Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 198 EMHD



Mohammad Yusuf dan Sarah kembali ke Dagestan hari ini diantar oleh pesawat jet pribadi milik klan Smith.


Selama 40 hari mereka berdua menghabiskan waktunya yang berharga bersama keluarga anak dan cucu-cucunya.


"Bolehkah aku dan kakak memohon agar ayah tinggal lebih lama lagi di sini?" tanya Aisyah sembari memeluk ayahnya dengan perasaan sedih.


Rasanya waktu kurang lebih 2 bulan itu belumlah cukup bagi mereka berkumpul.


Mohammad Yusuf hanya bisa tersenyum dan mencium pucuk kepala putrinya dengan sayang.


"Banyak warga Rakhata yang mencari ayah nak, Apalagi sebentar lagi akan masuk bulan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW."


"Ada banyak hal yang biasa mereka lakukan bersama dengan ayah untuk merayakannya, dan ayah harus ada disana, Aisyah." jawab Mohammad Yusuf dengan suara tenang.


Sungguh ia dan Sarah sangat menyukai kalau mereka bisa selalu berkumpul seperti ini tapi keinginannya untuk bertemu dengan para keluarga dan tetangga di kampung halamannya juga tak bisa mereka tahan lagi.


"Ayah, sebentar lagi aku juga akan melahirkan, datanglah lagi saat bayiku ini lahir,"


"Insyallah, kami akan datang lagi saat itu tiba nak, doakan agar kami berdua sehat."


"Iya ayah, jaga kesehatanmu bersama dengan bibi Sarah." Mohammad Yusuf tersenyum dan mengaminkan perkataan putrinya itu.


"Sekarang kami harus berangkat. Jaga cucu-cucuku juga,"


"Iya ayah, mereka akan selalu mendoakanmu dan juga bibi." Aisyah melepaskan pelukannya pada sang ayah. Yang kemudian digantikan oleh kakaknya Omar.


Pria itu mencium tangan dan memeluk tubuh pria tua yang merupakan ayah kandungnya itu.


"Kami akan sangat merindukanmu ayah, jaga kesehatanmu dengan rutin meminum obat herbalmu," pesan Omar dengan memperbaiki letak pakaian ayahnya.


"Iya, aku juga akan merindukan kalian, kalau Elmira dan ElRasyid sudah bisa bepergian, bawalah ke Dagestan,"


"Insyaallah ayah, kami akan segera mengunjungimu."


"Baiklah kami pamit ya," ujar Sarah sembari memeluk tubuh Omar dan juga Aisyah bergantian.


Mereka pun diantar ke Bandara Sheremetyevo Alexander S Pushin oleh Alex dan juga Albert.


Mereka berdua kebetulan juga akan menjemput Suriya dan juga Abdul Rachman yang akan datang siang itu dari Indonesia untuk menjenguk Reisya.


Ada yang datang dan adapula yang pergi. Begitulah hukum alam di dunia ini.


Setelah kepergian Mohammad Yusuf dan juga Sarah. Omar juga siap memboyong istri dan baby twinsnya pulang ke rumahnya sendiri.


"Kak, tidak bisakah kalian menetap di sini saja? Rumah ini sangatlah luas untuk kita semua tinggal di sini." Aisyah merajuk sembari menciumi pipi gembul 2 bayi kembar itu dengan sayang.


"Heh, kami juga mempunyai rumah sendiri." jawab Omar dengan wajah santai.


"Ish, kalau kamu pergi bekerja, kamu akan meninggalkan Anna lagi sendiri kak," ujar Aisyah berusaha mempengaruhi kakaknya. Anna hanya tersenyum tak berani menyela. Ia akan ikuti keputusan suaminya saja kemanapun ia dibawa.


"Kita harus belajar mandiri Aisyah, aku kepala keluarga dan juga mempunyai rumah sendiri. Kami akan berkunjung ke rumah ini setiap akhir pekan." jawab Omar dengan tegas. Akhirnya Aisyah pasrah saja. Ia tahu sifat kakaknya itu.


Setelah kepergian keluarga kecil itu, tinggallah Aisyah dan Maryam serta Reisya di sana memandang rumah besar itu yang mulai tampak sepi.


"Rasanya tidak enak ya, kalau semua orang pergi dan kembali ke rumahnya masing-masing." Ujar Aisyah kemudian menaruh bokongnya diatas sofa empuk di dalam ruangan yang luas itu.


Perut Aisyah yang semakin besar membuatnya sedikit kewalahan dan tak bebas bergerak. Reisya pun memiliki kondisi yang sama. Dengan usia kehamilan yang tidak terlalu jauh berbeda.


"Ayah dan ibuku akan datang hari ini dan akan membuat rumah kembali ramai," ujar Reisya dengan wajah berbinar senang. Kerinduannya pada kedua orangtuanya akan segera terbayarkan.


"Semoga ibumu membawa makanan yang banyak dari Indonesia, hehehe," timpal Maryam dengan senyum diwajahnya.


Beby Emran ia letakkan di lantai agar bisa merangkak sendiri mendekati baby Danil yang sedang sibuk bermain mobil balap dan juga senjata-senjataan.


Usia anak itu sekarang sudah memasuki tujuh bulan. Sedangkan Baby Danil 14 bulan.


"Tentu saja Maryam, aku sudah memesan banyak makanan khas dari sana termasuk kue-kue yang pernah kalian cicipi sewaktu aku menikah."


"Wah, Alhamdulillah aku suka itu. Apalagi itu yang namanya kue cucur dan juga serikaya. Enak sekali," ujar Maryam dengan menelan air liurnya.


"Kalau aku lebih suka kue bolu gulung isi selai nenas atau strawberry. Hemm yummy,"


"Tenang saja ibuku paling jago membuat berbagai macam kue dan makanan lainnya, kita akan berpesta bersama, yeey," Mereka bertiga tertawa bersama karena membayangkan hal-hal yang menggembirakan.


"Tapi sayangnya Anna sudah pulang, ia juga suka sekali makanan khas negaramu Reisya," ujar Aisyah dengan wajah tampak sedih.


"Eh, Anna kan tidak tinggal di belahan bumi yang lain, jadi tidak perlu khawatir. Kita bisa mengunjunginya di rumahnya sekalian menengok baby Elmira dan ElRasyid, bagaimana? Setuju tidak?"


"Itu ide yang sangat bagus," ujar Maryam dan Aisyah dengan kompak.


🍁


Omar membuka pintu rumahnya dengan mengucapkan salam terlebih dahulu. Kemudian ia membaca doa masuk rumah dengan wajah khusuk.


Selama kurang lebih 40 hari meninggalkan rumah dan sekarang membawa 2 bayi mungil membuatnya ingin rumahnya steril dari bakteri dan juga aura negatif.


Satu hari sebelumnya ia sudah datang kemari dan meminta pelayannya untuk membersihkan keseluruhan rumah ini agar ketika Anna dan bayinya datang bisa langsung menempati kamar-kamar mereka dengan nyaman.


"Selamat datang Anna dan kedua malaikatku," ujar Omar sembari membuka pintu kamarnya. Anna yang sedang mendorong stroller kembar untuk dua baby twinsnya.


Anna tercekat tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebuah kamar yang sudah disulap sangat cantik berada di hadapannya. Dua motif yang berbeda menandakan dua jenis kelamin yang berbeda penghuni kamar itu.


"Ini indah sekali Omar, terimakasih banyak." ujar Anna dengan mata berbinar bahagia.


"Ya ampun Anna, kenapa kamu berterimakasih sayang, ini sudah kewajibanku." ujar Omar sembari mengambil alih stroller itu dari pegangan istrinya.


"Kamu tinggal menikmatinya sayang bersama dengan Elmira dan ElRasyid." ujar Omar sembari menaruh baby twins itu kedalam box baby mereka yang terpisah.


Anna hanya tersenyum melihat suaminya begitu telaten mengurus kedua bayi itu.


Dalam hati ia tak henti bersyukur karena mendapatkan suami yang begitu menyayanginya.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍