Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 273 EMHD



Crisstoffer Anderson membuka lembaran demi sebuah majalah mode dengan tenang. Sebuah cara yang disediakan oleh pihak salon bagi para pria yang sedang menunggu wanitanya yang sedang merawat dan mempercantik diri.


Pria itu harus pasrah jadi tatapan nakal perempuan-perempuan cantik yang juga merupakan customer di salon itu.


Demi Nikita yang katanya ingin memberikan perawatan pada tubuhnya saat itu ia rela jadi pria manis yang duduk dengan tenang dibawah tatapan lapar para tamu aneh.


"Aku sudah selesai Criss, ayo kita pulang," ujar Nikita saat melihat suaminya sedang mengobrol dengan seorang gadis seksih di loby salon itu.


"Kami permisi nona, istriku sudah selesai." pamit pria itu pada lawan bicaranya. Gadis itu mendengus tak suka karena harus menutup pembicaraan dengan pria tampan itu.


"Ya silahkan. Dan semoga nanti kita bisa bertemu lagi," ujar gadis itu dengan tersenyum menggoda. Nikita langsung mendengus lagi melihat ekspresi gadis lawan bicara suaminya itu.


Crisstoffer tahu kalau Nikita pasti akan kembali kesal jika ia meladeni gadis itu. Jadi tanpa menjawab ia pun menarik tangan istrinya untuk keluar dari salon tersebut.


Elif yang juga sudah merasa lebih segar mengikuti langkah keduanya keluar dari sana. Mereka bertiga mengunjungi banyak toko untuk membeli pakaian dan gaun untuk Elif.


"Kamu harus cari beberapa yang seperti ini Elif," ujar Nikita sembari memperlihatkan lingerie seksi pada sahabatnya itu. Wajah Elif langsung memanas karena malu. Otaknya tiba-tiba bertraveling entah kemana hanya dengan membayangkan dirinya memakai pakaian yang sangat tipis itu.


"Awwww," Elif mengelus kepalanya yang baru saja dapat sentilan dari Nikita.


"Jangan terlalu banyak menghayal, ayo pilih saja."


"Aku cocoknya pakai yang mana Niki?" tanya Elif bingung.


"Kamu cocoknya pakai hitam atau merah karena kulitmu sangat putih," jawab Nikita tersenyum. Ia jadi mengingat bagaimana dirinya dulu saat memakai pakaian seperti itu atas saran mommynya. Tanpa sadar ia tersenyum sendiri.


"Hey kenapa kamu tersenyum seperti itu nyonya Anderson?" bisik Crisstoffer yang tiba-tiba sudah ada dibelakangnya dan memeluknya posesif.


"Ah tidak. A a aku...," Nikita tiba-tiba merasa gugup dan tidak bisa menjawab. Untungnya Elif sudah masuk ke ruangan pas untuk mencoba beberapa pakaian yang ia beli. Jadi gadis itu tidak melihat kemesraan mereka berdua.


"Apa kamu ingat malam itu ya?" tanya pria itu lagi sembari mencium pipi Nikita sangat lembut.


"Criss, ini tempat umum sayang. Malu dilihat orang. Nanti kita lanjutkan di kamar ya," ujar Nikita memberikan penawaran agar suaminya melepaskannya.


"Baiklah, aku pegang kata-katamu sayang ," bisik Crisstoffer kemudian melepaskan dirinya.


Nikita menarik nafas panjang. Dadanya ia rasakan berdebar sangat kencang padahal suaminya sering memperlakukannya seperti itu. Pipinya pun menghangat dengan senyum bahagia di wajahnya.


"Niki, lihat! apa ini cocok untukku?" tanya Elif yang baru keluar dari kamar pas itu sembari memperlihatkan gaun malam yang sangat cantik untuknya.


"Perfect sayang! kamu cantik sekali. Pasti mertuamu akan sangat senang dan bangga padamu Elif." puji Nikita dengan mata berbinar.


Di depannya Elif sangat cocok menggunakan terusan berwarna biru malam yang sangat cocok dengan kulitnya yang putih.


"Ya kuharap begitu. Kamu tahu kan kita harus pintar mengambil hati mertua agar hubungan aku dan kak Roman lancar dan sukses." Elif tersenyum sembari memutar-mutar tubuhnya dengan bahagia.


"Hem ya, sayangnya aku tidak punya mertua Elif. Jadi aku tidak tahu bagaimana rasanya." Nikita ikut tersenyum senang melihat kebahagiaan sahabatnya.


Nikita memandang suaminya yang sedang berpura-pura mencari pakaian padahal mereka tahu kalau pria itu sedang mencuri dengar pembicaraan mereka.


"Ah iya, kamu betul sekali Elif. Nikita harus menomorsatukan aku dalam hidupnya dan tidak usah memikirkan hal yang lainnnya." jawab pria itu dan menghentikan kegiatannya memilih pakaian.


"Nah, kamu dengar itu kan Nikita Anderson?" tanya Elif pada sahabatnya. Gadis itu ingin Nikita tidak memusingkan masa lalu suaminya dengan orang lain.


"Iya nona Elif, aku akan memikirkan suamiku saja dalam hidupku. Aku tidak perlu belajar atau melakukan hal yang lainnnya. Begitu kan maksud kalian?"


Elif dan Crisstoffer Anderson mengangkat jempol mereka setuju dan sama-sama tertawa.


"Eh. By the way. Kenapa kalian berdua ada di sini sedangkan Mr. Edwin Hubble sedang mengajar di kelas kalian?" tanya dokter muda itu pada dua perempuan yang ada dihadapannya.


Nikita dan Elif saling berpandangan dan tidak ada yang berani menjawab.


"Ayo katakan, kenapa kalian berada di luar kelas padahal mata kuliah itu terhitung 4 SKS?" tanya Crisstoffer lagi dengan pandangan curiga.


"Mr. Hubble mengeluarkan kami dari kelas pak Anderson," jawab Elif sembari tersenyum meringis. Ia menarik tangan Nikita agar ikut menjelaskan kenapa mereka mendapatkan hukuman seperti itu.


"Niki, ada yang ingin kamu jelaskan?" tanya Crisstoffer dengan tatapan mengintimidasi. Sekarang ia berlaku bukan sebagai suami tetapi sebagai seorang dosen di depan mahasiswanya.


"Itu karena kamu pak Anderson," jawab Nikita sembari menjalin jari-jarinya. Crisstoffer langsung mengernyit bingung.


"Kenapa kamu jadi menyalahkan aku? apa aku ikut masuk ke dalam kelas kalian?"


"Kamu tidak masuk ke kelas kami tapi kami sedang membicarakanmu dan Professor Neurologis Edwin Hubble itu mendengar kami jadilah kami dikeluarkan dari kelas." Crisstoffer Anderson semakin bingung dengan jawaban istrinya itu.


"Apa yang kalian bicarakan tentang aku?" tanyanya lagi. Nikita dan Elif sekali lagi bertatapan.


"Tidak perlu dibahas lagi Criss. Aku hanya sedang kesal padamu titik." balas Nikita karena tidak mau mengulang kejadian yang tadi. Tiba-tiba moodnya kembali buruk.


"Aku ambil ini, ini , dan ini, dan plis bayar pakai uangmu sayang," Nikita memperlihatkan semua pakaian yang ia mau dan meminta pelayan toko untuk membawakan ke kasir.


Crisstoffer tersenyum. Meskipun ia cukup bingung dengan tingkah istrinya yang terlalu cepat berubah tetapi ia sangat senang karena akhirnya uangnya mau dipakai oleh perempuan itu.


"Dan Elif, aku juga membayar semua yang kamu ambil." ujar pria itu kemudian berjalan mengikuti istrinya ke arah kasir. Elif tersenyum senang. Gadis itu mencium kartu saktinya karena tidak akan berkurang untuk saat ini.


Setelah tangan mereka sudah penuh dengan tas belanjaan. Mereka bertiga pun pulang ke rumah masing-masing. Nikita beralih ikut ke mobil suaminya sedangkan Elif pulang sendiri.


Aisyah tersenyum bahagia melihat dua orang itu pulang dengan banyak tas belanjaan ditangan mereka. Pasalnya tadi pagi ia melihat dua orang itu pergi dalam keadaan tidak baik-baik saja dan sekarang pulang sudah nampak ceria.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍