Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 202 EMHD



"Tidak kak, aku hanya mulas saja, dan itu mungkin karena aku terlalu banyak makan hari ini. Kamu lihatkan aku sangat suka makanan itu karena pedas khas masakan Indonesia." jawab Aisyah saat Omar menanyakan banyak hal yang berhubungan dengan melahirkan.


"Permisi, aku ke kamar mandi dulu, perutku mulas lagi," ujar Aisyah dan segera melangkah ke tempat yang paling dibutuhkan oleh orang yang sedang sakit perut.


Alex memandang Omar dengan pandangan tanya.


"Mungkin memang sedang mulas saja, kamu tidak perlu khawatir seperti itu," ujar Omar seolah menjawab pertanyaan dibenak adik iparnya.


"Kamu lihat sendiri kan, bagaimana Aisyah makan, ia seperti orang yang tidak pernah makan berbulan-bulan," Omar lantas tertawa kemudian melangkah keluar untuk meninggalkan kamar itu.


Dokter itu berniat berpamitan pulang ke rumahnya sendiri karena acara demi acara sudah terlaksana di rumah itu, dari mulai makan, berdoa, hingga mengadakan perlombaan untuk memperingati kemerdekaan negara Indonesia.


Negara tempat kelahiran istri dari Albert Smith.


"Alex!" Omar menghentikan langkahnya yang akan menuju keluar saat mendengar suara Aisyah berteriak dari dalam kamar mandi.


Alex dan dia berlari ke kamar mandi untuk melihat apa terjadi di dalam sana.


"Aisyee, buka pintunya! Ada apa di dalam sana!" teriak Alex panik karena Aisyah tak lagi mengeluarkan suara. Yang terdengar hanya bunyi kran air yang terus mengucur.


"Aisyee, buka pintunya sayang atau aku dobrak." sekali lagi Alex berteriak dan sudah mulai mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar mandi yang sangat besar dan kuat itu.


"Alex sabar, Aisyah tidak apa-apa," ujar Omar menenangkan.


"Alex kak Omar," rintih Aisyah dari dalan sana dengan suara pelan tapi masih terdengar oleh dua orang pria yang mempunyai hubungan yang sangat khusus dengan dirinya itu.


Alex segera mendorong pintu itu dengan keras padahal tidak terkunci, alhasil ia hampir saja jatuh karena ketidaksabarannya itu.


Omar pun mengikuti adik iparnya itu kedalam kamar mandi yang sangat luas itu.


"Apa yang kamu lakukan sayang?" tanya Alex dengan wajah tak percaya melihat istrinya sedang berdiri dibawah shower yang sedang mengeluarkan air hingga tubuhnya tersiram padahal ia sedang memakai pakaian lengkap.


"Aisyah, apa yang terjadi?" kali ini Omar yang bertanya karena adiknya tidak keluar juga dari tempat itu padahal ia sudah basah kuyup.


"Sakit, perutku sakit sekali Kak, dan kalau aku menyiram air ke tubuhku aku merasakan sakitnya sedikit berkurang."


"Ya ampun, Alex bawa segera istrimu ke tempat tidur dan ganti pakaiannya, aku akan mengambil perlengkapanku kemari." ujar Omar dengan segala dugaan di dalam hatinya. Alex segera mengikuti perintah sang dokter.


"Aisyee, kemarilah aku akan membawamu keluar dari kamar mandi. Kamu harus ganti pakaianmu dan kak Omar akan memeriksamu,"


"Tapi ini sakit sekali Alex, aku bahkan tak kuat lagi melangkah," jawab Aisyah dengan tangan bertumpu pada dinding kamar mandi itu.


Akhirnya Alex masuk dan membuka satu-satu pakaian istrinya itu sambil berdiri sampai polos tak berpenghalang selembar benangpun.


"Ayo sayang aku akan membawamu keluar dan memakaikanmu pakaian." ujar Alex sembari menggendong tubuh istrinya yang polos itu.


Mati-matian ia menahan dirinya untuk tidak berbuat yang tidak-tidak, pasalnya inti dirinya sudah berkedut dan memberontak dibawah sana hanya dengan melihat tubuh polos istrinya yang semakin menggoda saja.


"Aaakh Alex sakit," keluh Aisyah sembari menyentuh bagian bawah perutnya.


"Kamu tunggu kak Omar ya, ia akan memeriksamu," ujar Alex dengan sabar.


Ia bukanlah seorang dokter yang bisa membantu istrinya itu. Dengan cekatan Ia mulai memakaikan pakaian kepada istrinya itu.


"Tapi ini sakit sekali, Alex. Aku juga merasakan ada yang pecah dan mengeluarkan cairan dari dalan sini," ujar Aisyah dengan wajah pias.


Tangannya kembali menyentuh bagian bawah perutnya yang terasa sangat nyeri.


"Sepertinya iya Alex, aaargh... tanda-tandanya seperti waktu baby Danil akan lahir." ujar Aisyah sembari menahan rasa sakit yang menderanya.


Pintu pun terbuka dan menampilkan wajah Omar dan juga Anna di sana.


"Bagaimana Aisyah, apa yang kamu rasakan?" tanya Omar sembari membuka tas yang berisi perlengkapan pemeriksaannya.


"Sakit kak, ini seperti waktu Anna membantuku melahirkan." jawab Aisyah meringis menahan rasa sakit yang menyerangnya kembali.


Omar memeriksa denyut nadi adik perempuannya itu. Dan tersenyum.


"Apa kamu ingin ke rumah sakit?"


"Untuk melahirkan?" tanya Aisyah pelan.


"Iya, ada banyak dokter perempuan disana yang bisa membantumu melahirkan. Karena aku tak bisa. Aku hanya akan membantu Anna saja," ujar Omar sembari tersenyum penuh makna pada istrinya. Aisyah kembali meringis dan menatap Alex yang sedang berwajah tegang.


"Jangan pandang aku seperti itu sayang, aku bukan dokter, aku takut tak bisa membantumu." ujar Alex sembari menyentuh tangan istrinya lembut.


"Bukan kamu Alex, tapi aku mau Anna yang membantuku sekarang, bagaimana Anna, kamu maukan?" Anna hanya tersenyum dan menyentuh tangan suaminya.


"Aku bersedia asalkan kamu membantuku, sayangku." jawab Anna sembari menatap suaminya.


"Ah iya betul sekali, aku yang akan memberi petunjuk kalau terjadi sesuatu," ujar Omar menyetujui permintaan adik dan istrinya. Ia pun mengeluarkan kaos tangan dari silikon dan meminta Anna untuk memakainya.


"Aku dan Alex akan menunggu di sana, lakukan tugasmu sebagai asistenku, Anna." ujar Omar kemudian memanggil Alex untuk meninggalkan area ranjang.


Ia akan memberi Anna kebebasan untuk membantu adiknya melahirkan.


Anna segera melakukan tugasnya dengan membuka paha Aisyah dan memasukkan tangannya kedalam jalan lahir saudara iparnya itu untuk mengetahui keadaan atau posisi janin.


Hal ini pernah dilakukan oleh suaminya padanya dulu dan ia pernah menanyakan apa maksud dari hal tersebut.


Anna tersenyum dan memberikan semangat pada Aisyah.


"Sebentar lagi bayimu akan lahir, dan pastikan untuk melakukan hal yang sama ketika baby Danil akan lahir, okey?"


"Okey," jawab Aisyah kemudian mulai menarik nafas panjang dan membuka pahanya lebar-lebar ketika kontraksi hebat itu datang.


"Ingat jangan angkat pinggulmu supaya jalan lahirnya tidak robek," Aisyah mengangguk dengan peluh mengucur diseluruh permukaan wajah dan lehernya.


"Ya, kamu pintar sekali, dorong sekali lagi yang Lama, ya seperti itu," Anna terus menyemangati sembari menyiapkan selimut dan beberapa perlengkapan lainnya.


"Aaaaargh Alex!!!"


"Oeeeekk Oeeek,"


"Alhamdulillah, Allahu Akbar," Alex dan Omar berteriak menyebut nama Tuhan saat mendengar Lengkingan suara bayi yang menggema di dalam kamar itu.


"Selamat Alex, putrimu lahir sehat," ujar Anna sembari menyerahkan baby girl yang sangat cantik pada Daddynya.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍