Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 210 EMHD



Crisstoffer Anderson menyeringai melihat gadis cerewet itu sudah berada di pesta Promnight malam itu. Yang artinya ia sekarang mempunyai kesempatan yang sangat besar untuk bertemu dengan gadis itu lagi.


Dan setelah mendapatkan benda yang ia titipkan di dalam tas gadis itu, ia akan segera berangkat ke Inggris untuk bertemu kakeknya.


Berhari-hari memantau keadaan rumah besar tempat tinggal gadis itu dari jauh belumlah membuahkan hasil.


Gadis itu sepertinya tak pernah keluar rumah lagi sejak saat mereka bertemu di Swalayan itu. Informasi yang ia peroleh dari seorang mata-mata suruhannya bahwa gadis itu baru keluar saat mengikuti ujian di sekolahnya.


Perlahan ia memperbaiki penampilannya. Pria itu segera melangkah mendekati gadis remaja bergaun hitam sederhana itu tetapi langkahnya terhenti karena seorang pria muda menyalip dirinya dan membawa gadis itu pergi dari jangkauannya. Akhirnya ia hanya mengikuti mereka dengan mengatur jarak.


"Hai Niki, gabung dengan kami yuk di sudut sana," tegur Dimitri Vegas salah satu teman kelas Nikita juga yang sudah lama menaruh perhatian pada gadis itu.


"Baiklah, apa semua teman kelas kita berkumpul di sana?" tanya Nikita sembari mengikuti langkah pria itu ke pojok ruangan.


"Yah ada beberapa, dan ada juga dari kelas lain."


"Duduklah, akan aku ambilkan minum dan cemilan untukmu dan Elif."


"Tidak perlu Dim, kami tidak minum, kamu tahu kan para gadis harus menjaga bentuk tubuh dari makan dan minum agar tetap menarik." tolak Nikita dengan halus.


Gadis cantik itu selalu mendapat pesan dari mommy Aisyah untuk tidak sembarangan makan atau minum di sebuah Pesta.


"Kamu harus berhati-hati sayang," ujar Aisyah setiap Nikita akan keluar rumah, seperti tadi sebelum ia berangkat ke pesta ini.


"Kita punya aturan sendiri dalam hal makan dan minum, dan makanya itu kita harus selalu berhati-hati, apalagi saat berada di tempat yang heterogen seperti yang akan kamu datangi nantinya," lanjut Aisyah lagi memberikan petuahnya.


"Untuk apa sih Mom?" tanya Nikita dengan wajah mengkerut berpikir.


"Untuk berhati-hati sayang, karena agama kita mengajarkan hal itu." jawab Aisyah sembari menata rambut Nikita yang sudah siap untuk berangkat.


"Ah ya aku mengerti, dan itu pasti untuk kebaikan kita kan?"


"Iya betul sekali, anak pintar." Nikita hanya tersenyum dengan petuah mommynya.


"Dan sebaiknya bawalah cemilan sendiri di tas kecil kamu itu, seperti Elif."


"Iya mom,"


"Niki!" panggil Dimitri karena Nikita sepertinya sedang menghayal. Gadis itu tersentak kemudian tersenyum.


"Niki kamu tidak asyik, masak ikut pesta tapi tidak makan dan minum?" gerutu Dimitri sedikit kecewa karena semua tawarannya pada gadis cantik itu selalu ditolak dengan halus oleh Nikita.


"Maafkan kami ya, kami hanya ingin bergabung bersama kalian tapi tak ada acara makan dan minum, hehehe." Nikita menjawab sembari tersebut cengengesan supaya teman-temannya tidak tersinggung.


Para pria yang sedang duduk di sana hanya bisa tersenyum kecut dan mengangkat gelas-gelas mereka.


"Padahal ini tidak mengandung alkohol lho," timpal Jackson sembari memutar-mutar gelas yang ada ditangannya. Pria itu tahu kalau Nikita dan Elif menghindari dengan yang namanya minuman beralkohol. Karena kata mereka, minuman itu tidak boleh dikonsumsi baik itu remaja maupun dewasa.


"Iya Nik, ayolah minumlah dulu sebelum acara dimulai." ajak teman-teman yang lain.


"Hey, aku dan Elif ini baru sampai dan kami belum haus, kenapa sih kalian memaksa kami untuk minum, ih sebel," Nikita berpura-pura kesal supaya teman-temannya tidak ada lagi yang memaksanya.


"Yah itu betul sekali, kami sudah makan sebelum datang ke acara ini." timpal Elif menambahkan.


Crisstoffer Anderson yang sudah cukup bersabar menunggu dari jarak yang tidak cukup jauh dari mereka semua akhirnya ikut bergabung dengan para muda-mudi itu.


"Permisi," sapanya pada para undangan promnight itu. Semua perhatian mereka langsung tertuju padanya.


Pria dewasa dengan penampilan yang sangat keren dan rapih. Dengan memakai setelan jas mewah dan juga sebuah tuksedo yang semakin menambah ketampanannya. Ia tampak seperti pria dewasa berkelas.


"Permisi, apa aku bisa bicara dengan anda nona?" sapanya pada Nikita yang sedang menatapnya dengan ekspresi kaget. Elif yang ada disampingnya pun ikut kaget karena masih mengingat sosok pria asing itu.


"Saya?" Tanya Nikita sembari menunjuk hidungnya.


"Iya, nona masih mengingat saya?" tanya pria asing itu dengan sangat sopan hingga membuat Elif dan Nikita saling berpandangan.


Pria sombong ini begitu sopan tidak seperti waktu mereka bertemu saat itu. Mencurigakan! ujar Nikita membatin.


"Ah ya, aku dan Elif masih mengingat anda, tuan." jawab Nikita sembari mengerutkan alisnya.


"Bisa kita bicara di tempat itu?" tanya Crisstoffer sembari menunjuk sebuah tempat sepi di dalam ruangan yang sudah mulai ramai itu.


"Anda siapa?" tanya Dimitri yang tiba-tiba merasa orang ini sedang ingin mencari perhatian pada gadis incarannya.


"Aku tidak pernah melihat anda di lingkungan sekolah kami, apakah anda datang membawa putra atau putri anda?" tanya Dimitri berusaha menunjukkan kalau pria asing itu sudah sangat dewasa untuk mereka yang baru lulus SMA. Crisstoffer Anderson tersenyum tipis lalu menjawab.


"Saya hanya datang sendiri, dan ingin bertemu khusus dengan gadis cantik ini, apa kamu keberatan?" alis Crisstoffer terangkat sebelah.


Dimitri merasakan pesona pria dewasa ini cukup membahayakan dirinya. Ia bisa merasakan aura yang sangat menarik dari pria ini dan ia takut kalau Nikita yang belum sempat ia dapatkan malah akan beralih hati kepada orang ini.


"Saya adalah teman dekat Nikita, jadi kalau ingin bicara sebaiknya disini saja bersama kami semua disini." ujarnya memberi alasan.


"Maafkan saya, tapi nona cantik ini tetap harus bicara secara pribadi dengan saya sekarang, permisi," ujar Crisstoffer Anderson karena sudah tidak mau berbasa-basi lagi dan menghabiskan waktunya yang sangat berharga.


Tangannya dengan sopan mempersilahkan Nikita untuk mengikutinya.


"Mari nona," ujar Crisstoffer.


"Ayok Elif," Nikita menarik tangan Elif untuk menemaninya. Sedangkan Dimitri dan kawan-kawannya hanya bisa memandang kepergian mereka bertiga dengan segala pikiran yang berkelebat dalam kepala mereka.


"Hati-hati Dim, sepertinya pria dewasa itu sedang ingin mengambil hati Nikita," bisik Jackson berusaha memanas-manasi Dimitri Vegas yang sudah sangat kesal karena selalu diabaikan oleh Nikita Smith.


"Ah pria dewasa, usia mereka terlalu terpaut jauh. Ia lebih pantas jadi ayahnya saja dan aku yakin Nikita tidak akan tertarik padanya meskipun ia nampak kaya dan berkelas." ujarnya menghibur dirinya sendiri.


Jackson hanya menepuk bahu temannya itu sambil melanjutkan minumnya.


Sementara itu Nikita dan Elif menunggu apa yang akan dibicarakan oleh pria asing itu pada mereka.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍