Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 119 EMHD



Dengan hati senang Maksim memasuki kamarnya. Ia ingin memberi tahu kepada istrinya kalau Aisyah sudah melahirkan. Tetapi kegembiraannya berubah menjadi kekhawatiran yang teramat sangat, pasalnya Maryam sang istri ia temukan berbaring di tak sadarkan diri di depan kamar mandi.


"Maryam? apa yang terjadi? bangun sayang!" ujar Maksim dengan suara agak keras. Tangan besarnya ia tepuk kepipi sang istri yang memucat bagai mayat. Matanya memandang berkeliling dan menemukan bekas muntahan sang istri di sekitar kamar mandi.


"Maryam, bangun sayang..." panggilnya lagi sembari memeluk erat tubuh istrinya yang lemas bagai jelly dan tidak memberikan reaksi sama sekali.


"Maryam, kamu dengar aku sayang? jangan membuatku takut. Bangun!" teriak Maksim dengan wajah mengetat karena khawatir. Ia marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga perempuan yang sangat dicintainya itu.


Dengan cepat ia angkat tubuh lemah itu ke atas ranjang. Kemudahan berlari keluar mencari pertolongan. Kamar dokter Omarlah yang pertama ia datangi. Lama ia mengetuk tapi tidak ada sahutan dari dalam sana.


Akhirnya Maksim menuju kamar Alex dan menemukan semua orang berkumpul di sana menyaksikan Nikita sedang membacakan dongeng pada sang adik bayi yang sedang tertidur nyenyak. Semua orang tampak senang melihat kebahagiaan Nikita yang sangat antusias melihat makhluk kecil di depannya.


Maksim tidak mau membuat suasana bahagia itu berubah menjadi kekhawatiran sehingga ia hanya menghampiri Omar dan membisikkan sesuatu agar pria yang berprofesi sebagai dokter itu mengikutinya ke kamarnya.


"Baiklah, aku akan ikut bersamamu." ujar Omar kemudian meninggalkan kamar itu dengan langkah cepat. Mereka berdua pergi diam-diam dan tak bersuara.


"Mommy, kenapa adek bayi masih belum bangun juga?" tanya Nikita sembari memandang pada baby boy yang sangat tampan itu. Ia sampai mendekatkan wajahnya ke wajah bayi kecil itu kemudahan menciumnya pelan.


"Aku sudah lelah membacakan cerita tetapi adek bayinya masih menutup matanya." lanjut Nikita dengan gayanya yang lucu.


"Adek bayinya masih capek sayang. Jadi ia tidur terus."


"Memangnya ia habis main dimana? hingga capek seperti itu."


"Didalam perutnya mommy. Ia berenang terus di dalam sini. Sekarang ia mau tidur dulu." jawab Aisyah sembari mengelus lembut rambut sang putri.


"Kenapa badannya kecil sekali seperti ini Mom?" tanya Nikita lagi sembari mengangkat jari-jarinya memperlihatkan tanda kecil didepan hidungnya.


"Karena belum kuat makan seperti Niki. Jadi badannya masih sangat kecil." jawab Aisyah tersenyum.


"Kamu senang sayang punya adek?"


"Senang sekali mom, tapi ia tidak bisa diajak main. K


kerjanya tidur terus." gerutu Nikita sembari mencolek pipi sang adik.


"Niki, tidak boleh begitu nanti adeknya nangis." tegur Alex pada putrinya itu. Nikita langsung cemberut dan takut karena si bayi tampan itu benar-benar terbangun dan menangis.


Oeeeek


Oeeeek


Oeeeek


Nikita langsung lari dari sana dan memeluk Anna. Ia ikut menangis karena takut dan sedih si adek kecil menangis karena dirinya.


"Anna, huaaaaaaa." Nikita meraung dengan kencang bersamaan dengan suara tangisan sibayi tampan itu. Sehingga suasana kamar itu menjadi semakin ramai.


"Jangan nangis sayang, adeknya nangis bukan karena Niki," bujuk Anna dengan suara pelan. Ia sampai mengelus lembut punggung Nikita berulang-ulang untuk menenangkannya.


"Nah lihat, adik bayinya sudah diam kan, ia cuma mau minum susu sama mommy supaya cepat besar dan main sama Nikita." raungan Nikita sudah mulai berhenti disusul oleh tangis yang masih sesenggukan. Anna sembari menggendong gadis kecil itu itu mulai mengajaknya keluar dari kamar itu agar hatinya kembali baik dan ceria.


"Kita keluar aja yuk, kita cari kupu-kupu di taman. Pagi ini kan cerah sekali pasti bunga-bunga pada bermekaran."


"Baiklah Anna." jawab Nikita sembari menghapus airmatanya dengan punggung tangannya. Ia tidak mau memandang ke arah mommy dan Daddynya.


Mereka berdua pun keluar dari kamar itu dan melangkah menuju taman di luar rumah.


"Alex! kamu tidak harus menegur Nikita seperti itu, lihat ia merasa sedih dan bersalah." Aisyah menatap tajam suaminya karena sudah membuat Nikita jadi sedih dan menangis seperti tadi.


"Aku tidak bermaksud seperti itu sayang." ujar Alex membela diri. Ia sungguh tidak mengerti kenapa Nikita jadi perasa sekali.


"Minta maaflah sama Nikita, ajak ia bicara supaya hatinya menjadi baik kembali."


"Tidak perlu sayang, kamu lihat kan, Anna sudah berhasil menenangkannya."


"Baiklah sayang, aku akan menyusul mereka berdua."


"Ah iya itu ide yang bagus." Aisyah tersenyum karena suaminya mau mendengarkannya.


Alex pun keluar dari kamar itu dan mencoba mencari Nikita yang sedang dibawa keluar oleh Anna Peminov.


Tetapi di tengah perjalanan ke arah taman sesuai petunjuk seorang pelayan di rumah itu. Ia malah bertemu dengan Albert yang sepertinya akan keluar rumah dilihat dari pakaian yang sedang dipakainya.


"Albert, kamu mau kemana?" tanya Alex dengan wajah penasaran ingin tahu.


"Aku ingin minta izin bos. Aku akan terbang ke Indonesia untuk melamar Reisya." jawab Albert tersenyum.


"Heh, kamu berani menikah tanpa mengajak kami bersamamu." Alex memandang tajam ke bola mata Albert yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.


"Maafkan aku bos, aku kira kalian tidak mau ikut bersamaku." jawab Albert menundukkan kepalanya.


"Tentu saja kami semua akan ikut bersamamu sebagai keluarga tetapi memangnya kamu tidak tahu kalau dini hari tadi, istriku sudah melahirkan seorang bayi tampan?"


"Alhamdulillah, selamat Bos. Aku belum mendengarnya. Bagaimana keadaan mereka berdua sekarang?"


"Istriku sehat begitupun dengan bayi kami."


"Syukurlah. Aku senang sekali mendengarnya. Boleh aku melihat bayimu bos?"


"Tentu saja, kesanalah dan hubungi keluarga Reisya kalau kita akan ke Indonesia setelah bayi kami sudah kuat dibawa naik pesawat." ujar Alex kemudian meninggalkan Albert yang terbengong-bengong.


Bisa lama sekali dong, apa Reisya tidak akan marah padaku kalau aku menundanya lagi?


Alber menarik nafasnya dalam-dalam kemudian melanjutkan langkahnya kearah kamar utama dimana ada Aisyah dan bayinya yang baru lahir.


Tok


Tok


Tok


Albert mengetuk pintu kamar itu dengan pelan. Bibi Sarah yang membukakan pintunya kemudian mempersilahkan ia masuk.


"Ini tampan sekali bibi dan juga harum." ujar Albert sembari mencium pipi sang baby boy.


"Kamu benar sekali Al, dia sangat tampan seperti daddynya." jawab bibi Sarah sembari ikut memperhatikan wajah baby boy itu yang sangat menggemaskan. Ada rasa haru dan bahagia yang ia rasakan. Bersyukur karena ia masih panjang umur dan bisa menyaksikan putri kesayangannya bahagia dan melahirkan seorang bayi yang begitu lucu.


"Aku juga ingin segera punya bayi bibi." ujar Albert membuat bibi Sarah tersentak.


"Itu bagus sekali Al, bibi mendukungmu tetapi kamu harus menikah dan punya istri terlebih dahulu." ujar Bibi Sarah tersenyum. Albert lantas melihat ke arah Aisyah yang masih berbaring di atas ranjangnya.


"Aku ingin melamar Reisya, bisakah kamu menelponnya untukku?" Aisyah tersenyum kemudian mengangguk.


"Tentu saja Al, aku akan membantumu."


Alber bernafas lega, setidaknya ia sudah menyampaikan itikad baiknya dulu setelah itu ia berharap semua urusan di sini segera beres dan mudah.


---bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey???


Dan jangan bosan ya, kalau othor ngomong ini terus, hehehe.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


Eits, mampir dong di novel teman othor nih, dijamin oke punya,