
Pagi yang cerah bagi semua penghuni rumah mewah Alexander Smith, kecuali sang kepala keluarga di rumah itu. Siapa lagi kalau bukan hot daddynya Nikita.
Aisyah pagi-pagi sekali sudah bersiap ke kampus untuk mengikuti ujian final di semester ini. Semalam ia sudah belajar dengan serius di kamar Nikita putrinya. Ia bahkan mengunci pintunya dengan tak lupa menulis notice di depan bingkai pintu itu.
DO NOT DISTURB! / DILARANG MENGGANGGU!
Alex hanya bisa mondar-mandir di depan pintu kamar putrinya itu dengan rasa frustasi yang teramat sangat. Ia tidak bisa tidur sebelum menyentuh istrinya itu.
"Aaaaakh!" teriaknya tertahan. Ia meremas rambutnya kasar karena tak bisa berbuat banyak. Ingin rasanya ia mendobrak pintu itu, tetapi ia takut malah tidak mendapatkan apa-apa kecuali pelototan marah dari Nikita putrinya.
Akhirnya ia kembali ke kamarnya dengan langkah gontai, bahunya menurun karena tak punya semangat. Ia pun berbaring sembari mengingat kegiatan indahnya tadi siang bersama istrinya.
"Uuuh Aaakh," Alex menarik nafas dan membuangnya melalui mulutnya, ia menggerutu karena ia tambah tidak bisa tidur karena sesuatu dari dalam dirinya malah membutuhkan hal yang nyata.
Sampai dini hari ia hanya bisa membolak-balik badannya gelisah. Dalam hati ia berjanji akan membuat pintu khusus sebagai penghubung antara kamarnya dan kamar putrinya itu, agar ia bisa menculik Aisyah saat semua orang sudah terlelap.
"Selamat pagi semuanya." sapa Aisyah kepada semua anggota keluarga Smith yang akan sarapan bersama sebelum melakukan aktivitas masing-masing.
"Kak Omar bagaimana tidurmu semalam?" tanya Aisyah saat melihat kakaknya itu menarik kursi dan ikut mengambil roti isi daging buatan adiknya itu.
"Alhamdulillah sangat nyenyak. Kamar Maksim sangat nyaman." jawab Omar dengan senyum cerahnya.
"Terima kasih tuan Maksim." ujar Omar sembari membawa pandangannya ke arah Maksim yang sedang mengunyah roti isi sandwich.
"Hem." jawab Maksim singkat. Ia terus mengunyah sembari meminum juice jeruk yang ada dihadapannya.
"Uncle Max, sudah membaca doa makan?" tegur Nikita karena sepertinya Maksim kelihatan sangat lapar dan lupa membaca doa.
"Sudah sayang, aku selalu ingat untuk menyebut nama Tuhan setiap melakukan sesuatu supaya berkah kan?"
"Kamu hebat uncle Ma." ujar Nikita memuji Maksim.
"Mommy, kenapa Daddy tidak ikut sarapan bersama kita? apa dia baik-baik saja?" tanya Nikita dengan pandangan heran. Ia sudah memandangi semua yang hadir di meja makan itu tetapi belum melihat Daddynya di sana.
"Silahkan kalian semua makan, aku akan melihat Alex." ujar Aisyah kemudian segera ke kamar suaminya. Ia jadi khawatir karena semalam ia bertemu suaminya hanya saat makan malam setelah itu ia sudah sibuk belajar untuk persiapan final test untuk hari ini.
"Alex, kamu tak apa-apa?" tanya Aisyah saat memasuki kamar dan mendapati suaminya itu masih berbaring di ranjang dengan selimut membungkus tubuh kekarnya.
"Aisyah sayang, kamu harus tanggung jawab. Semalam aku tidak bisa tidur. Lihatlah kantong mataku ini." ujar Alex dengan suara merajuk manja. Ia melambaikan tangan ke arah Aisyah agar istrinya itu mendekat padanya. Perempuan cantik berusia 23 tahun itu pun mendekat. Dan tanpa disangka-sangka Alex langsung menangkapnya dan membawanya ke atas tubuhnya.
"Alex? apa-apaan ini?" tanya Aisyah bingung sekaligus kesal karena ternyata dikerjai oleh suaminya.
"Biarkan seperti ini sayang, aku merindukanmu." ujar Alex dengan pandangan mata tak lepas dari bibir istrinya yang mengerucut sebal.
"Kenapa harus Albert. Aku yang akan mengantarmu." jawab Alex cepat.
"Ia berjanji akan mengantarku agar bisa bertemu Reisya." jawab Aisyah sembari tersenyum.
"Biarkan ia berangkat terlebih dahulu bersama Nikita. Dan kamu, biar aku yang mengantarmu, okey?"
"Tapi kan?...Hmmmpth." detik berikutnya suara Aisyah sudah tenggelam oleh pusaran hasrat yang menggelora dari seorang Alexander Smith sang mantan Cassanova. Ia tak pernah lelah mereguk indah dan nikmatnya setiap inci dari tubuh istrinya itu. Ia serasa ingin mengganti waktu-waktu yang telah lewat.
Waktu 3 tahun penantian yang panjang yang membuatnya lupa bagaimana rasanya bercinta.
Dan sekarang, sosok yang bisa membangkitkan kembali hasrat menggebu dari dirinya kini ada ditangannya, ada di dalam pelukannya, dan ada dalam kuasanya. Hingga ia ingin selalu membawanya terbang bersama meskipun tanpa sayap, meraih dan menghentak rasa yang tak bisa diucapkan oleh lidah. Kecuali dendang syair-syair cinta penuh pemujaan.
"Alex..." desah Aisyah dengan suara manja. Ia sudah tidak tahan dengan permainan lidah dan tangan suaminya. Bahkan tak sadar kalau pakaiannya sudah tidak berada pada tempat yang semestinya.
"Hem..." jawab Alex dengan gumaman. Mulutnya sudah sangat sibuk menguulum lembut sebuah pengantar magnet yang sangat besar pengaruhnya bagi Aisyah, perempuan yang sangat dicintainya itu. Hingga Aisyah menjambak rambut Alex kasar karena tak mampu menahan gelombang dahsyat yang menyerangnya bagai arus berkekuatan tinggi. Ia lemas tak berdaya, tak sanggup menerima lagi serangan suaminya yang bertubi-tubi padanya.
"Alex, plis..." sang dominan sudah paham dengan permintaan istrinya itu. Ia pun mulai melakukan kegiatan inti yang nantinya akan membuat Aisyah berteriak minta ampun. Dan itu sangat ia sukai.
🍁
"Astagfirullah, Aisyah. Kamu mengerjakan soal sambil tertidur?" tanya Reisya saat melihat Aisyah menjawab soal-soal ujian dengan mata tertutup.
"Kamu hebat sekali." lanjut Reisya sembari bertepuk tangan.
"Aku berharap lulus dimata kuliah ini Reisya. Aku lelah sekali." ujar Aisyah masih dengan mata tertutup.
"Memangnya apa yang kamu lakukan sampai lelah begitu? kamu kan punya banyak pelayan di rumahmu. Seharusnya bukan kamu yang masak." ujar Reisya khawatir.
"Bukan aku yang masak pagi ini. Aku cuma melakukan hal yang lain yang menguras semua tenagaku. Dan aku berharap Miss. Gazeeta tidak menghubungi Omar kakakku kalau nilaiku kali ini sangat buruk." dengus Aisyah pelan. Reisya tertawa mendengar keluhan sahabatnya itu.
"Itu karena Miss. Gazeeta adalah sahabat kakakmu jadi ia peduli padamu."
"Ah, kurasa juga begitu. Kak Omar suka memuji dosen kita itu." ujar Aisyah kemudian menaruh kepalanya di atas meja dan tertidur.
"Ya ampun Aisyah, bangun! jangan tidur di sini dong, aku tak akan sanggup mengangkat tubuhmu itu." ujar Reisya sembari mengelus pipi sahabatnya itu.
"Biarkan aku tidur sejenak, aku betul-betul lelah Reisya." ujar Aisyah tanpa membuka matanya. Ia benar-benar tertidur sekarang, dengkuran halusnya menandakan ia sudah terlelap nyenyak. Reisya begitu kaget karena Alex tiba-tiba masuk ke ruangan perkuliahan mereka dan mengangkat Aisyah keluar kemudian membawanya pulang. Dalam hati gadis dari Indonesia itu berharap akan ada pria yang mau memperlakukannya dengan manis seperti itu.
---Bersambung--
Like dan komentar dong, supaya aku merasa diapresiasi gitu.