Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 60 EMHD



POV Alexander Smith


Aku memandang Maksim dan Albert yang muncul di ruang makan dengan wajah tak terbaca, mereka memandang sosok cantik berhijab yang sibuk menata makanan di atas meja makan yang tak lain adalah Aisyah istriku dengan mata membulat tak percaya. Aku melempari mereka berdua dengan sebuah boneka squshy yang kebetulan ada di tanganku. Aku tak suka mereka memandang istriku seperti itu.


Pletak


"Awwww," teriak Albert keras karena boneka itu pas mengenai kepalanya. Ia memandangku dengan mata bertanya.


"Jaga mata kalian!" seru ku dengan pandangan tajam sembari menunjuk mataku dengan kedua jariku. Mereka berdua langsung menghampiriku ingin meminta penjelasan. Aku tahu mereka penasaran dan kaget melihat Aisyah ada di sini tanpa mereka ketahui. Tetapi belum sempat aku bicara Albert langsung berujar, "Aku yang pertama melihat Aisyah di kantor KBRI." Albert tersenyum bangga dan aku kembali melemparinya dengan boneka lain milik Nikita.


"Apa salahku, boss?" tanyanya dengan wajah tak berdosa.


"Tentu saja kamu salah karena tidak memberitahuku terlebih dahulu." jawabku kesal. Sekali lagi aku ingin melemparinya dengan benda lain yang ada di dekatku tetapi tiba-tiba Aisyah memanggil kami semua untuk makan malam.


"Daddy, aku ingin makan di dekat mommy." ujar Nikita ketika seorang pelayan menarikkan kursi untukku yang biasa aku duduki dan pas di samping sang nyonya rumah, Aisyah. Gadis kecil itu mulai ingin membuat pengaturan lagi yang akan membuatku kesal jika itu menyangkut penguasaan pada istriku itu. Untunglah Maksim selalu bisa diandalkan dan sangat mengerti diriku, ia segera mengajak bicara Nikita.


"Nikita sayang, posisi duduk yang bagus di meja makan itu ya seperti ini. Daddy sama mommy duduk berdekatan, trus Nikita nanti berdekatan dengan adik Nikita." ujar Maksim tersenyum. Kemudian ia melanjutkan, " Aku dan uncle Albert duduk di sini." jelas Maksim dengan sangat bagus. Aku tersenyum padanya.


"Adik?" tanya Nikita dengan wajah berkerut, bisa aku lihat ia pasti sedang bingung sekarang.


"Apa aku punya adik uncle?" aku tersenyum samar dengan pertanyaan Nikita itu, dan kuharap Maksim mempunyai jawabannya. Tetapi ternyata tidak, Maksim menatapku meminta bantuan jawaban. Dan akhirnya akulah yang menjawab setelah Nikita terus meminta jawaban padahal Maksim tak mempunyai jawabannya.


"Iya, mommymu membawa adik sekarang. Jadi ia harus tidur bersama Daddy supaya daddy bisa menjaganya dengan baik."


Puft


Kulihat Maksim dan Albert menahan tawanya yang menjengkelkan. Aisyah juga ikut tersenyum dengan jawabanku yang asal.


"Ayo makan!" seruku dengan gaya dingin. Aku jadi keki sendiri karena semua orang di situ menatapku dengan pandangan horor.


Nikita tak lagi mau bertanya, aku tahu otaknya yang cerdas itu sedang memikirkan kata-kataku tetapi karena aku menyuruh semua untuk diam dan memulai makan, ia jadi menurut. Aku tersenyum dan kuharap malam ini jadi malam istimewaku dengan Aisyah.


Akhirnya makan malam itu berlangsung dengan hikmat, tak ada yang mengeluarkan suara. Semua menikmati makanannya dengan tenang.


Bagiku ini adalah makan malam istimewa setelah sekian lama aku merasa hidupku hampa tanpa Aisyah. Rumah ini kembali hidup dengan kehadiran seorang perempuan cantik yang diciptakan Tuhan untukku sebagai penyejuk pandanganku dan pelengkap serta pengobat sepi hatiku selama ini.


Aku kadang mendapati Aisyah sedang melirikku dan akhirnya berakhir dengan kami saling tatap mengantarkan banyak cinta dan rindu.


Makan malam itu berakhir dengan tenang. Sebagai rasa syukur kami karena kedatangan Aisyah kembali ke tengah-tengah kami. Aku mengajak semua orang untuk sholat berjamaah isya dan aku adalah imamnya.


Maksim dan Albert kembali ke kamarnya masing-masing. Sedangkan Nikita kulihat sudah menguap berkali-kali. Aku mengajaknya untuk tidur tetapi ia tak mau kalau bukan Aisyah yang menemaninya.


"Daddy, aku mau tidur sama mommy, plis." Nikita menatapku memohon. Aku tahu ia sudah sedikit terpengaruh dengan cerita Maksim tadi, tapi entah kenapa ia belum mengalah.


"Aku juga bisa menjaga adik yang ada di dalam perut mommy, dad." ujar putriku itu lagi membujuk. Aku akhirnya mengalah. Aku tahu rindunya pada sosok mommy lebih besar daripada rinduku pada Aisyah.


"Baiklah sayang, kita akan jaga adik berdua." ujarku kemudian berlalu dari hadapan gadis kecilku itu. Dari ekor mataku kulihat Nikita menarik tangan Aisyah yang cukup bingung karena diperebutkan malam itu. Mereka berdua masuk ke kamar gadis cilikku itu untuk tidur.


Aku membuka lemari rahasiaku selama ini dan kukeluarkan gaun tidur seksih milik Aisyah yang sudah lama aku simpan di sana. Ia yang menemaniku ketika aku kesepian. Kemudian aku juga berganti pakaian menjadi piyama tidur. Aku membawa gaun tidur itu untuk dipakai Aisyah malam ini.


"Daddy tidur di sini?" tanya Nikita saat melihat aku masuk dan bergabung dengan mereka berdua di tempat tidur.


"Tentu saja Daddy. Kamu bisa tidur bersama kami di sini, iyya kan mom?" ujar Nikita dengan senyum bahagianya.


"Tapi mommy harus mengganti bajunya dulu dengan ini." ujarku sembari memberikan gaun tidur yang aku maksud. Aisyah menatapku dengan senyum samar. Aku tahu ia pasti mengerti maksudku.


Pandanganku tak lepas dari sosok cantik dan seksih di hadapanku. Sampai Nikita mengagetkan aku baru aku sadar kalau aku sekarang ada di dunia nyata. Istriku itu begitu menyihirku dengan penampilannya sekarang. gaun tipis yang cukup menampakkan keseluruhan lekuk tubuhnya benar-benar membuatku gila.


"Daddy tidur di sini dan mommy di sini." ujar Nikita sembari mengatur letak bantal yang akan kami tempati tidur malam ini.


"Aku tidur di tengah di bagian sini." gadis kecilku itu menepuk bantalnya sendiri dan kemudian mulai berbaring.


"Mommy Ayo kemari. Bacakan kisah tentang semut dan Raja Sulaiman." kulihat Aisyah mulai naik ke tempat tidur sembari menutupi bagian dadanya yang cukup terbuka, hingga asetnya yang cukup membuatku panas dingin itu terekspos sempurna. Ia sepertinya tidak nyaman dengan gaun yang aku berikan, tetapi ia selalu ingin menyenangkan hatiku. Aku tersenyum padanya dan kuucapkan tidak apa-apa lewat gerakan bibirku. Setidaknya malam ini meskipun aku tak bisa menyentuhnya dengan bebas, aku bisa memanjakan mataku dengan melihatnya seperti itu.


Ia mulai berbaring di samping kanan Nikita sedangkan aku di samping kiri gadis kecilku itu. Aisyah pun memulai bercerita tentang kisah Nabi Sulaiman dan Semut yang diminta oleh Nikita.


"Nabi Sulaiman adalah anak dari Nabi Daud AS, dikisahkan bahwa Nabi Sulaiman mewarisi kerjaan sang Ayah serta mendapatkan gelar kenabiannya. Nabi Sulaiman memiliki mukzizat luar biasa yang dikaruniai oleh Allah SWT, beliau bisa berbicara dengan hewan. Seperti yang tertera pada Surah An-Naml ayat 17 yang menyebutkan bahwa Nabi Sulaiman berkuasa dan mampu mengumpulkan bala tentara jin, manusia hingga para burung.


وَحُشِرَ لِسُلَيْمٰنَ جُنُوْدُهٗ مِنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوْزَعُوْنَ


“Dan untuk Sulaiman dikumpulkan bala tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka berbaris dengan tertib.”


Suatu hari Nabi Sulaiman dan para tentaranya melakukan perjalanan hingga sampai di lembah yang terdapat bayak semut kecil. Tak ada satupun dari pasukan Nabi Sulaiman yang menyadari kumpulan para semut itu kecuali Nabi Sulaiman.


"Wahai semut-semut, masuk lah kalian masuk ke sarang agar kalian tidak terinjak oleh Nabi Sulaiman, ayo cepat lari," kata Ratu semut kepada semut-semut lainnya.


Nabi Sulaiman yang memiliki karunia dapat mengerti ucapan para hewan, lantas tersenyum mendengar seruan Ratu semut kepada para semut-semut lainnya. Beliau lantas menghentikan langkah dan menunggu kawanan semut itu untuk menyingkir dan masuk ke dalam sarangnya.


Kemudian, sebelum mulai melanjutkan perjalanan, Nabi Sulaiman mengecek satu persatu pasukan tentaranya. Namun ketika sampai di kawanan burung, Nabi Sulaiman merasa ada yang kurang. Ternyata burung hud-hud tidak ada di dalam rombongan. Namun tak beberapa lama kemudian, burung hud-hud datang.


Nabi Sulaiman kemudian menanyakan kemana burung hud-hud pergi. Burung hud-hud langsung meminta maaf kepada Nabi Sulaiman. Burung hud-hud kemudian mengatakan bahwa ia ingin menyampaikan kabar terlebih dahulu sebelum Nabi Sulaiman menghukumnya.


Nabi Sulaiman pun mencoba mendengarkan kabar yang hendak disampaikan oleh burung hud-hud. Burung hud-hud menyebut bahwa tadinya tertinggal rombongan. Burung hud-hud berputar-putar mencari jalan yang tepat hingga tanpa sengaja ia sampai di negeri Saba.


Di negeri itu dipimpin oleh seorang Ratu. Namun sayangnya, Ratu tersebut beserta para penduduknya menyembah matahari, bukan kepada pemilik segala zat yakni Allah SWT.


Aku terkesima mendengar Aisyah bercerita, sungguh ia sangat pintar menirukan suara semut dan burung hud-hud itu. Tetapi dengkuran halus Nikita membuat ku meminta istriku itu untuk menghentikan kisahnya. Aku tahu ia mungkin sudah lelah dan juga mengantuk.


"Tidurlah." ujarku kemudian mengecup bibirnya lembut. Tetapi ternyata ia malah menahan tengkukku dan membalas kecupanku dengan sebuah ******* lembut.


"Kamu yakin tidak ingin melanjutkan yang tadi, tuan?" ujarnya dengan suara menggoda. Aku tahu itu adalah sebuah undangan yang sangat istimewa. Dan aku rasa malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang bagi kami.


---Bersambung--


Mau jadi saksi malam panjang mereka??? ayok kasih vote, like dan komentar nya.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


eh, mampir juga ke karya teman aku nih, sambil menunggu babang Alex bersiap-siap.