
Aisyah tidak menjawab pertanyaan dari Alex. Ia terus saja sibuk membungkus luka bekas tembakan itu dengan kain yang sudah ia sobek memanjang.
"Nah sekarang kita akan ke rumah sakit, luka ini harus dijahit,"
"Ini bisa infeksi sayang, dan lagipula mana pertanggungjawaban dari Diego temanmu itu, ini sangat tidak profesional." Aisyah terus mengomel dan memarahi Alex seperti anak kecil.
kemudian membawa Danil ke atas strollernya. Meskipun anak itu sudah bisa berjalan tetapi di kondisi seperti ini ia lebih suka membawa anak yang cukup berat itu ke dalam stroller.
"Ayo kita ke rumah sakit, Alex jangan cuma menatapku seperti itu." panggil Aisyah karena suaminya hanya diam saja.
"Aisyah, kamu belum menjawab pertanyaanku." jawab Alex dengan tatapan intens pada wajah sang istri.
"Pertanyaan yang mana?"
"Yang tadi."
"Bagaimana mungkin ayah mau memisahkan kita Alex, jangan berpikir macam-macam okey?" Alex hanya diam kemudian memakai kemejanya kembali. Ia pun mengikuti sang istri keluar dari kamar itu untuk mencari rumah sakit terdekat.
Setelah luka itu dijahit mereka pun berniat berjalan-jalan disekitar kota Meksiko.
"Alex, aku lapar. Selama aku ada disini, aku tidak pernah makan dengan benar. Aku selalu khawatir dengan kehalalan makanan di sini."
"Iya aku juga, aku hanya makan yang jelas buatan dari negara yang mayoritas muslim." jawab Alex sembari mencari petunjuk di handphonenya tempat mayoritas muslim di Meksiko.
Siapa sangka jika cahaya Islam juga bersinar di sejumlah wilayah Meksiko.
Hampir seluruh orang Islam di Meksiko tinggal di daerah perkotaan, seperti Mexico City, Coahuila de Zaragoza, dan Jalisco.
Secara taraf sosial-ekonomi, masyarakat Muslim di negara tersebut hidup cukup makmur.
Mayoritas angkatan kerja mereka berprofesi sebagai pengusaha. Menurut penelitian de Castro dan Vilela, ada belasan masjid yang tersebar di penjuru Meksiko.
Komunitas Muslim di Meksiko terbentuk secara signifikan sejak permulaan abad ke-20. Saat itu, imigran dari negeri-negeri Arab banyak berdatangan ke sana. Berikutnya, mulai abad ke-21 cukup banyak warga setempat yang memeluk Islam.
Meskipun demikian, jumlah umat Islam di sana tak sebanding dengan pemeluk agama-agama lainnya, terutama Kristen. Pemeluk agama Islam masih tergolong minoritas di Meksiko.
Menurut sensus resmi pemerintah Meksiko pada 2010 lalu, jumlah Muslimin di negara tersebut tak kurang dari 2.500 jiwa.
Artikel de Castro dan Vilela, Muslims in Brazil and Mexico: A Comparative Quantitative Analysis (2019) menyajikan data yang lebih banyak, yakni 4.118 jiwa atau kurang dari 0,01 persen total populasi setempat pada 2010.
Bandingkan dengan jumlah pemeluk Kristen di Meksiko yang mencapai sekitar 105 juta jiwa alias 94 persen dari keseluruhan penduduk.
Sekitar 70 persen dari seluruh Muslimin di Meksiko merupakan penduduk lokal, sedangkan sisanya adalah pendatang.
Kebanyakan para imigran Muslim itu berasal dari Lebanon (56 persen), Yordania (8 persen), dan Suriah (4 persen). Keturunan Afrika ada, tetapi jumlahnya tak begitu signifikan.
Bila orang-orang perantauan dari luar disertakan, maka kaum Muslim dari Amerika Serikat (AS) menjadi yang terbanyak.
Sekitar 18,5 persen orang asing yang beragama Islam di Meksiko datang dari Negeri Paman Sam. Selain Amerik Serikat, ada pula Mesir (17,8 persen), Lebanon (13,7 persen), dan Maroko (8,6 persen).
Fakta ini tak begitu mengejutkan. Sebab, antara Amerika Serikat dan Meksiko berbatasan langsung di daratan. Masyarakat kedua negara juga kerap bermigrasi melintasi batas demarkasi nasional.
Masjid yang sering disebut-sebut ialah Masjid Suraya (Mezquita Soraya) di Torreon, Coahuila. Rumah ibadah itu berdiri sejak 1989 dan menjadi masjid pertama yang berdiri secara resmi di Meksiko.
Bagaimanapun, kehidupan sehari-hari untuk mewujudkan suatu halal lifestyle masih jauh panggang dari api.
Sebagai contoh, ketersediaan toko daging halal amat jarang dijumpai di kota-kota di negara Meksiko. Kalaupun ada, harganya cukup mahal. Untuk itu, beberapa komunitas Muslim setempat menyelenggarakan kiat-kiat tersendiri agar dapat memasok daging halal sesuai permintaan.
Spekulasi lain menyebut, kemunculan Islam di Meksiko bermula dari kedatangan Muslim Spanyol yang dipaksa pergi dari wilayahnya usai terjadinya Reconquista, upaya penaklukan kembali Semenanjung Iberia yang sejak abad ke-8 M dikuasai Kekhalifahan Umayyah.
Para sejarawan menandai permulaan Reconquista dengan Pertempuran Covadonga (tahun 718 atau 722), di mana sejumlah kecil pasukan Kristen yang dipimpin bangsawan bernama Pelayo mengalahkan pasukan Kekhalifahan Umayyah di pegunungan Iberia utara dan mendirikan suatu kepangeranan Kristen di Asturias.
Sementara sumber lain mengenai kemunculan Islam di Meksiko yang juga sempat dijadikan rujukan sekunder adalah sebuah novel sejarah berjudul Un hereje y un musulmán, ditulis oleh Pascual Almazán pada abad ke-16, yang salah satu karakter utamanya adalah seorang Muslim.
"Pak, bawa kami ke daerah Coahuila de Zaragoza," titah Alex pada sopir Taksi yang mengantar mereka dari Rumah Sakit menuju ke Hotel.
"Tempat apa itu Dad?" tanya Nikita penasaran.
"Disana tempat mayoritas muslim sayang, aku yakin kita bisa menemukan halal di sana. Dan kita bebas makan dengan nikmat tanpa harus ragu."
"Iya Dad, untungnya Elif temanku membawa banyak bekal dari rumahnya kemarin sehingga kami tak perlu makan bersama yang lain di hotel itu." Alex tersenyum dan mencium pucuk kepala putrinya.
"Bagus sayang, Daddy bangga padamu." Mereka pun menikmati makan di tempat itu dan menyempatkan untuk sholat di masjid yang sangat terkenal di Meksiko.
Esoknya, Aisyah dan Alex akhirnya memutuskan untuk kembali ke Moskow.
Berita terkini yang mereka peroleh dari Kak Omar adalah Ayah Mohammad Yusuf sedang sakit keras.
Sepanjang perjalanan mereka pulang kembali ke Rusia, Aisyah tak banyak bicara, hanya tangis saja yang menemaninya menempuh perjalanan udara sekitar 12 jam itu.
Pertanyaan dari sang suami semalam membuatnya terus berpikir.
Apa mungkin ayah sakit keras karena masalah rumah tangganya dengan Alex?
Oh ayah, begitu banyak kesalahan kami padamu.
"Aisyah, apakah kalau ayah meminta kita berpisah, kamu akan mengikutinya?" tanya Alex dengan suara pelan.
Tiba-tiba pria itu merasakan ketakutan yang sangat kalau istrinya ini akan mengikuti permintaan dari ayahnya yang sedang sakit parah itu.
Aisyah hanya diam saja, ia hanya bisa menangis sepanjang waktu.
"Aisyah, tolong hentikan tangismu itu, kamu membuatku takut sayang, dan juga ingat kandunganmu." ujar Alex sembari menyentuh perut istrinya lembut.
"Alex, aku juga takut, aku tak ingin berpisah denganmu. Tapi ayah, jangan sampai ia menderita karena hubungan kita yang selalu bermasalah." Aisyah menangis dan memeluk suaminya erat.
Mereka saling berpelukan dengan rasa yang begitu menyesakkan dada.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍