tidak mau memaafkannya tapi karena nyonya Peminov memaksa, terpaksa aku terima permintaan maaf anda." jawab Omar dengan pandangan mata tajam ke arah Anna yang sedang menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Apakah Anna sudah bisa pulang dokter?" tanya Jenny setelah melihat Dokter Omar sudah tidak sibuk lagi dengan beberapa laporan dari beberapa staf Rumah Sakit yang mengunjungi kamar itu sebagai kantor kedua sang pimpinan rumah sakit.


Yah sejak Anna dirawat di Rumah Sakit ini, ia merubah ruangan perawatan gadis itu menjadi kantor darurat baginya. Ia tak mau meninggalkan Anna terlalu lama tetapi ia juga punya banyak pekerjaan yang menunggunya di ruangannya.


Alhasil ia menyulap ruang perawatan itu menjadi kantor keduanya. Ia bahkan tidur juga di sana semalaman.


Anna yang merasa risih diperlakukan istimewa seperti itu malah sering membuat kekacauan di kamar itu agar Omar merasa bosan dan meninggalkannya. Meskipun hati kecilnya sangat menyukai Omar dan juga ingin diperhatikan lebih.


Ia sungguh tidak nyaman dengan pandangan curiga para perawat padanya. Apalagi ada perawat yang terang-terangan mengaku suka kepada sang dokter.


Ia sering mendapat sindiran-sindiran yang sengaja membuatnya sakit hati, seperti tadi pagi saat Omar sedang ada meeting di ruangan lain di Rumah Sakit ini. Perawat yang mengaku menyukai Omar sengaja mendatanginya.


"Aku baik suster, aku rasa aku sudah bisa pulang segera."


"Baguslah kalau kamu cepat keluar dari Rumah Sakit ini. Lihat kekacauan yang kamu lakukan gara-gara kamu sakit dan tak berguna. Dokter Omar jadi tidak berkonsentrasi bekerja dan malah bekerja sambil menjagamu di sini seperti pasien yang hampir mati saja."


"Jangan terlalu besar kepala karena pimpinan Rumah Sakit ini memperlakukanmu sangat istimewa. Itu hanya ucapan balas budi karena aku dengar kamu telah menyelamatkan adik perempuannya kan?" Anna langsung tersenyum kecut. Hatinya sakit. Untunglah ia selama ini tidak terlalu berharap terlalu jauh karena melihat kebaikan dokter Omar padanya.


"Terima kasih suster, aku juga merasa risih sebenarnya diperlakukan istimewa seperti ini. Tapi kurasa itu karena memang aku spesial dimata dokter Omar." ujar Anna berniat membalas sakit hatinya. Setidaknya ia tidak terlalu tampak menyedihkan di depan perawat itu.


Dengan menghentakkan kakinya sang perawat keluar dari sana setelah memberinya ancaman kalau ia bisa saja bertindak nekat pada sang dokter jika Anna berani mengharapkan lebih.


Dan sekarang disinilah ia sekarang dalam tatapan tak biasa dari sang dokter tampan, idaman hatinya dari dulu.


"Akan aku periksa lukanya terlebih dahulu. Kalau masih basah, aku rasa putrimu ini tidak masalah tinggal bersamaku di sini lebih lama." ujar Omar yang langsung membuat Jenny mulai berpikir yang tidak-tidak.


"Maksud dokter apa?" tanya Jenny dengan segala prasangka di hatinya.


"Ah, tidak nyonya. Lupakan apa yang aku katakan. Mari nona Peminov aku akan memeriksa lukamu." ujar Omar dan langsung membuka pakaian Anna dan memeriksa keadaan jahitan pada dada bagian atasnya.


"Anda sudah bisa membawanya pulang. Dan kurasa bekas itu bisa mengganggu penampilanmu nona Peminov, aku sarankan pakailah pakaian tertutup." ujar Omar dengan pandangan langsung ke arah bola mata Anna.


Deg


Anna merasa pandangan itu tak biasa. Seketika ia merasakan dadanya berdebar lebih kencang dari biasanya.


"Aku akan mencari obat atau salep yang bisa menyamarkan lukaku dokter agar suamiku kelak tidak merasa aku ini cacat." ujar Anna tak sadar.


"Ah, ya carilah. Itu pasti bagus untukmu. Sayangnya di apotik Rumah Sakit di sini tidak menyediakan obat seperti itu."


"Kupikir Pelip tidak akan kecewa jika ada bekas luka di sini, iya kan ibu?" Anna menunjuk dadanya dan bertanya pada ibunya yang semakin bingung dengan tingkah kedua orang dihadapannya yang sepertinya sedang meraba perasaan masing-masing.


"Oh, tentu tidak sayang, ia kan mau menerimamu apa adanya dari dulu." jawab Jenny yang ikut-ikutan dalam drama yang tidak ia mengerti.


"Baguslah ibu." jawab Anna tanpa melepaskan tautan matanya dari Omar. Sedangkan dokter muda itu meremas tengkuknya dengan gelisah.


🍁


Alexander Smith tak berhenti mengucapkan kalimat syukur dengan suara pelan. Urusannya di New York tidak memakan banyak waktu. Bahkan sangat lancar dan mudah.


Setelah memberikan pelajaran berharga bagi penghianat di tubuh proyek mereka, yang Alex yakini akan ia ingat seumur hidupnya itu ia mengadakan syukuran besar-besaran dengan memberikan banyak bonus pada semua karyawannya disana.


Alex melelang proyek itu di depan semua pengusaha terbaik di kota kelahiran Bill Clinton. Dan sungguh menggembirakan karena cepat laku dengan tidak membawa kerugian padanya.


Mereka berdua dengan senang hati kembali ke Rusia untuk bertemu dengan orang-orang tercinta mereka.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍