
Aisyah keluar dari kamar mandi sudah tampak segar dan cantik. Rambutnya yang sebatas bahu itu ia gosok dengan sebuah handuk kecil berwarna putih. Pakaian gantinya ia lupa bawa ke dalam hingga ia keluar hanya menggunakan bathrobe saja.
Tidak sadar kalau ada seseorang yang memperlihatkannya sejak tadi, ia berjalan santai menuju kopernya dan mulai mencari pakaian apa yang cocok ia gunakan saat ini sambil bersenandung kecil. Rupanya ia mulai menyadari kalau ia sedang berada di dalam kamar hotel mewah yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Tempat tidur mewah dan Indah menarik perhatiannya. Padahal ia tadi sudah menikmati empuk dan lembutnya tempat tidur itu. Di rumahnya di desa Rakhata ia hanya bisa tidur di ranjang sederhana tetapi sudah terkesan mewah untuk ukuran di desanya.
Matanya mengawasi keseluruhan isi ruangan yang sangat luas itu sambil membawa pakaian ganti yang ia sampirkan di lengan kanannya sedangkan tangan kirinya masih menggosok rambutnya yang basah. Dan ketika matanya bersirobok dengan mata elang suaminya, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya. Selama beberapa detik mereka berdua bertatapan tanpa ada yang berusaha memutus tatapan itu yang rupanya telah mengantarkan aliran listrik berkekuatan tinggi bagi keduanya.
"Mommy, kamu sudah sehat?" tanya Nikita yang ternyata sudah berada di kamar itu sejak ia masuk ke kamar mandi tadi. Aisyah segera memutus tatapan penuh makna dari suaminya itu. Wajahnya ia rasakan menghangat. Dengan tersenyum canggung ia berlari masuk kembali ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Sedangkan Alex tanpa sadar tersenyum samar.
"Daddy, mommy kenapa?" tanya Nikita yang merasa diabaikan oleh Aisyah.
"Hum, ia lagi mau ganti baju." jawab Alex singkat. Ia dengan sabar menunggu perempuan muda itu keluar dari kamar mandi. Matanya terus mengawasi sosok cantik yang akan muncul dari pintu itu hingga Nikita memukul lengannya.
"Daddy aku mau makan. Aku sangat lapar, dari tadi uncle Max hanya mengajakku jalan-jalan dan tidak memberiku makan." gerutu Nikita melaporkan kegiatannya pada daddy-nya untuk menarik perhatian pria itu yang sepertinya sedang tidak berada di dunia ini sejak melihat Aisyah keluar dari kamar mandi tadi.
"Daddy!" panggil Nikita lagi dengan suara kerasnya. Gadis kecil itu kesal karena kedua orang yang ada di kamar itu mengabaikannya.
"Ah, iya. Kamu mau makan yang mana sayang?" tanya Alex sembari menunjuk macam-macam menu yang sudah ditata oleh layanan kamar itu.
"Yang ini dad sama yang itu." tunjuk Nikita ke hampir semua makanan di situ.
"Ada lagi?" tanya Alex dengan wajah tak sabar.
"Sudah cukup dad." jawab Nikita kemudian membaca doa dan lanjut memakan roti isi daging favoritnya.
"Lama sekali." gumam Alex tak sadar.
"Siapa yang lama dad?" tanya Nikita penasaran.
"Mommy." jawab Alex singkat. Ia sampai tak sadar kalau Aisyah sudah duduk di depannya bersiap makan. Ia juga sudah sangat lapar.
"Kenapa tuan?" tanya Aisyah karena sepertinya mereka berdua sedang membicarakannya.
"Ah tidak." timpal Alex cepat. "Makanlah cepat baru kita jalan-jalan di kota ini." lanjutnya lagi. Aisyah menurut, ia langsung makan bersama Nikita sedangkan Alex hanya diam memperhatikan keduanya.
"Anda tidak ikut makan?" tanya Aisyah setelah makanan di depannya telah habis.
"Tidak, aku sudah kenyang." jawab Alex sekenanya padahal perutnya sendiri berteriak sedari tadi meminta untuk diisi. Matanya yang ia rasakan kenyang karena telah melihat dua perempuan yang dekat dengannya itu makan dengan lahap sambil bersenda gurau.
🍁
Setelah Aisyah dan Nikita sudah siap mereka akhirnya keluar dari kamar menuju Red Square, sebuah tempat yang katanya belumlah mengunjungi Rusia kalau belum berkunjung ke tempat itu, yaitu sebuah lapangan terbesar di negara itu.
Dua perempuan itu berjalan dengan ceria menyusuri trotoar dan kondisi kota besar Moskow. Aisyah yang memilih berjalan kaki karena pemandangan akan lebih terasa nampak daripada dilakukan di dalam mobil.
Alex dan kedua orang kepercayaannya hanya mengekor di belakang bertindak sebagai body guard bagi kedua perempat beda usia itu. Di musim panas seperti ini orang-orang keluar dengan menggunakan pakaian kasual santai karena udara begitu panas.
Alex mengernyit bingung dengan pertanyaan Maksim. Ia tahu kalau Aisyah memang berbeda karena perempuan itu memakai pakaian tertutup dan juga hijab jadi tentu saja kelihatan berbeda.
"Apa maksudmu?"
"Pakaian yang ia pakai itu dari sebuah desa yang jauh dari sini. Sederhana dan tak bermerek untuk ukuran istri seorang God father sepertimu." jawab Maksim dengan jelas. Ia bermaksud memancing rasa peduli seorang Alexander Smith kepada perempuan.
"Okey, setelah ini kita ke GUM." timpal Alex dan langsung disambut senyum oleh Maksim dan Albert. Mereka berdua akan tetap menjadi pemandu pria berhati dingin ini.
Gum merupakan kompleks perbelanjaan terbesar di Moskow yang berada di Red Square 3. GUM adalah singkatan dari State Department Store dalam bahasa Rusia. Bangunan ini memiliki arsitektur yang unik dan indah. Di dalam bangunan tiga lantai ini terdapat lebih dari 200 toko. Walaupun berisi toko-toko dengan merek mewah, di lantai 3 terdapat tempat makan yang harganya masih terjangkau. Jam buka: 10.00-22.00.
"Pakai yang ini." ujar Alex saat Aisyah sibuk memilih-milih pakaian yang kelihatan cantik dan tentu saja sangat mahal itu. Mereka sekarang sedang berada di dalam toko yang berisi barang-barang branded seperti Hermes, Gucci, dan lain-lain. Meskipun perempuan muda itu tidak mengerti merk dan barang branded tetapi ia cukup tahu membedakan mana barang yang berkualitas tinggi.
"Ini pasti mahal tuan. Aku beli pakaian di Pasar saja ya." ujar Aisyah sedikit malu sembari tangannya mendorong beberapa gaun yang telah dipilihkan Alex untuknya. Alex seketika bermuka masam karena niat baiknya ditolak oleh istrinya di depan para pelayan di Toko itu.
"Ambil atau kamu tidak akan bisa lagi berpakaian dengan baik." geram Alex dengan makna ambigu bagi Aisyah.
"Mommy, ambil saja, kamu tidak lihat kalau Daddy marah?" bisik Nikita di kuping mommynya setelah meminta perempuan itu berjongkok agar tinggi mereka sejajar.
"Hum, baiklah." jawab Aisyah mantap dan menunjukkan pilihnya di depan Alex yang sedang menatapnya.
"Aku ambil yang ini, tuan. Terima kasih banyak." ujar Aisyah tersenyum.
"Pilih tas, sepatu dan yang lainnya yang kamu butuhkan." titah Alex sembari meninggalkan Aisyah dan Nikita di tempat itu. Aisyah masih terbengong melihat tingkah Alex yang begitu perhatian padanya.
---Bersambung---
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak.
Sambil menunggu apa lagi kegiatan mereka di Moskow, yuks mampir di karya teman othor nih dijamin bagus.
Dimas Darmawan, seorang dokter muda yang terpaksa menikahi mantan istri sahabatnya yang bernama Winda Alicia.
mantan suami Winda, Bayu merencanakan pernikahan Dimas dan Winda agar Bayu bisa rujuk kembali dengan Winda setelah jatuh talak 3.
Hanya 6 bulan pernikahan, dan mereka harus bercerai.
Apa yang membuat Bayu begitu gigih berusaha rujuk dengan Winda?
Dapatkah Dimas menjaga istri titipan talak 3 sahabatnya?
Ataukah cinta akan tumbuh diantara mereka dan menjadi dilema bagi Dimas?