Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 188 EMHD



Reisya memeluk Maryam dan menangis dengan keras. Perempuan yang merupakan istri dari Maksim itu merasa bingung dengan apa yang terjadi.


"Ada apa Reisya, kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya Maryam sembari memandang wajah sembab perempuan yang sedang hamil muda itu.


"Albert sudah beberapa hari ini tak pernah pulang, hiks, aku sangat sedih." jawab Reisya sembari menyusut airmatanya.


"Ya Allah, kenapa bisa seperti itu? apa dia ada pekerjaan di luar kota atau lagi sibuk melakukan sesuatu?" tanya Maryam dengan wajah khawatir.


"Aku tidak tahu, ia tidak pernah mengatakannya padaku." jawab Reisya sembari menggelengkan kepalanya keras-keras.


"Kamu tenang ya biar Maksim yang mencari keberadaan suamimu."


🍁


Omar membuka pintu rumahnya yang begitu sangat gelap. Perlahan ia meraba sakral listrik di balik pintu dan akhirnya menampilkan keadaan rumah yang begitu terang dan sepi.


Dokter itu menarik nafas panjang. Sungguh ia sangat lelah hari ini.


Meeting yang sangat alot dan akhirnya menemukan kesepakatan setelah berjam-jam lamanya membuatnya pulang terlambat lagi ke rumah ini.


"Anna pasti sudah tertidur karena terlalu lama menungguku," ujarnya sembari terus melangkah ke dalam.


Ia melangkah ke ruang kerjanya dan menyimpan semua perlengkapan kerja seperti beberapa dokumen dan juga laptopnya.


Kembali ia melirik jam tangannya dengan tarikan nafas pelan. Setelah meeting tadi ia mengajukan surat cuti untuk menemani Anna Peminov sang istri yang sebentar lagi akan melahirkan.


Ia sudah berjanji akan menyiapkan waktunya sehari semalam untuk sang istri tercinta yang akan memberinya bayi kembar.


Hampir sebulan ini ia sibuk dan selalu pulang larut hingga karena kelelahan dan harus berangkat lagi besok paginya, ia hanya sempat memeluk dan mencium istrinya singkat.


Ia bahkan lupa kalau ia tak pernah lagi mengunjungi sang istri secara spesial. Otaknya benar-benar dikuasi oleh pekerjaan yang begitu banyak dan menyita hari-harinya.


Hingga saat Anna memintanya tadi pagi untuk tinggal bersamanya pagi itu. Ia baru sadar kalau sudah membuat istrinya sangat kesepian dan tak pernah memberinya nafkah batin.


Sepanjang Meeting ia terus memikirkan Istrinya dan bahkan membayangkan akan melakukan hal-hal yang menyenangkan setelah pulang nanti.


"Anna, aku merindukanmu sayang," ujarnya lagi dengan senyum diwajahnya. Ada sesuatu yang berkedut dari inti dirinya ketika membayangkan istrinya yang sangat cantik itu mendessah nikmat dibawah kungkungannya.


Dengan langkah cepat ia menuju kamarnya dan membuka pintunya pelan. Hanya kegelapan yang ia temukan.


"Anna..." panggil Omar dalam kegelapan itu. Ia melangkah ke dalam dengan menghidupkan lampu pada handphonenya untuk membantunya melihat dalam gelap.


Tiba-tiba perasaannya jadi khawatir. Anna tidak pernah tidur dalam gelap seperti ini.


Klik


Lampu menyala dan menampakkan keseluruhan ruang kamar yang sangat luas dan kosong.


"Anna!" teriak Omar dengan suara keras.


Matanya memandang ke sekeliling ruangan itu untuk mencari keberadaan istrinya yang sedang mengandung buah cinta mereka.


"Anna! jangan bercanda sayang!" teriaknya lagi sembari membuka kamar mandi dan juga walk in closet untuk mencari keberadaan istrinya.


Karena tak menemukan apa-apa, ia pun lari keluar dari kamar itu dan memeriksa semua sudut ruangan di rumah itu.


Dapur, ruang tamu, ruang keluarga, dan juga halaman depan dan samping, semua ia periksa.


"Anna! kamu marah padaku dan meninggalkan aku sendiri?!" teriak Omar sembari bersujud di tengah halaman rumahnya sembari menangis.


Perlahan ia meraih handphonenya untuk menelpon seseorang tapi keburu handphone itu berbunyi dengan nyaring menandakan ada telepon yang masuk.


"Aisyah, ada apa? apakah ayah baik-baik saja?" tanyanya balik setelah tahu yang menelpon adalah adik perempuannya yang ia tahu sedang berada di Dagestan bersama sang ayah.


"Ayah dan bibi Sarah ada di rumah di Moskow sekarang. Kami baru saja tiba, kalau bisa besok bawa Anna ke sini ya kak, semua orang rindu padanya." jawab Aisyah panjang lebar.


"Ah iya, sampaikan salamku pada ayah dan bibi. Insyaallah besok aku akan kesana bersama Anna." jawab Omar kemudian mematikan sambungan telepon itu sepihak.


Ia tak mau berlama-lama bercerita dengan sang adik karena perasaannya sekarang ini sedang sangat kacau. Dan juga ia tak mau menceritakan kalau Anna sedang tidak ada di rumah atau ayahnya akan kambuh penyakit jantungnya.


"Anna, apa mungkin kamu menginap di rumah ibumu?" tanya Omar sembari menatap layar handphonenya yang berisikan gambar Anna dan dirinya sebagai wallpaper di benda pipih itu.


Dengan cepat ia menghubungi nomor handphone Anna tetapi tidak tersambung yang terdengar hanya suara operator yang mengatakan kalau nomor yang sedang dituju berada diluar jangkauan.


"Aku akan menghubungi ibunya Anna," tetapi sekali lagi nomor itu juga berada diluar jangkauan yang artinya sedang tidak dapat dihubungi.


Ia pun berdiri dari posisinya dan mengambil mobilnya.


"Anna, kuharap kamu ada di rumah ibu sayangku, jangan membuatku takut," gumamnya terus menerus.


Segala doa ia rapalkan untuk menenangkan hatinya yang dipenuhi kekhawatiran yang teramat sangat.


Anna tak pernah keluar rumah kecuali bersamanya atau ibunya yang datang berkunjung dan membawanya ke suatu tempat.


Ciiiiiit


Omar menghentikan mobilnya di depan blok apartemen milik orang tua Anna.


Dengan langkah cepat ia menaiki tangga darurat karena sepertinya lift sedang rusak.


Ting tong


Omar memencet bel pintu apartemen itu dengan tak sabar. Dan berusaha tersenyum saat pintu apartemen itu terbuka dan menampilkan wajah ayah mertuanya.


Pria paruh baya itu nampak sangat kusut karena mungkin baru saja terganggu tidurnya karena kedatangannya.


"Ayah, apakah Anna ada di dalam?" tanya Omar dengan suara pelan dan diliputi oleh kekhawatiran yang teramat sangat.


"Anna? istrimu belum pernah kemari selama sepekan ini." jawab Juan Peminov yang langsung membuat lutut Omar gemetar hebat.


Segala prasangka dan dugaan terburuk berseliweran dalam benaknya.


"Oh tidak! Anna kamu tak boleh pergi dariku sayang, ini sudah sangat larut dan kamu sedang hamil." ujarnya pelan bagaikan gumaman.


"Omar? apa kamu mengatakan sesuatu, nak?" tanya Juan Peminov dengan ekspresi bingung.


"Oh tidak ayah, lanjutkan saja tidurmu,"


"Ah ya, aku juga baru saja menutup mata, tapi ada apa kamu mencari istrimu malam-malam begini?" rupanya Juan masih setengah sadar dengan apa yang terjadi. Akhirnya Omar pun berucap,


"Kalau begitu aku permisi ayah, salam sama ibu," Omar bergegas lari keluar dari apartemen mertuanya dan menuju mobilnya. Ia harus mencari istrinya malam ini juga.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya ya ya ya....


Like dan komentarnya dong supaya aku semangat updatenya, okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍