Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 222 EMHD



"Perbanyak-banyaklah mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al Albani)


Aisyah menyusut air matanya mengingat ayahnya pernah menyampaikan hadis nabi tersebut padanya ketika mereka sedang duduk-duduk bercengkrama di dalam rumahnya di Dagestan.


Waktu itu Aisyah hanya bisa memeluk sang ayah karena merasa sangat tersentuh dengan nasehat tersebut.


"Apabila maut telah mencengkeramkan kuku-kukunya, maka tidak dapat dielakkan dengan tumbal, bahkan engkau jumpai tumbal itu tidak berguna sama sekali." lanjut Mohamad Yusuf kemudian menatap putrinya.


"Jikalau ayah telah tiada, ingatlah kebaikan ayahmu ini dengan selalu beribadah kepada Tuhan, buat ayahmu ini merasa bangga memiliki seorang putri yang Solehah, jadi istri dan ibu yang baik dalam keluargamu nak."


"Iya ayah, tapi jangan pernah berkata kalau ayah akan pergi. Ayah akan panjang umur."


"Tidak ada yang abadi, Aisyah. Ingat itu nak, makanya tinggalkan amal kebaikan yang banyak supaya namamu abadi di hati semua makhluk."


kesedihan rasanya tak pernah mau meninggalkan hatinya sedikitpun, kenangan-kenangan akan semua kebaikan sang ayah bagaikan kaset yang terus berputar di kepala Aisyah. Ingin rasanya ia segera sampai di Dagestan dan memberikan pelukan terakhir untuk ayah tercinta.


Omar tak melakukan apapun sepanjang perjalanan itu. Pria itu hanya bisa memandang kumpulan awan putih dari luar jendela kecil pesawat jet itu dengan perasaan gamang. Sekali-kali tangannya bergerak menghapus air mata yang selalu ingin menyeruak keluar untuk membuktikan begitu sedihnya ia sekarang ini.


Anna tak bisa berbuat banyak, ia ingin menghibur tapi dirinya pun tak luput dari rasa sedih ini, begitupun semua orang yang pernah dekat dengan almarhum.


Sepanjang perjalanan ke Dagestan ini semua penumpang pesawat jet itu tak ada yang melakukan hal yang berarti. Mereka hanya bisa menampakan wajah sedih dan juga khawatir.


Aisyah belum juga berhenti menangisi kepergian sang ayah yang tidak sempat ia lihat disaat-saat terakhirnya.


Ia terus menyalahkan dirinya sendiri karena lebih memilih berlibur ke negara lain daripada ke Dagestan untuk bertemu dengan sang ayah.


"Aku menyesal Alex, karena tidak berada di sana bersama-sama dengan ayah, hiks. Harusnya kita tidak perlu ke Kazakhtan."


"Sudahlah sayang, jangan menyalahkan dirimu seperti itu, bukankah kematian akan datang sebagai rahasia bagi kita makhluk ciptaan Tuhan, tak pernah kita tahu kapan datangnya." ujar Alex sembari memeluk tubuh istrinya.


"Tapi aku tetap merasa menyesal Alex, terakhir kali ayah menelpon kalau ia rindu pada cucu-cucunya dan meminta kita untuk membawa mereka kepadanya, tapi apa? kita malah membawa anak-anak untuk berlibur, hiks." Aisyah terus menangis sampai suaranya pun sudah mulai serak.


"Bahkan Nikita pun tiba-tiba menghilang di negara itu. Oh ya Allah, itu semua teguran dari Tuhan Alex." Pria itu tercekat dan langsung mengingat tentang musibah yang menimpa putrinya itu.


Tarikan nafas berat kembali ia lakukan. Ia tidak tahu harus berkata apa. Alex hanya berharap seluruh keluarga dan dirinya sendiri bisa menerima cobaan ini dengan sabar.


🍁


Setelah memberi kabar kepada kedua orangtuanya, Elif akhirnya ikut serta ke Dagestan untuk memberi penghormatan terakhir pada kakek sahabatnya itu.


Gadis itu seakan-akan ingin menggantikan posisi Nikita sebagai cucu pertama dari Mohammad Yusuf.


Elif merasa sangat bersalah karena tidak memperhatikan sahabatnya karena sibuk berbalas pesan dengan Roman Subkhan, pria asal Kazakhstan itu.


"Onty, maafkan aku. Aku tidak menjaga Nikita dengan baik," ujarnya dengan tangis tak henti. Reisya meraih gadis itu ke dalam pelukannya dan memberikan penghiburan.


"Bukan salahmu sayang, kami juga turut bertanggung jawab karena tidak memperhatikan Nikita," ujar Reisya sembari menyusut airmatanya.


Bukan cuma Elif yang merasa bersalah akan kejadian ini tetapi mereka semua merasakan hal yang sama.


Semua orang sangat bersedih dengan kejadian buruk yang menimpa keluarga mereka.


Nikita yang tiba-tiba hilang di Bandara sedangkan Mohammad Yusuf juga telah berpulang kepada sang khalik.


Dilema kembali menyerang hati Alex saat ini. Ia tak mungkin meninggalkan acara pemakaman ayah mertuanya saat itu juga ketika mendengar kabar dari Nurzhan Subkhan.


Dari informasi itu, Nurzhan Subkhan mengatakan kalau Nikita telah dibawa pergi oleh seseorang dari bukti rekaman CCTV yang terdapat di Bandara itu.


Dari rekaman video itu seorang pria tinggi yang tidak begitu jelas karena memakai penutup kepala dan juga mantel panjang adalah pelaku penculikan Nikita.


Beruntunglah karena putranya yaitu Roman Subkhan adalah pejabat pemerintahan di negara itu sehingga informasi dari otoritas Bandara pun bisa mereka dapatkan dengan cepat.


Alex meraup wajahnya kasar. Nampak sekali kalau ia sangat menahan emosinya saat ini. Hatinya serasa diremas-remas antara sakit dan marah setelah melihat rekaman video itu. Tetapi sekali lagi ia tak bisa berbuat banyak untuk saat ini.


"Daddy, kenapa kak Niki tidak ada. Bukankah ia cucu kesayangan kakek Yusuf?" tanya Danil pada Daddynya saat mereka semua mengantar jenazah sang kepala Suku Avar itu ke pemakaman.


Pria itu tidak menjawab. Ia kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan semua orang yang menyapanya. Belum lagi pertanyaan anak-anaknya yang terus menanyakan keberadaan kakaknya.


"Aisyah sayangku, maafkan aku karena harus meninggalkanmu di sini. Aku, Max, dan juga Albert harus kembali ke Kezhaktan hari ini juga," ujar Alex tak enak hati. Ia tak sanggup menatap wajah istrinya yang masih sembab itu karena terlalu banyak menangis.


"Tak apa Alex, aku sangat mengerti sayang, pasti Nikita juga akan sangat bersedih saat ini andai ia tahu kalau kakeknya sudah tidak bisa lagi ia temui di dunia ini, hiks." ujar Aisyah dan kembali menangis.


"Aku berjanji akan membawa Nikita ke sini untuk mengunjungi makam ayah." Alex memeluk istrinya untuk memberi kekuatan dan penghiburan untuk Aisyah dan dirinya sendiri.


"Baiklah, kamu jaga dirimu ya, jangan terlalu banyak menangis," lanjut Alex kemudian meraih bibir Istrinya. Ia menciumnya lama untuk menenangkan emosinya sendiri saat ini.


"Kami pergi," Alex pun berangkat ke Kazakhtan untuk mencari informasi lebih lengkap tentang pelaku penculikan itu.


Aisyah, Reisya, dan juga Maryam sekali lagi menyusut airmata mereka melihat kepergian suami mereka untuk mencari Nikita ke Kazakhtan. Mereka tidak tahu kalau sekarang ini gadis itu baru saja sampai di Birmingham Inggris.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍