
"Anna!" teriak Maryam dan Aisyah bersamaan. Mereka berdua histeris dan takut melihat tubuh Anna yang digendong oleh Omar tak bereaksi. Omar meletakkan tubuh Anna di jok depan kemudian memasang sabuk pengaman pada tubuh yang tak sadarkan diri itu.
"Kak Omar aku takut." ujar Aisyah saat melihat tubuh Anna pucat dan lemas karena darah terus mengalir dari dalam jaketnya. Darah itu sampai menetes mengotori jok mobil Omar sang kakak.
"Pasang seat belt kalian!" perintah Omar dengan nada tegas. Ia akan menembus jalanan di depannya ini dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai di rumah sakit.
Aisyah dan Maryam patuh. Mereka berdua hanya bisa menangis akan keadaan Anna yang sangat memprihatinkan. Gadis yang baru saja memeluk Islam dan bersaksi bahwa Allah adalah Tuhannya dan juga Muhammad adalah utusan dari sang khalik.
Aisyah menutup wajahnya menyesali dirinya yang mengajak Anna keluar rumah.
"Mungkin aku yang seharusnya jadi target mereka." ujarnya pelan sambil menangis.
"Aisyah, jangan menyalahkan dirimu seperti itu." ujar Maryam sembari mengelus lembut tangan perempuan hamil itu.
"Anna pasti akan baik-baik saja. Kita doakan saja semoga ia segera sehat kembali.
Ciiitt
Omar menghentikan mobilnya dan segera membawa turun tubuh Anna.
"Kalian berdua tunggu saja di ruanganku, kamu tahu kan Aisyah?" ujar Omar dengan nada tak sabar. Aisyah mengangguk dan segera melangkah ke ruangan kerja sang kakak bersama Maryam.
"Anna, kumohon bertahanlah!" teriak Omar sambil menggendong tubuh lemas itu langsung ke dalam ruang operasi. Ia mengajukan dirinya sendiri yang akan membedah Anna di ruangan itu. Para perawat yang sudah mengenal baik dirinya sebagai pimpinan Rumah Sakit ini langsung membantu mempersiapkan alat-alat yang ia butuhkan. Mereka langsung dengan cekatan membantunya menggunting dan membuka paksa pakaian yang dikenakan oleh gadis cantik berambut pendek itu.
"Ya Allah," bisik Omar pelan saat melihat bahu kanan Anna belum berhenti mengeluarkan cairan merah dari dalam tubuhnya. Hingga wajah cantik itu semakin memucat saja karena sudah hampir kehabisan darah.
"Periksa ketersediaan darah di bank darah!" teriak Omar pada perawat yang membantunya.
"Kami akan ambil sampel darahnya dulu dokter." ujar salah seorang perawat yang kemudian melakukan tugasnya segera. Semua nampak panik karena pimpinan Rumah Sakit turun tangan langsung menghadapi pasien gawat yang sudah lama tidak ia lakukan.
Setelah perawat itu pergi ke bank darah Rumah Sakit, ia sendiri langsung membedah dan mengeluarkan sebutir timah berukuran 55mm dari dada Anna. Tepatnya sekitar sekitar 10 cm dari area buah dada gadis yang sudah sering menganggu hati dan pikirannya akhir-akhir ini.
"Alhamdulillah, pelurunya tidak mengenai daerah vitalmu gadis aneh." ujar Omar dengan mata berbinar senang. Ia segera menutup luka yang cukup dalam itu dengan jahitan terbaik kemudian menutupnya dengan perban.
"Aku tahu kamu gadis kuat dan tak mau pergi sebelum berpamitan denganku kan?" ujar Omar lagi dengan senyum di wajahnya. Ia yakin pasien spesial ini akan segera sembuh. Perawat lain yang sedang membantu dokter Omar hanya bisa menahan senyumnya. Ia yakin sang dokter pasti sedang punya perasaan khusus pada pasien perempuan tersebut.
"Persediaan darah untuk golongan darah nona Peminov habis dokter." lapor seorang perawat dengan nafas terengah-engah karena cukup lelah mencari darah yang dimaksud dokter Omar.
"Aku yang akan mendonorkan darahku. Siapkan segala sesuatunya cepat!" titah Omar yang langsung segera ditindaklanjuti oleh para perawat itu. Omar yang mempunyai golongan darah O. Golongan darah ini disebut juga sebagai donor universal sehingga menjadi darah yang paling berharga di dunia dan biasanya diberikan saat golongan darah penerima tidak diketahui. Selain itu, golongan darah O- dengan CVM negatif lebih istimewa lagi karena darahnya aman untuk diberikan pada bayi.
Dokter muda itu berbaring di atas brangkar di samping ranjang Anna yang masih tak sadarkan diri setelah di tambahkan anestesi ke dalam tubuhnya. Ia terus menatap wajah damai Anna yang masih menutup mata setelah tindakan yang ia lakukan pada gadis itu.
"Aku sudah memberimu darahku Anna, dan aku anggap itu adalah sebuah utang." gumam Omar di dalam hatinya. Bibirnya sedikit tertarik kesamping membentuk sebuah senyum samar.
Sementara itu Albert masih setia menunggu pasien yang ia tidak kenal tadi di ruang UGD. Luka pasien itu telah dijahit setelah syal yang dililitkan Anna dibagian dada pria itu terlepas. Rupanya Anna telah merawat pria itu dengan baik. Hingga darahnya sedikit terhenti dengan cara Anna menolong pria korban salah tembak itu.
"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu karena sudah jadi korban pengganti." ujar Albert dengan wajah datarnya.
"Apa maksudmu tuan?" tanya Patrick dengan wajah bingung tak mengerti.
"Ah, lupakan. Sekarang apa kamu mau dirawat di sini atau pulang?" tanya Albert menatap sang pasien.
"Aku masih ingin di sini saja. Aku tak mau ibuku menanyakan apa yang terjadi dengan lukaku ini."
"Baiklah, terserah kamu mau tinggal berapa lama di sini, aku yang akan menanggung biaya perawatanmu." ujar Albert kemudian pergi meninggalkan pasien yang bernama Patrick itu.
"Terima kasih tuan, boleh aku tahu siapa namamu?"
"Panggil aku Albert." jawab Albert Kemudian benar-benar berlalu dari ruangan itu. Patrick hanya bisa menarik nafas,
"Mimpi apa aku semalam." ujarnya sambil meraba perban di dadanya.
"Aku harap gadis baik itu selamat dan panjang umur. Ia rela menolongku padahal ia juga terluka parah." lanjutnya lagi bermonolog. Hingga seorang perawat perempuan masuk ke ruangannya dan membawakan makanan dan minuman.
"Tuan Albert memintaku melayani anda, tuan Patrick." ujar perawat itu dengan senyum di wajahnya.
"Ah, iya. Tuan Albert yang baik hati." ujar Patrick balas tersenyum.
"Apa anda bisa makan sendiri?" tanya perawat cantik itu dengan ramah. Matanya memperhatikan luka di bagian dada pasien yang masih terbungkus perban itu.
"Aku rasa aku belum bisa menggerakkan tanganku yang ini. Kamu tahu kan ini masih sakit."
"Baiklah, aku akan mencoba menyuapi anda bubur ini. Karena anda harus makan terlebih dahulu sebelum minum obat." ujar sang perawat yang sudah diberi tips yang banyak oleh Albert agar bisa merawat korban penembakan ini sampai sembuh dan kembali pulang ke rumahnya tanpa banyak tanya dari orang tuanya.
"Terima kasih suster, anda baik sekali." ujar Patrick tersenyum. Ia lalu mengunyah bubur yang disuapkan oleh sang perawat cantik.
"Tidak masalah tuan Patrick. Aku hanya melakukan tugas dari tuan Albert yang tampan itu." jawab perawat itu tersenyum.
Dan juga ia memberiku uang yang sangat banyak. Lanjut sang perawat membatin.
Sementara itu Di ruangan kerja Kepala Rumah Sakit itu. Aisyah dan Maryam saling berpandangan karena handphone mereka bersamaan berbunyi dari para suami mereka yang sedang jauh dari sana.
"Apa kita harus menceritakan apa yang terjadi di sini, Aisyah?" tanya Maryam khawatir. Aisyah tidak menjawab ia hanya menatap para readers, meminta komentarnya, apa yang harus ia lakukan setelah ini.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey???
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍