Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 254 EMHD



Albert memasuki kamar pribadinya dimana Reisya, sang istri sudah lama menunggunya dengan wajah khawatir.


Berpisah puluhan jam dengan sang suami dengan kabar yang tidak menyenangkan membuatnya seperti orang gila.


Ia hanya bisa menangis saat tahu suaminya tidak memberi kabar pada 2 Smith yang lainnya pada hari naas itu.


Anak-anaknya pun diserahkan kepada Maryam yang juga bertugas menjaga sikembar ElRasyid dan juga Elmira.


"Al, apa yang terjadi sayang?" tanya Reisya ketika melihat wajah suaminya tampak membiru keunguan dengan ujung bibi pecah.


"Apa kamu bertarung dengan orang lagi di luar sana? " lanjutnya lagi sembari memeriksa luka-luka itu dengan jari-jarinya.


"Aaaaw, jangan menekankannya seperti itu, rasanya masih perih dan sakit," ujar Albert dengan wajah mengernyit.


"Duduklah, aku akan ambilkan salep untukmu." Albert pun mengikuti perintah istrinya. Ia duduk di sebuah sofa di dalam kamarnya dan menunggu Reisya mengambil salep dari dalam kotak P3K.


"Apa ini sakit, Al?" tanya Reisya sembari mengolesi luka itu kemudian meniupnya jika suaminya mengernyit kesakitan.


"Iya Sya, itu Sakit sekali," jawab Albert dengan suara manja. Sengaja ia seperti itu supaya isterinya peduli dan tidak memarahinya.


"Anak-anak kita sudah mulai besar sayang, berhentilah bermain-main dengan bahaya seperti itu," ujar Reisya setelah semua luka itu ia beri salep.


"Iya sayangku, Kami juga sudah lama ingin menghindari kejadian seperti ini tetapi masa lalu kami Reisya sepertinya belum juga membiarkan kami hidup lebih aman dan damai." jawab Albert sembari menatap wajah istrinya yang nampak sangat mengkhawatirkannya.


"Hemm, semoga ini yang terakhir kamu terlibat dengan orang-orang berbahaya itu," ujar Reisya dengan sepenuh hati.


Perempuan itu pernah mendengar kalau keluarga Smith adalah mantan mafia yang sangat berbahaya di kota itu. Tetapi ia pikir hal itu adalah masa lalu. Dan kejadian ini membuktikan sekali lagi kalau masa lalu itu masih terus membayangi kehidupan keluarga besar mereka.


"Apakah ini ada hubungannya dengan kecelakaan kak Omar?" tanya Reisya dengan segala dugaan-dugaan di dalam kepalanya.


"Hem, ya," jawab Albert yang sedang menutup matanya sembari bersandar di sandaran sofa itu. Reisya hanya bisa menarik nafas beratnya.


"Al, kamu berbaringlah di tempat tidur. Itu akan membuatmu nyaman, sayang," saran Reisya karena suaminya sepertinya sudah sangat lelah dan mengantuk.


"Baiklah, tapi temani aku ya, aku ingin memelukmu," ujar Albert setuju kemudian melangkah ke arah tempat tidurnya sembari membawa Reisya ke dalam rengkuhannya.


"Kamu tahu Sya, sewaktu mereka menyekap dan menyiksaku? hanya kamu dan anak-anak yang aku pikirkan. Aku takut mati dan meninggalkanmu merawat anak-anak kita seorang diri," ujar Albert dengan tangan memeluk erat tubuh perempuan yang sangat dicintainya itu.


"Hem, tidurlah Al, dan kumohon hindari untuk terlibat dengan masalah seperti ini lagi, karena aku takut." Reisya balik memeluk suaminya. Ia benar-benar merasa sangat takut kehilangan pria yang sudah memberinya 2 orang anak ini.


"Iya sayangku, aku yakin semua musuh-musuh klan Smith sudah habis," ujar Albert kemudian mengecup lembut bibir Istrinya.


"Aku mencintaimu Sya,"


"Aku juga Al, sangat." Mereka berdua saling bertatapan kemudian tersenyum. Albert pun tertidur dengan menahan rasa pegal dan nyeri di sekujur tubuhnya.


Sementara itu di kamar pribadi Maksim.


Maryam memandang wajah suaminya dengan tatapan intens. Perempuan cantik itu ingin mendengar kisah kecelakaan yang menimpa Omar hingga sampai saat ini si kembar masih berada di rumah itu.


"Terimakasih sayang, kamu mau menjaga anak-anak Anna dan Kak Omar," ujar Maksim sembari meraih pinggang istrinya ke dalam pelukannya.


"Itu karena Albert juga sedang dalam masalah sayang dan kami pikir kamu dan Reisya sebaiknya berada di rumah saja menjaga anak-anak, sampai kami berhasil menyelamatkannya."


"Dan bagaimana dengan Nikita, kenapa hanya dia yang kamu bawa ke rumah sakit? apa kak Omar ingin menyampaikan sesuatu padanya?"


"Oh tidak sayangku, aku menjemput Nikita karena Crisstoffer Anderson juga ikut menjadi korban saat kecelakaan itu terjadi. Pria itu sedang bersama dengan kak Omar."


"Crisstoffer Anderson? sepupu Nikita?" .


"Iya," jawab Maksim singkat lalu meraih bibir Istrinya yang sejak tadi menggodanya.


"Masalah sudah selesai Maryam, sekarang kamu harus menyelesaikan masalahku sayang," bisik Maksim setelah ia melepaskan tautan bibirnya.


"Eh, ini belum selesai, Max. Aku belum mengerti permasalahan yang terjadi pada mereka berdua."


"Nanti aku ceritakan sayang, yang penting kamu harus membantuku, mengerti?" Maryam hanya bisa mengangguk pasrah. Memaksa pun keingintahuannya tetap tidak bisa terjawab jika suaminya sedang menginginkannya.


Perempuan cantik itu akhirnya menikmati sentuhan-sentuhan lembut dari suaminya yang begitu memabukkan.


Maksim mulai mengajak sang istri untuk mendayung indah untuk melepaskan kepenatan di dalam pikirannya. Pria itu tersenyum lembut pada Maryam yang sedang menikmati apa yang ia lakukan. Ia sangat bersyukur karena memiliki pelabuhan hati yang selalu sabar menantinya pulang ke rumah. Apa jadinya ia jika Maryam yang sangat lembut dan baik hati ini tidak bersamanya.


"Maryam sayangku, kamu selalu saja membuatku jatuh cinta lagi dan lagi," bisiknya lembut dalam setiap hentakan-hentakannya di dalam tubuh sang istri.


"Maxx, Aaaaaakh...kamu hebat," balas Maryam sembari mencengkeram lengan suaminya merasakan kenikmatan yang luar biasa yang diberikan suaminya.


Mereka berdua tak berhenti saling memuji sampai pelepasan itu datang dan mereka tumbang dengan senyum puas di wajah lelah mereka. Masalah-masalah berat yang menghampiri dan membayangi keluarga mereka serasa ikut melebur bersama dengan peluh yang membanjiri tubuh mereka berdua.


Sementara itu di Rumah Sakit, Nikita yang meninggalkan kamar perawatan Crisstoffer Anderson, kini memilih memasuki kamar perawatan Omar.


"Niki, gimana kabarnya Criss?" tanya Anna ketika gadis itu memasuki kamar perawatan Omar.


"Sudah sehat onty, uncle Omar gimana? sudah bisa digerakkan kakinya?" Anna menatap gadis cantik yang tiba-tiba nampak tidak bersemangat itu.


"Alhamdulillah, aku sudah lebih baik sayang. Aku ingin sekali melihat Criss," jawab Omar dengan senyum diwajahnya. Sedangkan Nikita hanya tersenyum masam. Hati gadis itu sepertinya tidak nyaman melihat perempuan yang bernama Julia Webber itu.


"Apa ada yang kamu perlukan hingga kamu ada di sini, Niki? bukankah ini waktunya Criss makan buburnya sayang?" tanya Anna sembari menyuapkan bubur pada suaminya. Perempuan itu ingin Nikita juga melakukan hal yang sama pada Crisstoffer seperti yang ia lakukan sekarang ini pada Omar.


"Aku rasa tidak perlu onty, karena sudah ada teman perempuannya di sana. Sekarang aku ingin pulang saja. Aku baru ingat kalau aku ada kelas."


Omar dan Anna saling bertatapan.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?


Bisa minta Votenya gak, plisβ˜ΊοΈπŸ™πŸ˜…


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍