Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 87 EMHD



Alex menatap Aisyah dengan tersenyum samar yang dengan cekatan membasuh bagian atasnya dengan kain basah agar tubuhnya bisa lebih segar.


Ia belum bebas untuk mandi karena kepalanya masih sering sakit dan juga nyeri di dadanya masih sering terasa.


"Aisyah, terima kasih." ujar Alex sambil menghentikan gerakan tangan istrinya yang sedang membasuh bagian perutnya ke bawah.


"Hem," jawab istrinya singkat. Ia balas menatap wajah Alex dengan pandangan bertanya.


"Cukup sampai di situ saja sayang. Aku takut ada yang tidak beres pada diriku jika kamu lanjutkan sampai di bawah." jawab Alex seolah mengerti pandangan tanya istrinya.


"Tidak masalah." jawab Aisyah singkat dan melanjutkan apa yang sedang ia kerjakan sambil tersenyum samar.


"Aisyah, plis. Biar aku saja yang..." Alex tidak melanjutkan perkataannya karena istrinya itu tahu betul apa yang ia tolak padahal sangat ia inginkan. Ia ingin dimanjakan oleh sang perempuan cantik yang sudah beberapa bulan ini tidak bertemu secara khusus.


Menit berikutnya, Alex memejamkan matanya menikmati yang istrinya lakukan padanya di bawah sana. Andaikan ia sedang sehat sekarang, ia pastikan tak akan membiarkan istrinya itu bekerja sendiri. Ia akan menerkam dan memimpin tetapi ia harus bersabar atas nikmat sakit ini.


"Aisyah,.." erang Alex dengan suara bergetar tak kuat. Tak ada jawaban dari istrinya yang benar-benar memberikan pelayanan yang sangat sempurna baginya. Sampai getaran indah yang menuntutnya untuk melepaskan sesuatu dari tubuhnya membuatnya menegang dan akhirnya meledakkan dirinya di luar.


Aisyah memandangnya dengan senyum bahagia di wajahnya sedangkan ia hanya bisa tersenyum malu. Karena baru kali ini ia merasa menjadi pria manja yang yang diperlakukan sangat hati-hati tapi liar oleh sang istri.


"Alex," bisik Aisyah di kupingnya setelah melakukan sesuatu yang sangat spektakuler selama perjalanan pernikahan mereka.


"Aku suka ekspresimu tadi." lanjut Aisyah kemudian mengecup bibir suaminya singkat. Alex ingin sekali menahan bibir itu lama dibawah kuasanya tetapi sepertinya perempuan cantik itu sengaja membuatnya penasaran.


"Kamu belajar darimana yang tadi itu?" tanya Alex saat istrinya membersihkan lava yang sudah ia ledakkan di luar tadi. Aisyah tidak menjawab ia hanya tersenyum dan membawa kain-kain basah itu kedalam kamar mandi.


"Itu rasanya sempurna sayang." lanjut Alex dengan tatapan tak lepas dari tubuh istrinya yang sibuk keluar masuk kamar mandi.


"Berhenti menatapku seperti itu Alex, aku malu." ujar Aisyah akhirnya karena suaminya terus menatapnya saat melakukan apa saja.


"Aku tanya padamu kamu belajar darimana yang tadi itu?" tanya Alex lagi. Perempuan cantik yang sedang tidak memakai hijabnya itu langsung duduk di samping Alex kemudian tersenyum malu-malu.


"Aku hanya ingin seperti mantan-mantanmu yang mampu memuaskanmu dengan cara apa pun." jawabnya tanpa mau menatap mata suaminya.


"Astagfirullah, kamu masih ingat yang itu?, kamu itu spesial dan sempurna sayang."


"Kamu berada di sini saja bersamaku itu sudah cukup Aisyah, biarkan aku yang melakukan semuanya." jawab Alex dan menggenggam tangan istrinya lembut.


"Tapi aku tetap suka eksperimu tadi Alex."


"Astaga Aisyah kamu membuatku malu." Alex menggigit bibir bawahnya karena gemas dengan ucapan istrinya itu.


"Aku minta maaf," Aisyah menunduk dengan wajah yang nampak sedih.


"Kenapa sayang?" tanya Alex penasaran.


"Kamu harus mandi karena itu tadi."


"Itu malah bagus kan, gerah juga sudah 3 hari tidak mandi. Bantu aku untuk mandi."


"Kamu sudah bisa mandi?"


"Iya, kan tadi sudah kamu kasih obat paling mujarab..Dan sekarang bantu aku ya." ujar Alex sembari tersenyum penuh makna. Aisyah sangat mengerti arti senyum suaminya itu. Ia tahu sepertinya ia yang akan diperlakukan balik seperti tadi.


🍁


Maksim ingin memberi tahu paman Yusuf akan niatnya menikahi sahabat Aisyah yang bernama Maryam itu. Sekarang ia sedang menunggu kepala suku Avar itu di ruang tamu ayah mertua sang Bos.


"Assalamualaikum paman."


"Waalaikumussalam. Duduklah Maksim." jawab Mohammad Yusuf saat tiba di ruangan itu.


"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Mohammad Yusuf saat melihat pria muda saudara Alex itu hanya diam, dan tidak memulai pembicaraan.


"Maryam putri Salim?" tanya Mohamad Yusuf dengan wajah sedikit kaget.


"Iya paman, sejak lama aku sudah menyukainya dan sekarang aku ingin menikahinya."


"Tapi kamu sudah tahu kan statusnya?"


"Iyya paman. Orang tuanya yang sudah mengatakannya."


"Alhamdulillah. Sebaiknya memang seperti itu sebelum melaksanakan pernikahan. Asal-usul calon mempelai harus jelas. Tak ada hal yang disembunyikan tentang latar belakang dan masa lalu, karena biasanya akan berdampak pada hubungan kalian selanjutnya." jelas Mohammad Yusuf sembari mengingat kejadian yang menimpa putrinya.


Yang ia sesalkan kenapa semuanya baru terungkap setelah pernikahan putrinya. Tetapi ia juga mengambil hikmah dibalik semua ini. Bahwa Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya.


"Nah, Maksim kapan rencanamu untuk melamar Maryam secara resmi sesuai adat kami di desa ini?"


"Aku meminta petunjuk dari paman. Terserah kesiapan dan waktu paman."


"Lho, kamu yang akan menikah kenapa kesiapan paman yang kamu tunggu, hahaha."


"Karena aku sudah siap dari dulu paman, sejak pertama kali aku melihatnya 4 tahun yang lalu."


"Wah, anak muda. Aku suka dengan semangatmu. Jika sudah mulai suka dan tertarik sama lawan jenis segeralah untuk menikah. Daripada mencari kenikmatan di luar sana yang jelas tidak diberkahi oleh Tuhan."


"Iyya paman. Kalau begitu bagaimana kalau hari ini saja?"


"Apa? kenapa semangatmu membuat ku jadi takut , Max." ujar Mohammad Yusuf dengan senyum samar. Maksim meremas tengkuknya karena malu pada orang yang paling dihormati di perkampungan itu. Ia terlalu bersemangat sampai lupa kalau ada banyak rangkaian adat yang harus ia ikuti dalam pernikahannya nanti.


"Kamu persiapkan saja segalanya. Insyaallah besok pagi aku akan ke rumah Salim bersama para tetua adat di sini."


"Baik paman, terima kasih banyak." ujar Maksim kemudian segera berpamitan. Ia ingin menghubungi Albert di Moskow agar segera datang untuk membawakannya segala hal yang akan ia bawa sebagai hadiah dan juga mahar untuk Maryam. Ia ingin meminta bantuan pada Alex tetapi bosnya itu belum sembuh dan berlaku seperti seorang bayi besar yang tidak mau ditinggalkan oleh Aisyah barang sedetikpun.


Sampai Nikita sering merasa cemburu dan kesal.


"Daddy!" panggil gadis kecil itu di depan pintu kamar Alex. Tidak ada Jawaban karena yang punya kamar sedang asyik bermain-main dengan sang istri tercinta. Ia sedang membalas perlakuan istrinya tadi pagi dengan perlakuan yang sama sampai Aisyah benar-benar merasa sedang berada di dunia lain. Begitu indah dan sangat indah. Ia ingin meremas rambut suaminya jika getaran dahsyat itu datang menyerangnya tetapi ia takut suaminya tak kunjung sembuh. Akhirnya ia hanya bisa meremas selimut dengan jari-jarinya.


"Daddy!" teriak Nikita lagi.


"Alex, stop! aku akan buka pintunya." ujar Aisyah dengan nafas memburu. Ia segera melepaskan diri dan meninggalkan suaminya yang sedang tersenyum puas karena sudah membalas istrinya itu.


"Nikita, ayo masuk sayang." ujar Aisyah sembari memperbaiki letak pakainya yang ternyata terbuka di mana-mana.


"Daddy mana mom?"


"Ada di dalam sayang. Masuklah."


"Daddy, aku mau tinggal sama aunty Anna saja."


"Hey kenapa?"


"Daddy dan mommy sudah tidak sayang padaku. Kalian selalu sibuk mengunci diri di kamar. Aku hanya bisa bermain dengan aunty Anna sepanjang hari." gerutu Nikita dengan wajah sedihnya.


"Itu karena Daddy sakit sayang, kalau Daddy sudah kuat berjalan seperti biasa kita akan main bersama lagi. Untuk sekarang mommy yang akan jadi dokter yang merawat Daddy, boleh ya?"


Nikita mengangguk dan memeluk Daddynya.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya, okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍