Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 227 EMHD



Birmingham, Inggris.


Crisstoffer Anderson meninju dinding kamar mandinya berkali-kali sampai buku-buku jari-jarinya mengeluarkan darah.


Beberapa hari ini ia merasakan perasaan yang tak nyaman di hatinya.


Sejak insiden mencuri ciuman paksa dari Nikita Smith, ia seperti orang gila. Bayangan-bayangan gadis ingusan itu selalu menghantui pikirannya.


Tangisan dan tatapan kebencian gadis itu membuatnya frustasi. Ia seperti terkena kutukan.


Belum lagi kakeknya sendiri mengusirnya dan tak mengizinkannya datang ke Rumah Sakit dan menemui gadis itu. Alhasil ia hanya bisa meminta bantuan paman Andreas untuk merekam semua aktivitas pria tua itu bersama dengan Bibi Paula palsu.


Tak sadar ia tersenyum samar ketika melihat kelincahan gadis itu merawat sang kakek. Nikita bahkan menolak perawat yang biasa bertugas melayani kakek William Anderson.


Gadis itu tampak sangat menikmati kegiatannya mendampingi pria tua itu. Tak ada lagi ekspresi terpaksa yang ditunjukkan oleh gadis berhijab itu.


Hatinya bahkan berdebar hebat melihat gadis itu mengajar Kakeknya untuk beribadah seperti yang pernah ia lihat di komunitas Muslim Birmingham.


Pria itu ingin marah karena gadis itu telah mengajarkan hal-hal yang sangat tidak disukainya tetapi ia bisa apa karena sepertinya kakeknya sendiri yang bersedia melakukan itu semua.


Hari ini Crisstoffer Anderson memulai paginya dengan senyum diwajahnya. Ia akan ke rumah sakit menjenguk kakeknya meskipun ia sudah tidak mendapatkan izin.


Pria itu akan tetap memaksa karena hatinya juga sangat ingin bertemu dengan gadis Moskow itu. Entah kenapa ada perasaan rindu pada tatapan kebencian gadis itu padanya. Matanya itu sangat menarik saat ia marah dan menangis.


"Paman, apa kakek tertidur?" tanyanya pada Andreas yang membukakan pintu ruang perawatan itu.


Asisten pribadi William Anderson itu sedikit heran dengan mulut sopan dan manis dari seorang Crisstoffer Anderson yang biasanya suka berlaku semau-maunya.


"Tuan baru saja selesai membersihkan diri dan sedang ingin beribadah bersama dengan putrinya."


"Oh, kalau begitu aku akan menunggu di sini saja." ujar Crisstoffer Anderson sembari melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruangan itu. Ia duduk diam memperhatikan interaksi dua orang di ranjang rumah sakit itu.


"Kakek sudah hafalkan 2 kalimat syahadat?" tanya Nikita pada William Anderson yang hari itu nampak cerah dan bahagia. Pria tua itu semakin mempunyai semangat untuk hidup sejak keberadaan Nikita di sampingnya.


Gadis itu mengajarkan banyak hal tentang konsep Tuhan, sebagai pencipta alam dan seluruh makhluk di bumi ini. Tentang perlunya manusia berterima kasih atas segala kenikmatan yang dirasakan melalui ibadah kepadaNya.


"Tentu saja anakku, aku sudah banyak berlatih dan juga memahami maknanya." jawab William Anderson masih dengan wajah gembiranya.


"Asyhadu anlaailaaha illallah wa asyhadu Anna Muhammadarrosulullah." ucap Willliam Anderson terbata-bata.


"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah."


Nikita mengucapkan syukur Alhamdulillah dalam hati dengan mata berkaca-kaca. Ia sampai memeluk pria tua itu sembari menyusut airmatanya.


"MasyaAllah, semoga kakek Istiqomah. Dan penyakit kakek ini menjadi penggugur semua kesalahan yang pernah kakek perbuat dimasa lalu."


"Aaamiin, terimakasih nak. Pasti orangtuamu mendidik kamu dengan sangat baik."


"Iya kakek, Daddy dan mommy selalu memberikan aku pendidikan yang baik. Terutama adalah Kakek Yusuf. Ia adalah kakek yang sangat bijaksana. Kalau aku pulang nanti aku akan mengatur pertemuan kalian semuanya." ujar Nikita dengan wajah gembira.


Deg


*Sepertinya aku salah telah membawa gadis ingusan itu datang kemari. Ia telah banyak mencuri dariku.


Perhatian kakek dan juga pasti warisannya akan diserahkan semua kepada Nikita Smith*.


Apa sebaiknya aku membawa pulang gadis itu saja sebelum aku diusir ke kutub utara oleh kakekku sendiri.


Dengan wajah menyeringai ia meninggalkan ruang perawatan itu dan bersiap melakukan sesuatu sebelum mengembalikan gadis itu ke negaranya.


Desa Rakhata, Dagestan.


Aisyah memandang wajah suaminya yang nampak kusut dan tak terawat. Wajah tampan itu dipenuhi bulu-bulu halus karena tak pernah bercukur.


Perempuan cantik itu tahu bagaimana perasaan Alex saat ini sedangkan dirinya sendiri tidak bisa menghibur karena dirinya pun perlu mendapatkan hiburan setelah kepergian sang ayah tercinta.


"Bagaimana perkembangan pencarianmu sayang?" tanya Aisyah pada suaminya yang nampak tak bersemangat itu.


"Yah seperti yang kamu lihat. Kami belum berhasil membawa Nikita pulang." jawab Alex dengan senyum tipis di bibirnya. Ia tak mau tampak terlalu sedih agar istrinya juga tidak merasakan hal yang sama.


"Apakah Nikita diculik?" tanya perempuan cantik itu dengan wajah penasaran. Ia memang tidak pernah diberi tahu apapun soal perkembangan pencarian putri pertama mereka.


"Iya, " jawab Alex singkat. Pria itu menarik nafasnya dalam.


"Astagfirullah. Semoga putri kita tidak mendapatkan kekerasan di sana Alex." Aisyah langsung memeluk tubuh suaminya itu. Ia ingin memberikan kekuatan pada pria itu agar bersabar.


Meskipun Nikita tidak lahir dari kandungannya tetapi ia sangat mencintai gadis itu seperti anak kandungnya sendiri.


"Alex, yang sabar ya sayang, yakinlah kalau Allah pasti melindungi putri kita," bisik Aisyah kemudian membingkai wajah suaminya itu dengan kedua tangannya. Perlahan ia menyapukan bibirnya diatas bibir suaminya. Ia ingin mengantarkan pengobat rasa sedih pada suaminya itu. Alex segera memperdalam ciuman Aisyah karena ia sangat ingin membawa beban yang berat ini jauh. Ia ingin menghibur dirinya dan juga Istrinya yang beberapa hari ini berkubang dalam duka dan sedih.


"Aku rindu padamu sayangku," bisik Alex parau. Berjuta rasa ia rasakan ketika ia berjumpa lagi dengan istrinya yang selalu memberikan kesejukan pada mata dan juga hatinya.


"Aku juga Alex. Aku sangat merindukanmu." jawab Aisyah dengan tubuh bergetar hebat. Sentuhan-sentuhan lembut yang diberikan oleh suaminya membuatnya lupa akan kesedihannya untuk sementara waktu.


"Aisyee, apakah aku boleh mengunjungimu sayangku," bisik Alex ditengah cumbuannya serta hasrat yang sangat ingin dipuaskan saat ini juga. Aisyah mengangguk dengan tubuh semakin bergairah. Ia juga sangat menginginkan suaminya sekarang ini.


Alex langsung mengangkat tubuh istrinya yang sudah sangat lemas itu. Dengan cekatan tangannya membuka kain penghalang pada tubuhnya sendiri dan tubuh istrinya.


Segala kesedihan dan kekhawatiran seakan pergi untuk sejenak ketika mereka berdua saling memuaskan dimalam yang sepi itu.


Kalimat-kalimat penuh puja dan damba Alex sampaikan melalui sentuhan lembut dan juga hentakan-hentakan ke dalam tubuh yang sudah menjadi candu baginya itu.


"Aisyee, love you sayangku. Terimakasih." bisik Alex kemudian tumbang di samping sang istri. Aisyah tersenyum kemudian membelai wajah suaminya dengan penuh kasih sayang.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍