Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 125 EMHD



Pagi itu Maryam masih bermanja-manja dibawah pelukan sang suami. Maksim tidak membiarkan istrinya itu kemana-mana. Begitupun dirinya sendiri, yang ia sediakan waktunya yang banyak untuk sang istri tercinta.


Tubuh Maryam yang sudah beberapa bulan ini merasakan ngidam parah hanya suka kalau dalam pelukan suaminya saja.


Tetapi untuk melakukan aktivitas lain, ia tak pernah berselera. Di satu pihak Maksim sangat menyukai itu, tetapi saat melihat tubuh sang istri semakin kurus dan pucat, ia jadi merasa sangat bersalah.


"Max, Aisyah pernah makan makanan dari Indonesia yang katanya sangat enak, aku juga mau." ujar Maryam pagi itu setelah melalui mual muntah seperti biasa.


"Apa Aisyah pernah bercerita dimana ia mendapatkan makanan itu sayang?" tanya Maksim dengan penuh perhatian. Tubuh istrinya yang sangat lemas itu membuatnya merasa bersalah karena sudah menyiksa istrinya dengan keinginannya mempunyai anak.


"Kalau tidak salah, dia pernah makan di kantor KBRI. Aku mau kesana Max." rengek Maryam dengan ekspresi yang sangat lucu bagi suaminya.


"Pakailah pakaianmu, kita akan kesana sekarang," ujar Maksim kemudian mengecup lembut bibir istrinya yang tampak sangat cantik itu meskipun dengan wajah pucat dan kurus.


Mereka berdua keluar dari Kamar dan bertemu dengan Aisyah yang sedang menggendong baby boynya yang tampan.


"Halo Danil yang tampan, mau nitip apa sama onty?" sapa Maryam sembari mencium pipi gembul Danil yang sudah berusia sudah hampir 2 bulan itu.


"Kalian mau kemana?" tanya Aisyah penasaran.


"Aku mau makan makanan Indonesia, air liurku terus menetes Aisyah." jawab Maryam sembari menutup matanya membayangkan makanan nanti yang akan ia makan pasti sangat enak. Selama merasakan ngidam. Ia tidak pernah makan dengan enak. Makanan Rusia yang selama ini akrab dengan lidahnya kini begitu hambar dan pahit.


"Cari makan dimana?" tanya Aisyah penasaran.


"Kamu pernah bilang makanan itu ada di kantor KBRI kan?" tanya Maryam meyakinkan informasi yang pernah ia terima.


"Ah iya, itu betul. Aku nitip bakso ya, dengan saus pedisnya. Hmmm pasti enak sekali." ujar Aisyah ikut ngiler dengan makanan itu.


"Kamu tidak bisa makan yang pedis, sayang." tegur Alex pada istrinya.


"Kamu menyusui Danil, ia akan sakit perut kalau air susumu ikut pedis." lanjut Alex sembari mengambil alih Danil dari gendongan istrinya. Wajah Aisyah langsung cemberut kecewa.


"Yang sabar ya, setidaknya tunggu sampai selesai 6 bulan." Alex menyentuh kepala istrinya dengan lembut.


"Onty aku ikut!" seru Nikita yang ternyata mendengar kalau Maryam akan jalan-jalan keluar mencari makanan.


"Aku juga mau makanan Indonesia. Aku pernah belajar di sana. Jadi aku tahu semua menunya." ujar Nikita bersemangat. Ia sampai melompat ke gendongan Maksim.


"Baiklah sayang, kamu ikut bersama kami." ujar Maksim sembari mencium pipi kiri dan kanan gadis kecil itu.


"Mereka semua mau kemana?" tanya Albert yang mendengar kehebohan mereka bertiga di ruangan yang luas itu.


"Maryam ngidam makanan Indonesia." jawab Aisyah dengan senyum diwajahnya. Ia jadi teringat waktu hamil dulu. Ia hanya lemas dan sakit gara-gara perbuatan Alex padanya, sampai lupa makanan apa yang ia inginkan.


"Bagaimana kalau kita segera ke Indonesia untuk melamar Reisya untuk Albert?" tanya Alex sembari memandang Aisyah dan Albert bergantian.


"Ah itu ide yang bagus Bos. Aku suka." jawab Albert tersenyum lebar. Ini yang sangat ia harapkan. Ia tak ingin memaksakan kehendaknya karena situasinya juga sangat riskan untuk membawa baby Danil yang baru lahir. Sedangkan ia tidak percaya diri ke negara orang tanpa membawa semua keluarganya ikut serta. Ia takut dideportasi sendirian, hihihii. Dasar Albert.


"Apa kamu sudah memberi kabar pada Reisya?" tanya Aisyah setelah lama terdiam. Ia sedang dalam dilema. Omar juga Ingin segera menikahi Anna dalam waktu dekat ini. Kakaknya juga sudah melamar Anna pada orang tua gadis itu.


"Belum. Aku sedang menunggu keputusan kalian." jawab Albert sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Bagaimana kalau kita selesaikan pernikahan Kak Omar dan Anna terlebih dahulu, baru kita lanjutkan ke Indonesia, kamu masih sabar menunggu kan Al?" tanya Aisyah dengan perasaan tak nyaman. Ia tak mau dibilang tidak adil pada dua orang yang sangat dekat dengannya itu. Albert terdiam.


"Al?" panggil Alex yang masih diam saja. Ia tahu Albert mungkin akan sedikit kecewa. Karena ini sudah lama juga ia rencanakan.


"Baiklah. Aku akan menunggu. Insyaallah Reisya masih akan sabar menungguku," ujar Albert. Kemudian ia melanjutkan dalam hati,


Aku yang mungkin tidak akan sabar, hm.


Alex menepuk bahu adik angkatnya dengan senyum diwajahnya.


"Semoga pernikahanmu nanti lancar dan mudah, Al. Niatkan karena Allah."


"Iya Bos."


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


Yuks yuks, mampir dulu di karya teman othor nih, dijamin oke punya, gaess!