
POV Alexander Smith
Maksim dan aku saling bertatapan dengan sama-sama mengacungkan handphone kami. Aku mengangkat bahuku tanda tidak mengerti. Dua nomor yang sama-sama kami hubungi tersambung tetapi tidak ada yang mengangkatnya sama sekali.
"Mereka mungkin sedang istirahat sekarang." ujar Maksim kemudian menaruh handphonenya kembali ke dalam saku bagian dalam jas yang sedang ia kenakan.
Perbedaan waktu yang sangat jauh antar New York dan Rusia memungkinkan kami melakukan kegiatan yang berbeda pada saat sekarang ini.
"Yah mungkin saja, apalagi mereka habis jalan keliling-keliling kan?" ujarku membenarkan. Tetapi mengingat kandungan Aisyah yang semakin besar dan sebentar lagi melahirkan, aku langsung meraih handphoneku lagi.
Aku ingin tahu kabar terkini dari istriku itu. Aku khawatir ia kelelahan sedangkan aku tidak berada di sampingnya sekarang.
Dan pada dering pertama Aisyah langsung mengangkat teleponku dan langsung menangis.
"Alex, maafkan aku. Hiks." kudengar ia menangis sesenggukan. Aku semakin khawatir dibuatnya.
"Ada apa Aisyah, apa perutmu sudah mulai merasa sakit?" tanyaku tak sabar. Ia hanya terus menangis dan membuat dadaku semakin berdebar tak karuan.
"Ada apa Aisyah! katakan padaku apa yang terjadi!" suaraku sudah meninggi karena aku semakin tak sabar mendengar apa yang sebenarnya terjadi di sana.
"Berikan teleponnya pada Anna kalau kamu tak mampu bicara!" titahku karena aku sungguh tak sabar sedangkan ia hanya menangis saja dengan suaranya yang membuatku meremas kuat handphone yang sedang kupegang ini.
"Anna tertembak saat ingin menyelamatkan aku, Alex." akhirnya keluar juga alasannya ia menangis seperti itu.
Aku mengumpat dalam hati. Siapa lagi yang masih ingin mencelakai keluargaku.
Aku menarik nafas panjang kemudian berusaha menenangkan Aisyah.
Albert yang harus menjelaskan ini padaku bukannya istriku. Ia tak tahu apa-apa. Dan juga aku tak akan marah di telepon. Aku khawatir istriku semakin takut dan sedih.
"Kalian sekarang ada dimana?" tanyaku setelah lama aku terdiam.
"Di Rumah Sakit. Anna terluka parah Alex hiks, huaaa...Itu karena aku yang tidak mendengarkannya..." kudengar Aisyah masih menangis dan malah semakin histeris. Dan aku di sini hanya bisa menjambak rambutku frustasi.
Aku ingin memeluknya agar ia tidak ketakutan seperti itu.Ya ampun, ingin rasanya aku terbang segera ke Rusia sekarang juga meskipun kami baru saja sampai dan belum melakukan sesuatu pun untuk masalah yang terjadi pada proyek yang kami laksanakan di Ne York ini.
"Kamu tenang ya, semua pasti baik-baik saja. Doakan Anna agar segera membaik. Aku akan menghubungi Albert memastikan semuanya."
"Iya, Alex. Aku takut."
"Bagaimana Maryam? apa ia baik-baik saja?"
"Iya, kami berdua baik-baik saja. Tapi Anna ia kehilangan banyak darah, Alex."
"Apa Kak Omar ada di sana?"
"Iya, Kak Omar yang membawa kami ke rumah Sakit ini. Dan aku yakin ia yang akan mengobati gadis itu."
"Kalau begitu tenanglah. Ia pasti akan melaksanakan yang terbaik untuk Anna."
"Iya baiklah. Aku merindukanmu, Alex."
"Hem, aku juga. Setelah urusan ini selesai. Aku akan segera kembali bersama Maksim."
"Jaga dirimu Alex."
"Iya."
"Albert ceritakan padaku apa yang terjadi di sana!" kudengar Albert menarik nafas kemudian mulai menceritakan kronologis kejadiannya.
Aku hanya terdiam berusaha berpikir keras sedangkan Maksim memandangku dengan dahi berkerut ikut berpikir. Aku sengaja memperbesar volume suara handphoneku supaya kami bertiga bisa berkomunikasi dengan bebas dan menemukan siapa pelaku dibalik semua ini.
"Jadi kamu belum sempat mengetahui siapa pelakunya dan ia sudah mati?" tanyaku lagi meyakinkan.
"Belum. Dan sepertinya ia memang tidak berniat untuk membuka mulutnya." jawab Albert di seberang sana.
"Bagaimana dengan polisi, apakah kamu sudah memberikan bukti korban yang ia jatuhkan?"
"Iya, Bos. Aku sudah melaporkan semuanya. Dan ternyata sniper itu adalah residivis yang sudah lama dicari oleh kepolisian. Ia adalah buronan yang pernah melakukan kekacauan di tahanan. Dan kurasa mereka beruntung karena aku yang menghabisinya."
"Terima kasih banyak Albert. Untung kamu ada di sana tepat waktu."
"Sama-sama Bos. Jangan ragukan kesetiaanku padamu."
"Ah iya, aku tahu itu. Nah Bagaimana dengan Anna?"
"Jangan khawatir ia ada ditangan yang tepat. Aku tahu Anna gadis yang kuat. Ia pasti bisa melewati ini semua. Satu peluru tidak akan membuatnya meninggalkan Klan Smith." kudengar Albert tertawa di ujung sana.
"Hush! kita manusia biasa Albert, nyawa bisa saja melayang kalau kita tidak hati-hati."
"Iya Bos."
"Sekarang kamu ke ruangan Kak Omar dan pastikan Aisyah serta Maryam nyaman di sana. Mereka pasti butuh makan sekarang ini."
"Aku titip Istriku juga Albert, aku percaya padamu." Maksim ikut berbicara, aku tersenyum. Ia pasti mengkhawatirkan istrinya juga.
"Tenang saja, istri kalian aman, ada aku di sini." Albert pun menutup panggilan telepon itu setelah memastikan semuanya baik-baik saja dan meminta kami berdua segera menyelesaikan masalah pekerjaan kami di sini.
Maksim menatapku dengan pandangan tak biasa. Aku tahu ia ingin menyampaikan sesuatu.
"Katakan Max, apa yang ada di kepalamu."
"Aku mencurigai mereka sudah merencanakan ini. Setiap ada masalah di New York pasti ada juga masalah di Moskow. Mereka sengaja mengirim kita kemari agar mereka bebas melakukan kejahatan di keluarga kita." Aku mengangguk setuju dengan pendapat Maksim.
"Yah, kamu benar Max. Mereka pasti sengaja dan aku yakin pelakunya masih Kremlin. Ia pasti masih sangat dendam karena kejahatannya yang lalu telah membuat nya kehilangan kepercayaan dari publik." ujarku sambil menyandarkan kepalaku di sandaran kursi yang sedang aku duduki.
"Besok pagi kita harus pastikan pengacau yang ia kirim kemari mendapatkan balasan yang tak pernah ia lupakan seumur hidupnya."
"Baik bos." jawab Maksim dengan senyum samar di wajahnya.
"Sekarang ia pasti sudah mendengar kalau sniper suruhannya sudah mati dan tak berhasil. Kita harus berhati-hati kedepannya, karena orang seperti itu akan menuntut balas terus menerus untuk memuaskan rasa sakit di hatinya. Padahal aku sungguh tak pernah berurusan langsung dengan kelompok mereka."
"Yah, anda benar sekali. Dan kurasa para istri kita akan lebih aman kalau kembali ke Dagestan. Di sana adalah tempat yang paling aman dan menenangkan. Kita sebaiknya mulai menghentikan proyek kita di New York ini bos. Terlalu beresiko bagi kita dan keluarga." aku tahu Maksim sudah ingin menyudahi semua ini.
"Yah betul, besok setelah pengacau selesai kita eksekusi, kita lelang saja proyek ini. Aku sungguh tak sanggup mendengar kabar buruk yang seperti ini lagi. Apalagi Aisyah sedang hamil dan mungkin istrimu juga akan segera menyusul."
Malam itu kami berdua sepakat akan menghentikan proyek ini dan akan berusaha hidup normal seperti orang lain. Mungkin kembali ke Dagestan adalah ide yang bagus.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya, okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍