
Nikita segera keluar dari kamar perawatan itu untuk memanggil perawat laki-laki dan juga kursi roda saat Aisyah dan para istri the Smiths datang berkunjung.
"Mom, Onty," sapa Nikita dan memeluk kemudian mencium pipi dan kanan para perempuan cantik itu.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Aisyah pada putrinya yang nampak terburu-buru itu.
"Aku ingin membawa Pak Anderson ke kamar uncle Omar, tapi aku butuh kursi roda," jawab Nikita dengan senyum diwajahnya.
"Oh ya? kalau begitu kamu segera ke sana, kami yang akan melihat dan menjaga tuan Anderson itu," jawab Aisyah sembari mengajak Maryam dan juga Reisya untuk masuk ke kamar perawatan Crisstoffer Anderson.
"Apakah Daddy ikut bersama kalian?" tanya Nikita sebelum ia berpisah dengan mommynya.
"Iya sayang, Uncle Al dan Uncle Max juga ada. Mereka ada di kamar Kak Omar." jawab Aisyah kemudian mengikuti langkah dua istri the Smiths ke dalam kamar perawatan itu. Sedangkan Nikita melanjutkan langkahnya mencari pertolongan pada petugas atau perawat yang sedang berjaga saat itu.
"Assalamualaikum onty," sapa Elif saat mereka membuka pintu kamar itu.
"Waalaikumussalam, Elif? apa kamu sudah lama?" tanya Maryam pada gadis asal Turki itu.
"Ya mungkin sekitar 20 menitan," jawab Elif dengan senyum diwajahnya.
"Halo pasien tampan," sapa Aisyah pada Crisstoffer Anderson yang masih terbaring di ranjang rumah sakit itu.
"Hai onty," jawab Crisstoffer tersenyum.
"Criss, ini Onty Maryam istri uncle Maksim dan ini Onty Reisya istri uncle Albert, mereka adalah keluargamu sekarang," ujar Aisyah memperkenalkan dua perempuan cantik lain milik keluarga Smith.
"Hai Criss," sapa Maryam dan Reisya bersamaan.
"Kami turut bersimpati atas kecelakaan yang menimpamu Criss," lanjut Maryam dengan ekspresi simpati.
"Halo onty, terima kasih sudah datang melihat aku disini," balas pria itu dengan wajah gembira. Nampak sekali kalau ia sangat senang memiliki keluarga baru. Karena selama ini hanya William Anderson dan juga Andreas yang selalu menemaninya.
"Bagaimana kabarmu Criss? apa ada keluhan?" tanya Aisyah saat melihat pria itu meringis ketika bergerak.
"Tanganku sakit sekali apalagi jika aku bergerak seperti ini," jawab Crisstoffer sembari menunjuk lengannya.
"Oh kasihan sekali, kami turut merasakannya, pasti sekali ya?" tanya Maryam setelah berbisik-bisik dengan Reisya kalau pria itu sangat tampan dan sangat serasi dengan Nikita yang cantik.
"Iya onty ini sakit sekali," jawab Crisstoffer semakin memperlihatkan ketidakberdayaannya saat ia melihat Nikita sudah ada di hadapannya.
Nikita baru saja tiba bersama dengan perawat pria dan juga satu buah kursi roda. Nikita hanya mencebikkan bibirnya karena masih sangat kesal pada pria itu.
"Apa yang bisa saya bantu tuan Anderson?" tanya Perawat pria itu pada Crisstoffer.
"Bisakah kamu membantuku untuk turun dari ranjang ini?" tanya Crisstoffer pada perawat itu.
"Oh tentu saja tuan, saya akan membantu anda," jawab sang perawat dengan sigap membantu menurunkan tubuh tinggi besar itu ke dalam kursi roda.
Aisyah langsung memperhatikan Nikita yang tidak bergerak samasekali membantu Criss yang sepertinya sangat kesulitan.
"Niki sayang, kamu tidak ingin membantu Criss?" tanya Aisyah pada putrinya itu.
"Tidak perlu mom, aku yakin dokter Anderson pasti sangat kuat dan bisa kalau hanya untuk duduk di kursi saja, iyakan dokter?" Nikita menatap Crisstoffer yang tampak meringis.
"Ah iya, aku pasti bisa meskipun aku sangat kesakitan," jawab Crisstoffer mencoba untuk tersenyum. Nikita semakin kesal karena sepertinya pria ini selalu ingin tampak menderita di depan keluarganya.
Crisstoffer Anderson menatap Nikita yang sengaja melempar pandangannya ke segala arah.
"Tidak Onty. Nikita baik sekali padaku tapi sekarang sepertinya ia sudah mulai bosan," jawab Crisstoffer dengan mengabaikan pandangan semua orang padanya.
"Bawa aku ke toilet terlebih dahulu," titahnya pada perawat yang sedang membantunya untuk duduk.
"Baik tuan," ujar sang perawat sembari mendorong kursi roda itu ke toilet.
Selanjutnya semua orang yang ada di dalam kamar perawatan itu langsung menatap Nikita yang berpura-pura sibuk dengan jari-jarinya.
"Niki, apa Criss merepotkanmu sayang?" tanya Aisyah dengan suara pelan.
"Tidak eh iya, aku cuma kesal padanya mom, sepertinya pria itu hanya berpura-pura sakit," ujar Nikita dengan bibir cemberut. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu langsung tersenyum.
"Laki-laki memang seperti itu, kalau bersama dengan orang terdekatnya ia seringkali bermanja-manja berlebihan," jawab Aisyah sembari tersenyum samar. Ia ingat bagaimana Alex padanya yang kadang lebih rewel daripada anak kecil. Perempuan cantik itu semakin yakin kalau Crisstoffer sangat mencintai putrinya. Ia bahkan rela mencari hidayah agar bisa dan pantas untuk memperistrikan Nikita.
"Aku sudah selesai, mari kita ke kamar uncle Omar," ujar Crisstoffer Anderson setelah keluar dari Toilet. Mereka semua pun berangkat ke kamar Omar yang tidak jauh jaraknya dari kamar itu.
"Halo Criss, wah kamu sudah tampak sehat dan kuat, sampai-sampai mau mengunjungi aku di sini," ujar Omar saat pintu kamarnya terbuka dan memperlihatkan Crisstoffer Anderson muncul di depan pintu bersama dengan keluarga Smith yang lainnya.
Alex, Albert, dan Maksim memandang ke arah penglihatan Omar.
"Hai uncle," sapa Crisstoffer pada pria yang ada di dalam ruang kamar itu.
"Halo Criss, bagaimana keadaanmu?" tanya Alex dengan senyum diwajahnya. Untuk pertama kalinya pria itu merasakan kenyamanan bersama pria ini yang merupakan sepupu dari putrinya.
"Alhamdulillah, aku sudah mulai membaik uncle," jawab pria itu dengan wajah bahagia. Ia tak menyangka akan bertemu dengan Alex dan kedua Smith itu dalam keadaan seperti ini.
"Syukurlah kalau seperti itu."
"Iya uncle, aku cuma ingin berkonsultasi dengan uncle Omar tentang sakit pada lenganku ini. Aku merasakan kalau ia mulai patah lagi, dan ini sangat sakit." ujar Crisstoffer sembari meminta perawat yang mendorongnya untuk lebih mendekatkan posisinya pada Omar yang juga sedang berbaring di ranjangnya.
"Ada keluhan apa Criss?" tanya Omar.
"Kurasa aku terlalu banyak bergerak hari ini dan lenganku kurasakan sangat sakit uncle," jawab Crisstoffer sembari menyentuh tangannya yang sedang dibalut perban.
"Kamu bisa memeriksanya dibagian ronsen untuk lebih meyakinkan kalau lenganmu itu benar-benar patah atau tidak."
"Iya aku juga akan melakukannya setelah berkonsultasi denganmu."
"Perlu kamu tahu Criss, di sini kita juga punya dokter ortopedi yang juga bisa dimintai pendapat serta pengobatan pada lenganmu itu."
"Oh ya, siapa uncle?" tanya pria itu sembari menatap semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Siapa ya? apa kamu bisa menebaknya Criss?" tanya Omar balik sembari tersenyum kepada semua orang.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍