Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 80 EMHD



Maksim menunggu Nikita sampai gadis kecil itu pulang selesai belajar. Ia duduk di taman dekat lapangan sambil bekerja. Ada banyak laporan yang harus ia periksa terkait proyek di Moskow yang sudah berhari-hari ini ia tinggalkan.


Rasanya ia lebih betah bekerja di lingkungan sekolah ini daripada harus bersama Alexander Smith di rumah. Pria beristri itu sedang stress sendiri dan terkadang sering emosi tak terkendali karena masalah besar di keluarganya.


Lama ia membaca dan mempelajari laporan-laporan yang dikirim melalui email oleh bawahannya di Moskow. Jaringan internet di lingkungan sekolah ini juga sangat bagus sehingga ia begitu nyaman berlama-lama di sana.


"Uncle!" seru Nikita yang datang ke tempatnya yang sedang duduk sambil berlari-lari kecil. Rambutnya yang pirang dan panjang berayun seiring langkah kakinya yang sangat cepat.


"Niki, kamu sudah mau pulang?" tanya Maksim sembari menutup layar tabletnya.


"Ibu guru ingin menumpang di mobil uncle, boleh kan?" ujar Nikita dengan nafas naik turun karena habis berlari.


"Boleh. Mau menumpang ke mana?" tanya Maksim penasaran.


"Kerumah kakek. Mereka semua ingin menjenguk mommy yang masih sakit dan juga mereka semua rindu pada mommy." jawab Nikita dengan wajah berbinar senang.


"Baiklah, dengan senang hati. Ayok." Maksim menggenggam tangan gadis cilik itu dan membawanya ke tempat parkir. Beberapa guru perempuan berdiri di sana termasuk Maryam.


Deg


Maksim merasa hari ini adalah hari terbaik baginya, bisa bertemu dengan sang pujaan hati. Ia mempersilakan semua penumpang untuk masuk ke dalam mobilnya. Dan terakhir adalah Maryam yang ternyata tidak mendapatkan lagi tempat duduk di jok belakang.


Ia segera membuka pintu depan agar Maryam dan Nikita bisa duduk di sampingnya saat mengemudi. Dengan wajah malu, Maryam menolak karena merasa tak nyaman apalagi semua mata guru perempuan dibagian belakang rasanya ingin melumaatnya habis.


"Kamu pilih duduk nyaman di sini atau kamu yang jadi sopirnya." ujar Maksim pelan yang mungkin hanya ia dan gadis itu yang mendengarnya. Dengan wajah menunduk akhirnya ia mau juga duduk di depan bersampingan dengan Nikita. Maksim bernafas lega karena gadis manis ini mau menuruti kehendaknya.


Sepanjang perjalanan Maksim merasa sedang melalui kebun bunga yang indah. Bibirnya tak berhenti tersenyum.


Hanya sekitar 15 menit perjalanan, mereka pun sampai di rumah kediaman kepala suku Avar Mohammad Yusuf.


Mereka semua dipersilahkan masuk di ruang tamu. Menunggu Mohammad Yusuf sang tuan rumah yang sedang berbincang di sebuah ruang baca di rumah itu.


"Aku manusia pendosa ayah, aku rasa kehilangan orang-orang yang aku cintai belumlah cukup untuk mengganti kesalahanku di masa lalu." ujar Alex dengan kepala menunduk. Ia tak sanggup menatap mata tua sang ayah mertua.


"Benar kata Kak Omar kalau aku adalah mantan bos mafia terbesar di Rusia. Tanganku ini sudah melenyapkan nyawa banyak orang. Belum lagi tubuhku ini yang sangat kotor. Aku pezina ayah." Alex meraup wajahnya kasar. Ia bertekad akan mengungkapkan semua masa lalu buruknya dimasa lalu. Ia tak peduli jika semua orang malah bertambah benci padanya.


Mohammad Yusuf hanya diam. Ia sedang berusaha menahan perasaannya yang merasa sangat kecewa akan apa yang telah didengarkan sendiri oleh telinganya.


"Hampir seluruh usiaku kuhabiskan di dunia hitam. Aku tumbuh dan besar di sana. Hingga kecelakaan yang merenggut nyawa mama Nikita menjadi titik balik kehidupanku."


"Kalau engkau dan putrimu tak mau lagi memaafkanku maka apakah Tuhan masih mau menerimaku?" Mohammad Yusuf memeluk tubuh tinggi dan besar milk Alex. Hatinya tersentuh.


"Jangan berkata seperti itu nak. Meskipun aku sangat kecewa pada perbuatanmu di masa lalu, tetapi aku bukanlah siapa-siapa yang harus berkeras hati tak mau menerimamu. Bertobatlah dengan sebenar-benarnya tobat." ujar Mohammad Yusuf sembari menarik nafasnya berat. Kemudian ia melanjutkan,


"Aku takut Tuhan murka karena kesombonganku jika tak mau menerimamu. Aku percaya bahwa ini semua sudah dalam perencanaan terbaik dariNya."


"Terima kasih banyak ayah, tapi bagaimana dengan putrimu? ia sangat membenciku."


"Bersabarlah. Ia cuma sangat kecewa padamu. Tunjukkan kalau kamu benar-benar ingin berubah. Ia sedang hamil jadi perasaannya sangat sensitif." Mereka berdua akhirnya keluar dari ruangan baca itu setelah dipanggil oleh bibi Sarah yang mengatakan kalau ada banyak tamu di luar sedang menunggu. Maklum, selain ia adalah tuan rumah dan merupakan ayah Aisyah, ia juga adalah ketua Yayasan tempat guru-guru itu mengajar.


"Assalamualaikum paman, bagaimana kabarmu." tanya Sufy Kuhlil, ibu kepala sekolah pengganti almarhum Azzam Genadi.


"Alhamdulillah. Tuhan masih memberiku kesehatan yang sangat baik. Kalian sudah lama?" tanya Mohammad Yusuf kepada para tamunya.


"Belum lama paman." jawab Zareema dengan senyum yang sangat manis. Ia sampai berdiri dari duduknya dan membantu pria tua itu untuk duduk di kursi pribadinya. Tak lupa ia menatap Alex yang ia lihat semakin tampan dari sejak terakhir kali bertemu dulu.


Aisyah yang sudah lama duduk di sana bersama teman-temannya itu menangkap basah tatapan tak biasa dari seorang Zareema kepada suaminya. Perempuan cantik itu langsung berdiri dari duduknya dan memanggil suaminya dengan nada manja.


"Sayang, kamu duduk di beranda saja bersama Maksim." ujar Aisyah sembari menarik tangan Alex menjauh dari Zareema. Alex yang tiba-tiba diperlakukan manis oleh istrinya itu langsung merasa sedang mendapatkan jackpot senilai miliaran Rubel.


Tetapi tatapan mata tajam Aisyah padanya menunjukkan kalau istrinya itu tidak sedang serius memanggilnya sayang, masih ada rasa benci pada pandangan istrinya itu. Ia tersenyum samar kemudian berujar,


"Rasanya tidak sopan jika meninggalkan para tamu yang sudah repot-repot berkunjung ke rumah kita." ujar Alex memberi alasan agar istrinya itu tidak menyuruhnya ke beranda depan. Ia tahu ini hanya akal-akalan Aisyah agar ia segera keluar dari rumah itu.


"Anda betul sekali tuan Alex." timpal Zareema cepat. "Kami rasa suamimu juga ingin duduk bersama kami di sini. betulkan teman-teman?" lanjut gadis itu lagi dengan senyum yang paling menawan yang ia punya. Aisyah merasa wajahnya sudah semakin memanas dan ingin menegur Zareema yang terang-terangan mencari perhatian Alex.


Ia menatap suaminya tajam sekali lagi tetapi Alex justru mengedipkan matanya menggoda. Dengan kesal ia kembali duduk. Ia ingin kembali ke kamarnya tetapi rasanya sangat tidak sopan jika meninggalkan tamu yang khusus datang menjenguknya.


"Mari tuan Alex duduk di sini. Kami ingin menanyakan banyak hal tentang kota besar Moskow." Zareema kembali menguasai arena. Alex tersenyum samar melihat betapa Aisyah sungguh menggemaskan jika sedang kesal seperti itu.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍