
Reisya tampak begitu kurus dan pucat. Kehamilannya yang baru menginjak semester awal itu membuatnya mual dan pusing terus.
Tak ada yang membuatnya bersemangat kecuali akhir-akhir ini ia sangat merindukan Aisyah sahabatnya.
Bahkan sama Albert pun, ia ta suka aromanya. Suaminya itu selalu diusirnya dan tak ia biarkan mendekat.
Hingga Albert merasa mendapat cobaan yang sangat berat. Pria calon ayah itu hanya boleh masuk kamar dan tidur di ranjang bersama Reisya kalau istrinya itu sudah tertidur itupun ia harus menjaga jarak.
Dan kini saat ia mendengar kalau Aisyah sudah ditemukan dan sudah akan kembali ke Moskow, perempuan asal Indonesia itu begitu sangat bahagia.
Ia berharap setelah bertemu dengan Aisyah rasa tidak sukanya pada suaminya bisa berkurang dan bisa mesra kembali.
Karena terkadang ia merasa menyesal ketika ia menyuruh suaminya itu pergi menjauh padahal ia sangat rindu tetapi ketika Albert mendekat, rasa pusing dan mual kembali datang menyerangnya.
Reisya bangkit dari duduknya ketika mendengar pelayan di rumah besar itu menyatakan kalau rombongan keluarga Smith sudah datang.
Dengan semangat dan gembira ia berlari keluar menyambut kedatangan Aisyah seperti sedang menunggu makanan favoritnya.
"Aisyah, aku merindukanmu..." ujar Reisya saat istri dari Alex itu turun dari mobil.
Perempuan itu langsung berlari memeluk dan menciumnya seperti mereka baru berjumpa setelah bertahun-tahun.
"Reisya, aku juga sangat merindukanmu." jawab Aisyah dan balas memeluk sahabatnya itu.
Alex dan Albert berpandangan.
Reisya bahkan tak ingin melepaskan Aisyah untuk kembali ke kamarnya sendiri.
Maryam yang menyambut mereka hanya diberi kesempatan untuk cium pipi kiri dan cium pipi kanan saja.
Setelah itu ia ditarik ke kamar oleh Reisya dan meninggalkan semua orang dengan wajah melongo tak percaya.
"Sepertinya malam ini kita akan tidur bersama Kak, Alex," ujar Albert sembari menyentuh tangan Alex dengan wajah memelas sedih.
Hampir 2 bulan ini ia tak pernah menyentuh istrinya dan itu membuatnya hampir gila.
Apalagi Reisya kalau di dalam kamar punya kebiasaan baru yaitu memakai pakaian yang sangat terbuka dan seksih.
Alex sendiri meraup wajahnya kasar, pria itu menepis tangan Albert yang sedang menyentuh tangannya dengan keras.
"Singkirkan tanganmu sialan, meskipun aku juga belum dapat apa-apa sejak bertemu Istriku, aku masih normal ya," ujar Alex mendengus kesal. Ia langsung meninggalkan ruang keluarga itu dengan tarikan nafas berat.
Omar dan Maksim saling berpandangan kemudian menatap istri mereka masing-masing yang sedang mengulum senyumnya.
"Mereka berdua semakin aneh saja," ujar Anna sembari menatap Maryam dengan senyum diwajahnya.
"Mari kita buat mereka semakin menderita, hahaha," timpal Maksim dengan tawa diwajahnya.
🍁
Malam itu Danil benar-benar beraksi menghibur semua orang. Ia memperlihatkan kebolehannya berjalan dan berlari.
Satu tahun usianya dan bisa berjalan dengan lincah membuat semua orang menatapnya kagum. Apalagi anak itu juga sudah bisa mengucapkan banyak kosakata.
"Daddy," panggilnya pada Alex dan juga Albert. Dan ketika ia bertemu dengan pria yang lain, ia pun memanggilnya dengan sebutan Daddy.
Aisyah hanya bisa tersenyum manis saat Alex menatapnya meminta penjelasan.
"Hanya aku daddynya sayang, kenapa kamu mengajarkan ajaran sesat padanya." ujar Alex dengan suara datar.
"Tapi kan kamu yang mengajarinya sayang," Alex merajuk. Para pria di ruangan itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku sudah harus belajar dari sekarang dipanggil Daddy, sebentar lagi kan aku juga menjadi Daddy," ujar Omar dengan wajah sumringah.
Ia menatap Anna dengan penuh cinta kembali menyentuh perut istrinya itu yang semakin tampak membesar.
"Aku suka kalau Danil memanggilku Daddy" lanjutnya lagi sambil meraih Danil ke atas pangkuannya. Anak itu sedang berjalan mencari bola karetnya yang sedang menggelinding ke arah kaki Omar.
"Daddy, Boll," ujar Danil sembari menggapai-gapaikan tangannya pada bola karetnya di bawah meja.
"Ini sayang," ujar Anna yang mengambil bola itu dibawah meja.
"Aaaakh," tiba-tiba Anna berteriak keras karena perutnya ia rasakan kontraksi hebat.
"Aaaakh Omar, ada tarikan keras di perut bagian bawahku, ya Allah ini sakit sekali." Anna berteriak kesakitan.
"Anna, astagfirullah caramu mengambil bola itu tidak tepat sayang, Max tolong ambil Danil dulu." Omar menyerahkan anak kecil itu kepada Maksim. Ia ingin segera memeriksa keadaan perut istrinya.
"Danil kemari sama uncle," Maksim segera meraih Danil dan membawanya keluar taman untuk bermain bola. Masalah kesehatan Anna adalah urusan dokter sekaligus suaminya itu.
Maryam ikut membantu Anna untuk segera berbaring di atas sofa empuk di dalam ruangan itu.
"Berbaring pelan-pelan Anna, saat perut sudah sangat besar seperti ini kita harus selalu berhati-hati. Terkadang kontraksi bisa datang secara tiba-tiba." ujar Maryam yang sudah pernah mengalami masa-masa seperti ini.
"Luruskan kakimu Anna," ujar Omar dan meminta istrinya itu untuk santai.
"Apa masih sakit sayang?" tanya sang dokter sekaligus suami dari Anna Peminov itu.
"Sudah tidak lagi, cuma aku hanya ingin buang air Omar, ada sesuatu yang menekan terus dibagian bawah sini." jawab Anna sembari menunjuk bagian bawah perutnya.
"Bangunlah pelan-pelan dalam posisi miring, trus aku akan mengantarmu ke kamar kecil." Anna mengikuti instruksi suaminya. Ia pun bangun dan melangkah ke kamar kecil bersama suaminya.
Maryam tersenyum melihat pasangan itu. Dalam hati ia bersyukur mempunyai anggota keluarga yang sangat saling menyayangi diantara pasangan masing-masing.
"Dimana kak Omar dan Anna?" tanya Albert yang baru saja tiba dari ruang kerja di rumah itu. Ia baru saja membahas pekerjaan dengan Alex di tempat itu.
"Kak Omar sedang bersama istrinya, memangnya ada apa?" Maryam menatap adik iparnya itu dengan pandangan penuh tanya.
"Ah tidak, aku hanya ingin meminta obat untuk Reisya agar istriku itu mau lagi mencium aromaku," jawab Albert dengan wajah sedih.
"Hahahaha, memangnya ada obat untuk itu, Al?" Maryam menutup mulutnya tertawa.
"Sejak Reisya tahu dirinya hamil, ia begitu membenci aromaku Maryam, aku bisa gila kalau seperti ini terus." Albert mendengus kesal sekaligus sedih.
"Sabar Al, itu hanya pengaruh syndrome kehamilan saja, sebentar lagi pasti akan berubah dan aku pastikan kamu akan kewalahan jika Reisya kembali normal." ujar Maryam menghibur. Albert hanya tersenyum kecut.
"Sampai kapan? aku sudah lelah harus menahan diriku." Albert meraup wajahnya kasar, kemudian melanjutkan,
"Lihat, ia bahkan lebih rindu pada Aisyah daripada diriku," sekali lagi Maryam menutup mulutnya menahan tawa.
"Dasar laki-laki!"
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍