Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 187 EMHD



Mohammad Yusuf dengan berat hati melepas kepergian Aisyah dan keluarga kecilnya.


Pria tua dan bersahaja itu mengalami kondisi kesehatan yang semakin baik karena keberadaan mereka semua.


Ia sudah sangat nyaman dan bahagia karena putri penenang hatinya bersama cucu-cucunya selama beberapa hari ini sudah sangat menghiburnya.


Tetapi apa boleh buat mereka harus berpisah lagi karena banyak hal. Nikita harus kembali bersekolah sedangkan Alex sang menantu harus mengurus banyak hal di Moskow.


"Ayah, ikutlah dengan kami ke Moskow. Aku akan bersamamu terus di sana dan juga kamu bisa bermain dengan Danil dan Nikita sepanjang waktu yang kamu inginkan." ujar Aisyah sembari menyusut air matanya sedih.


Sungguh ia sudah tak rela meninggalkan orang tua itu dan berada jauh darinya. Ia takut kalau sewaktu-waktu serangan jantung tiba-tiba muncul dan ia tak ada di samping ayahnya.


Mohammad Yusuf hanya terdiam. Ia juga sangat ingin mengikuti keluarga putrinya tetapi suasana rumah dan desa ini juga sangat tak ingin ia tinggalkan.


Terkadang pria tua itu merasa jadi begitu rakus dan egois jika menginginkan Aisyah tinggal bersamanya saja di sini.


"Ayah ayolah, istri Kak Omar, Anna juga akan segera melahirkan jadi Ayah sekalian menunggu kelahiran cucu ayah, bagaimana?" Perempuan yang sedang hamil itu terus membujuk ayahnya.


Ia sangat tak mau berpisah lagi dengan sang ayah tetapi ia juga harus mengikuti suaminya atau Alex yang berubah manja itu akan membatalkan semua janji kerja dengan klien hanya karena dirinya.


Sarah muncul di ambang pintu dan ikut berpendapat.


"Kak Yusuf, pikirkan baik-baik. Aku hanya mengikuti kemana saja keputusanmu." ujar Sarah sembari tersenyum.


Perempuan tua itu juga ingin ikut ke Moskow bertemu dengan Anna Peminov.


Tapi semua tetap akan ia serahkan kepada kepala Rumah Tangga di dalam keluarga itu.


"Apa kamu tahu berapa lama estimasi Anna akan melahirkan?" tanya sang ayah pada Aisyah.


"Sekitar dua atau tiga hari ini ayah," jawab Aisyah dengan wajah nampak berpikir serius.


"Baiklah aku akan ikut kalian ke Moskow." jawab Mohammad Yusuf akhirnya.


Pria itu menarik nafas panjang berusaha berfikir positif bahwa keputusannya ini benar dan membawa kebaikan untuk dirinya dan anak-anaknya.


"Yeay kakek dan nenek akan ikut kita ke Moskow. Rumah jadi ramai lagi." seru Nikita dengan wajah gembira.


Baby Danil juga ikut berjingkrak dan berlarian karena ikut senang melihat ekspresi kakaknya. Orang dewasa itu ikut tertawa melihat kelucuan anak-anak ini.


Setelah itu mereka mulai mempersiapkan beberapa hal untuk dibawa ke Moskow. Termasuk bumbu dapur bagi bibi Sarah.


Sarah selalu rewel dengan masakan pelayan-pelayan di rumah Alex setiap ia sampai di sana. Lidahnya tidak cocok dengan hasil racikan tangan mereka.


Ia lebih suka kalau ia sendiri yang memasak untuk keluarga Alex dengan bumbu-bumbu pilihnya sendiri.


Sementara itu di Moskow tepatnya di Rumah Omar.


Anna masih sangat bermalas-malasan di tempat tidurnya padahal hari sudah semakin terang.


Omar yang ingin berangkat ke rumah sakit merasa sedikit heran akan tingkah istrinya itu.


"Anna, ada apa? biasanya setiap pagi kamu berjalan keliling halaman sayang," tanya Omar sembari mengecup lembut bibir sang istri.


"Omar, temani aku ya, jangan kemana-mana," jawab Anna merajuk.


Entah kenapa diakhir-akhir masa kehamilannya ini ia ingin sekali bersama terus dengan suaminya padahal Omar sungguh sibuk dengan banyak pekerjaan dan seminar.


"Tapi hari ini aku ada meeting sayangku, bersabar sedikit saja ya, setelah ini aku akan menemanimu sampai beberapa hari ke depan. Aku akan mengambil cuti, okey?" ujar Omar sembari memasang dasinya dan memeriksa tampilan dirinya di cermin.


Anna tersenyum kecut, ia benar-benar merindukan suaminya sekarang ini. Sudah lama sekali Omar tidak menyentuhnya dengan mesra. Ia jadi sering berpikir macam-macam.


Padahal ibunya sering menghibur bahwa itu hanya karena kesibukannya saja.


"Tidak bisakah kamu izin sebentar saja Omar?" tanya Anna memohon.


"Tidak sayang, meeting ini menyangkut masa depan Rumah Sakit. Ada banyak proyek di sini, Anna," jelas Omar kemudian kembali mengecup bibir Istrinya.


"Aku pergi ya, aku tidak mau terlambat. Dan kamu harus sarapan. Semuanya sudah kusiapkan di atas meja."


"Iya hati-hati," ujar Anna kemudian bangun dari posisinya. Dengan pelan ia melangkah mengikuti langkah suaminya ke depan pintu untuk melepas kepergian dokter tampan yang sangat ia cintai itu.


Setelah mobil Omar sudah tidak nampak dan pelayan sudah menutup pintu pagar. Anna kembali masuk ke kamarnya.


Ia menatap dirinya di cermin besar di dalam kamar itu.


"Apakah Omar sudah tidak berselera padaku?" tanyanya pada dirinya sendiri. Ia memutar tubuhnya yang sekarang sangat berisi karena kehamilan.


Anna menyentuh pipinya yang semakin membengkak karena nafsu makannya yang memang sangat tinggi di trimester ketiga ini.


Tangannya meraba perutnya yang juga semakin besar bahkan sangat besar karena ternyata di dalamnya ada bayi kembar.


"Bukankah kata orang tubuh perempuan hamil itu sangat seksih di mata suaminya? tetapi kenapa Omar bahkan tidak menyentuhku sama sekali. Padahal aku sangat merindukannya." tangannya bergerak menyentuh kembali pipinya karena tanpa sadar cairan bening itu meluncur bebas ke bawah.


"Omar, kembalilah anakmu ingin sekali kamu mengunjunginya," ujar Anna lagi dengan sangat sedih.


Entah ini hanya karena pengaruh hormon kehamilan hingga ia begitu sensitif dan benar-benar sangat merindukan suaminya.


Untungnya ibunya setiap jam 10 pagi pasti akan selalu datang berkunjung untuk menemaninya di rumah itu.


Rumah yang hanya dihuni oleh mereka berdua. Omar dan Hanna.


Para pelayan hanya akan datang saat akan membersihkan sedangkan urusan memasak Omar lebih percaya tangannya sendiri.


Ketika dokter itu pulang dari Rumah Sakit, ia selalu menyempatkan dirinya untuk memasak semua makanan yang diinginkan Anna dan menyimpannya di lemari pendingin. Anna akan memanaskannya kalau ia mau.


"Omar," rintih Anna lagi dengan suara sedih. Setelah ia puas menangis sendiri ia pun menuju dapur untuk sarapan.


"Omar selalu memanjakan lidahku dengan makanan-makanan ini hingga tubuhku sudah seperti gentong." ujarnya kemudian mengunyah dengan rakus.


"Tapi apakah ia sengaja memberiku banyak makanan supaya aku tampak tidak menarik lagi dimatanya? dan ia bebas bertemu dengan si pelakor Elena itu," tiba-tiba saja pikiran buruk muncul didalam kepalanya.


Bayangan Elena menggoda suaminya membuatnya mendidih.


"Omar, berani kamu memberi hati pada Elena maka aku pastikan kamu tidak akan kubukakan pintu rumah ini. Meskipun ini adalah rumahmu!"


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, Okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍